Panduan dan Tips Praktis Edukasi Dunia Anak agar lebih imajinatif, cerdas dan kreatif bersama Mind Mapping, Glenn Doman, Multiple Intellegence, Brain Games, Memory, Dongeng, Cerita, Puisi, Gambar, Kartun Lucu, dan lainnya.

Kumpulan Game Kreatif, Brain Games, Brain Test

Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu

Kisah Minggu Ini : "Bunga Cantik untuk Ibu"

Assalamualaikum wr wb, salam cedas kreatif.

Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.

Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya.

Menjelang malam hari, saat sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya berdiri diam di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan berdiri di situ," kata sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa kasar caranya berbicara tadi.

Ketika sang ibu berbaring di tempat tidur, suara hatinya berbicara, "Ketika berhadapan dengan seorang yang tak dikenal, kau bersikap sangat santun. Tapi kau malah memperlakukan anak yang kaucintai dengan kasar. Coba kau lihat lantai dapurmu, akan kautemukan serangkai bunga di dekat pintu. Itu bunga yang dibawakan anakmu untukmu. Dia memetiknya sendiri bunga yang berwarna-warni cerah itu. Anakmu berdiri diam di dekatmu agar tidak merusak kejutannya, dan kau tak pernah melihat airmatanya."

Dengan segera sang Ibu menuju dapur dan di lantai masih tergeletak bunga berwarna merah muda, kuning, dan biru. Saat itu, sang Ibu merasa sangat menyesal. Airmatanya mulai mengalir. Lalu diam-diam, ia masuk ke kamar sang anak dan dengan perlahan duduk di tepi tempat tidurnya. "Bangun sebentar, anakku," kata sang Ibu. "Bunga ini kau petik untuk Ibu?"

Sang anak tersenyum meski matanya masih terlihat mengantuk, "Aku menemukannya, di dekat pepohonan. Aku petik karena bunganya cantik, sama seperti Ibu. Aku tahu Ibu pasti menyukainya, terutama yang biru."

Mendengar jawaban itu, sang Ibu semakin merasa bersalah, "Anakku, maafkan Ibu karena Ibu sudah kasar padamu tadi. Seharusnya aku tak meneriakimu seperti itu." Sang anak menjawab, "Oh, Ibu, nggak apa-apa, kok. Aku tetap sayang pada Ibu."

"Ibu juga sayang padamu. Dan aku memang suka bunga-bunga ini, terutama yang biru."

Tanpa kita sadari, cerita di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita bisa bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang baru kita kenal sekalipun, namun semua itu langsung berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang dekat kita.

Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, agar ke depannya kita bisa lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui.

Semoga bermanfaat, selamat berlibur :)

Penulis : Tim AndrieWongso
baca selengkapnya- Kisah Minggu Ini : "Bunga Cantik untuk Ibu"

Setangkai Mawar Merah Untuk Ibu

Seorang pemuda berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu.

Pemuda itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima
ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pemuda itu tersenyum dan berkata. "Ayo ikut. aku akan membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya,"Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum ... dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pemuda itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya, la mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
baca selengkapnya- Setangkai Mawar Merah Untuk Ibu

Rabu

Kisah Anak Yang Sholeh

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sahabat, ini ada cerita yang ditulis oleh kak Firmansyah yang isi ceritanya luar biasa. Langsung aja ke ceritanya ya:

Di suatu hari, ada seorang anak yang bernama indra dia berusia 8 tahun, Ia seorang anak yatim...ia tinggal bersama ibu nya yg bernama rina… kehidupan Ibu tersebut begitu miskin,penghasilan sehari-hari ia dapat dari memulung barang2 bekas…penghasilan dari memulung barang-barang bekas tidak seberapa...paling ia dapat,2 ribu sampai dengan 5 ribu rupiah,paling besar dia mendapat 10 ribu rupiah...jangankan biaya buat menyekolahkan indra,,,untuk biaya kehidupan sehari-hari saja sulit...dia tinggal di rumah yang sudah roboh,yang terbuat dari kayu...pokonya rumah itu tidak layak untuk di pakai tmpat tinggal, karena tidak ada lg tempat tinggal...mereka terpaksa tinggal di sana.

Pada suatu hari indra bertanya kapada ibunya…

Indra: ”ibu, Allah itu katanya baik ya bu, katanya Allah itu maha pengasih dan penyayang ya bu,,?”

Rina:”iya nak,Allah itu baik,maha pengasih dan maha penyayang,knp engkau bertanya seperti itu nak?”

Indra:”ia bu,tp indra bingung… !!!”

Rina:”Lho…bingung kenapa nak?...

Indra:”ia bu,katanya Allah maha pengasih dan penyayang,tp indra selalu berdoa supaya ibu mempunyai rizky banyak,supaya ibu bisa menyekolahkan indra,tp Allah tidak mengabulkan aja ya bu?..”

Sambil senyum si ibu menjawab pertanyaan dr indra…

Rina:”bukan Allah tidak mengabulkan nak,tapi belum di kabulkan,tp insya Allah,doa kamu disuatu saat nanti pasti Allah akan kabulkan nak,tapi tidak sekarang.mungkin Allah menguji kita dengan cara begini nak,supaya kita selalu bersyukur dan selalu mengingat akan nikmatnya yang telah Allah berikan nak…!!!

Indra:”owh begitu ya bu?..”

Rina:”ia nak,bersabarlah ya nak?..(Sambil mata berkaca-kaca menahan rasa haru di dalam hati)
Indra:”ia bu,,, !!!. bu perut indra lapar…

Rina:Sebentar nak,ibu cari makanan dulu keluar ya nak,indra tunggu di sini ya,jangan kemana-mana (akhirnya si ibu tidak bisa menahan lagi,dan air mata pun keluar membasahi pipinya).

Indra :ia bu,,,hati-hati ya bu,dan jangan lupa berdoa dulu kepada Allah,insya Allah pasti Allah akan menolong ibu.Dan di sini indra pun akan selalu mendoakan ibu,supaya ibu bisa kembali dengan selamat…

Rina:ia,nak..ibu pun pasti akan selalu mendoakan engkau nak (si ibu menangis semakin kuat,dan suasana pun semakin haru)
Dan rina pun pergi keluar rumah untuk mencari makanan untuk indra,dengan perasaan gelisah karena meninggalkan indra sendirian di rumah,di campur perasaan bingung,,karena ia harus mencari kmana makanan,sedangkan uang sepeser pun ia tidak punya.

Sambil berjalan ia meneteskan air mata,dan ada seorang pemuda yang pemuda melihat rina berjalan sambil menangis.dan pemuda itu pun menghampiri rina dan bertanya.

Pemuda:”kenapa engkau menangis bu?”

Rina :”saya sedang bingung tuan..!!!”

Pemuda:”Lho,,,Bingung knp bu?...”

Rina:”saya bingung,,,anak saya sedang kelaparan,dan saya bingung harus mencari makan kemana?...sedangkan uang sepeser pun aq tidak punya…!!!

Pemuda:”owh,jadi itu masalahnya…? Ya udah ambil saja uang ini,dan belikan makanan untuk anak mu (sambil mengeluarkan uang RP 100.000)

Rina:”tidak tuan,maaf saya tidak bisa terima,saya masih bias cari sendiri kok tuan”.

Pemuda:”ayolah bu,ambil saja ini…demi anak mu..kasiankan anakmu lagi kelaparan…!!!
Dengan berat hati rina menerima pemberian pemuda itu karena keadaan terdesak..

Rina:”Terimaksih banyak tuan,semoga Allah membalas kebaikan tuan kepada saya”.
Pemuda:”amin,,,”

Dan akhirnya rina pergi ke warung nasi untuk membeli makanan untuk indra..setelah membeli makanan dan rina pun pulang dengan gembiranya,karena rina telah mendapatkan makanan untuk indra.setelah sesampainya di rumah,

Rina: ”Assalamu,alaikum, Indra…alhamdulillah kita mendapatkan makanan
Rina melihat Indra sedang tergeletak di lantai,dengan keadaan pucat,
Rina: ”Astaghfirllah Indra,,km kenapa?...(dengan perasaan panik dan meneteskan air mata”

Indra :”Tidak apa bu, Indra baik-baik saja (dengan nada melemah).alhmdulillah, Allah doa mengabulkan doa indra bu,ternyata memang benar, Allah maha pengasih lagi Allha Maha Penyayang, buktinya ibu bisa datang dengan membawa makanan.”

Rina :”ia nak(ibu menangis semakin kencang)"

Indra:”ibu kenapa menangis?.. bu tadi Indra bermimpi bertemu dengan ayah, lalu ayah mengajak indra jalan-jalan di tempat yang indah

Rina:”(Semakin tidak bisa menahan tangis)?”

Indra:”bu jaga diri ibu baik-baik iya ...,Indra mau pergi jalan-jalan dulu sama ayah. Asyhadu allaa illa ha ill Allah. Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah…

Dan akhirnya Indra pun berpulang menemui sang khalik…dan ibu nya pun menangis dan merelakan kepergian Indra…

Semoga cerita ini bisa memberi manfaat, amin.
Wassalam.
baca selengkapnya- Kisah Anak Yang Sholeh

Sabtu

"Belajar Mengasihi Dari Malaikat Kecil"



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Belajar memang tidak pandang usia, belajar juga bisa di mana saja dan kapan saja. Salah satunya dari cerita berikut ini:


Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India/curd rice).

Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata, “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta.”

Agak ragu sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?” Aku menjawab, “Oh…pasti, sayang.”

Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah?”

“Ya pasti!” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang mahal kok.” Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hati aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu.

Istriku spontan berkata, “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin.” Juga ibuku menggerutu jangan-jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.” Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “Tidak ada yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah…kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.”

Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apa pun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India zaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kamu sudah gila?” “Tidak,” jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak.

Aku berpikir mungkin”botak” model zaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “Anak anda, Sindu benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu.

“Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemotherapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis, “Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.”


Semoga cerita ini menginspirasi kita semua, wassalam

Sumber: kaskus.us
baca selengkapnya- "Belajar Mengasihi Dari Malaikat Kecil"

Belajar "Cinta Dengan Ikhlas" Dari Bu Yan (Siti Fauzanah)

Assalamualikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sejak ditayangkan dalam salah satu program Metro TV yaitu Kick Andy Hope, kita menjadi lebih mengenal Siti Fauzanah, sosok yang selalu membuat kagum anak didiknya dan semua orang. Beliau di usia senjanya dan dengan kesederhanaan hidup, tetap mendedikasikan dirinya untuk membantu sesama.

Pengabdiam penuh kecintaan dan keikhlasan beliau dalam menularkan ilmu telah membuahkan hasil. Ini dibuktikan beberapa anak didiknya ada yang menjadi juara olimpiade matematika baik tingkat kabupaten maupun dunia.

Ibu Siti Fauzanah adalah sosok guru yang penuh cinta dan ikhlas mengabdi untuk mengajarkan mata pelajaran yang sangat digemarinya, matematika. Pengabdian penuh cinta dan ihlas ini dibuktikan dengan menjadi guru honorer di almamater yang pernah di asuhnya selama bertahun tahun, SMP Negeri 1 Parakan Temanggung setelah pensiun dari guru selama bertahun tahun di SMP tersebut.
SMP Negeri 1 Parakan Temanggung

Saat ini, bu Yan masih mengajar lo

Sampai saat inipun, Bu Yan (panggilan akrab anak didiknya) juga menerima les di rumah kontrakan beliau di dusun Ngempon Lor, Parakan - Temanggung. Di rumah kontrakan sederhana yang beliau sebut sebagai Puskesmas Matematika, Bu Yan menerima banyak siswa untuk, mendapatkan pelajaran tambahan. Bagi Bu Yan siswa yang kurang memahami dalam bidang study matematika disebutnya sakit, jadi perlu dibawa ke puskesmas. Kadang dalam menerima “pasien” Bu Yan tidak meminta imbalan buat pasien yang kurang mampu. Bagi yang mampu beliau hanya mematok 50 ribu rupiah perbulan untuk 8 kali pertemuan.

di rumah kontrakan sederhana inilah bu Yan mengajar anak didiknya

Jiwa sosial Bu Yan ini memang sangat tinggi dan sepatutnyalah negeri ini berbangga ada seorang ibu guru dengan gaji yang tidak seberapa mampu membiayai beberapa murid kurang mampu agar mereka tetap bersekolah. Salah satu dari mereka adalah seorang dosen lulusan S-2 UGM , Nanang Susyanto.

” Andai saya tak bertemu Bu Yan, mungkin saya sekarang jadi kuli batu di kampung ” begitu kata Nanang Susyanto, yang kini menjadi dosen di almamaternya.

Di usia senjanya kini tak pernah tampak raut kelelahan pada wajah beliau. Setiap bertemu masih ada senyum sumringah beliau yang menunjukkan ketulusannya menjalani hidup. Dan dari Bu Yan, saya bisa banyak belajar bahwa membantu itu tak harus kaya, dengan kesederhanaan dan keterbatasan, beliau tetap membantu sesama.

Bu Yan bersama anak didiknya yang telah menjadi dosen dan juara olimpiade

Sungguh luar biasa! Ya, bu Yan adalah sosok pejuang, guru sejati dan juga insan yang berbudi luhur. Semoga pengabdian dan dedikasi yang penuh cinta dan ikhlas dari bu Yan dapat menginspirasi kita semua, amin.

Wassalam,
baca selengkapnya- Belajar "Cinta Dengan Ikhlas" Dari Bu Yan (Siti Fauzanah)

Kamis

Mereka Mencontoh Kita


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Suatu ketika, ada seorang kakek tinggal dengan anaknya. Selain itu,tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orang tua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.”

Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orang tua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Wassalam.

Sumber:http://ekojuli.wordpress.com/2011/02/09/parenting-mereka-mencontoh-kita/
baca selengkapnya- Mereka Mencontoh Kita

Senin

Anak Jalanan juga Mau Sekolah!


Memperingati Hari Pendidikan 2 Mei 2011, hari ini.

Seorang bocah berjalan dengan langkah gontai di lampu merah Simpang Siur, Kuta. Tiap mobil yang datang dari arah Sanur ini ia dekati. Tangannya menengadah minta belas kasihan. Ada yang memberikan uang, ada yang tidak. Raut wajah bocah itu datar. Tak ada kesan sumringah saat diberikan atau mesem jika tak diberikan.

“Kamu tidak sekolah?” tanya seorang pengemudi saat si bocah itu mendekati mobilnya. Jika disesuaikan dengan waktu, seharusnya bocah yang usianya sekitar 12 tahun ini bersekolah di SD. Si bocah menggelengkan kepala. Tak ada kata-kata yang dikeluarkan. Ia hanya mengandalkan gelengan kepala untuk menegaskan dirinya memang tak bersekolah.

Ketika ditanya dimana orangtuanya, ia juga menggeleng. Seolah tahu akan ditanya-tanya lagi, ia memilih meninggalkan mobil dan mencari mobil lain yang bersedia memberikan sedekah. Itu hanya potret kecil, ternyata di Bali ada anak jalanan yang tak bersekolah.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali A.A. Anom Wartawan mengatakan, jumlah anak jalanan riil yang tercatat 44 orang. “Tetapi, mereka ini mobilitasnya tinggi. Kadang di lokasi A, besoknya di lokasi B. Jadi ada kemungkinan jumlahnya lebih dari itu,” tandasnya.

Anak-anak jalanan ini memang perlu mendapat perhatian. Apalagi jika usia mereka usia sekolah. Kalau ini dibiarkan, mereka tidak akan pernah mengenyam dunia pendidikan. “Kami akui saat ini belum punya program untuk memberikan pendidikan kepada anak jalanan ini,” kata mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja Bali ini.

Walaupun belum ada program dari pemerintah, ternyata ada lembaga sosial di Bali yang peduli dengan pendidikan anak-anak jalanan. Lembaga bernama Yayasan Peduli Kasih Anak (YKPA).
“Kami ingin memberi kontribusi positif dalam mengatasi masalah-masalah sosial dengan mendirikan yayasan ini. Kami ingin anak jalanan juga mendapat pendidikan. Ternyata, memang mereka mau sekolah. Selama ini kendalanya, mereka disuruh berkeliaran atau menjadi pengemis untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Ada juga yang dipaksa orangtuanya untuk mengemis. Ketika disekolahkan mereka malah senang.” ungkap Putu Etiartini, ketua YKPA.

Perempuan asal Tabanan ini mengatakan pihaknya menampung 21 anak jalanan. Mereka disekolahkan, diberikan keterampilan agar punya modal untuk mengarungi kehidupan dan bisa hidup layak. “Dulu kami pernah buat sekolah pantai. Kami lakukan di daerah Legian. Anak-anak jalanan yang ada di Kuta dan Legian kami kumpulkan lalu mereka kita ajak belajar bersama di pantai. Belajar membaca, menulis, dan berhitung. Tetapi, sekarang sudah tidak jalan lagi. Kami kesulitan mencari lokasi,” tandasnya.

Dua anak jalanan yang ditampung di YKPA adalah Jeklin (8) dan Pika (12). Jeklin berasal dari Pedahan, Karangasem. Dulu ia menggelandang di pantai Kuta sembari menjual gelang. “Saya cuma ikut-ikutan saja, diajak teman-teman. Orangtua juga jualan. Lalu bertemu dengan pengurus YKPA. Saya diajak ke yayasan, dikasi makan bahkan disekolahkan di SD 3 Padangsambian,” ujar siswi kelas 1 yang punya prestasi sebagai juara 2 di kelasnya. Di yayasan, Jeklin juga mendapat keterampilan membuat kartu nama dan boneka.

Pengalaman Pika lain lagi. Sedari kecil ia mengalami cacat di kaki kanannya hingga membuatnya sulit berjalan. Ia kerap digendong ayahnya untuk berkeliling mencari nafkah. Dalam satu hari, mereka bisa mengumpulkan uang Rp 40 ribu. “Paling apes kalau ditangkap hansip. Tetapi, kami tidak kapok, Setelah dilepaskan, kami mengemis lagi. Pernah sampai pukul 04.00 kami keliling,” ujarnya mengenang masa lalunya.

Nasib Pika beruntung. Ia bertemu YKPA dan diajak tinggal di rumah singgah milik yayasan. Bahkan Pika diajak berobat untuk mengobati kakinya. Tercatat empat kali ia menjalani operasi agar kondisinya membaik.

“Saya bersyukur bisa mendapatkan tempat yang layak dan memiliki banyak teman. Saya tidak mau mengemis lagi. Saya ingin belajar agar menjadi orang sukses,” kata Pika yang memilih ikut program Kejar Paket dan sedang belajar bermain violin. –wah.

---------------------------------------
sumber: http://pelangitujuh.wordpress.com/2010/12/11/anak-jalanan-juga-mau-sekolah/
baca selengkapnya- Anak Jalanan juga Mau Sekolah!

Mama, Kok Sibuk Terus, Sih?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Mama, kok sibuk terus, sih? Memangnya kerja enggak ada liburnya?” protes Cindy Fahira Pohan (4 tahun) kepada ibunya, Iramawati Tambunan (38). Ya, boleh-boleh saja Anda sibuk berkarir di luar rumah, karena tujuan bekerja pasti untuk anak juga. Namun, anak pun menginginkan Anda memiliki waktu luang baginya. Jadi, Anda harus pintar me-manage waktu untuk memberikan perhatian kepadanya.

Kisah wanita yang berdomisili di Jalan SM Raja ini banyak juga dialami ibu-ibu di era zaman sekarang. Kedua orangtua terpaksa harus bekerja demi pemenuhan masa depan anaknya. Ujung-ujungnya, anak terpaksa diasuh pembantu atau dititip ke keluarga. Namun tanpa disadari, kebutuhan anak tak hanya kebutuhan fisik. Hal ini seringkali tidak disadari para orangtua yang sibuk berkarier. Mereka berpikir, melimpahi anak dengan harta benda sudah cukup.
Padahal tidak, kasih sayang dan perhatian orangtua paling penting untuk anak. Bentuk perhatian tidak melulu harus hadiah, tetapi dengan menemaninya belajar ataupun bermain, sudah cukup membuat anak senang dan bahagia.

Memang, demi tuntutan ekonomi, Iramawati Tambunan dan suaminya, Rifai Pohan (43), terpaksa harus bekerja. Anak mereka, Cindy Fahira Pohan, terpaksa diasuh kakak dari Iramawati, Suliarti Tambunan. Hampir tiap hari anaknya menghabiskan waktu bersama keluarga kakaknya. “Saya terpaksa harus bekerja untuk membantu ekonomi dan masa depan anak saya. Memang ada yang harus dikorbankan, anak saya jadi kurang perhatian orangtuanya. Saya hanya memiliki waktu di akhir pekan. Nak saya juga tidak rewel saat diasuh kakak saya,” ujar wanita yang akrab disapa Ira ini.

Begitu juga yang dikatakan Ali Torgis Pasaribu, suami kakaknya yang selama ini mengasuh anak Ira. Karena saban hari Cindy (anak Ira, Red) berada dalam asuhan mereka, Cindy pun sangat dekat dengan mereka. “Cindy memanggil saya dengan sebutan ayah. Padahal saya bukan ayahnya, tapi Om-nya. Mungkin ini karena Cindy tiap hari bersama kami kalau orangtuanya sibuk bekerja,” kata Ali.

Kata Ali, Cindy bukanlah tipe anak yang mengesalkan meski kadang rewel. Rewel bukan berarti cengeng. “Cindy anak cerdas. Cindy selalu banyak bertanya karena keingintahuannya. Meski Cindy kami asuh siang hari, tapi Cindy tidak melupakan siapa orangtuanya. Cindy anak pengertian karena dia tahu kalau mama-papanya bekerja untuk cari duit,” ujar Ali.

Menurut Ali, Cindy bukan anak yang gampang untuk bersosialisasi dengan orang lain. Cindy tak gampang dekat dengan orang lain yang belum dikenalnya. Tapi kalau sudah kenal, Cindy akan menjadi anak yang ramah dengan selalu banyak pertanyaan,” tambahnya.

Apalagi saat ini, kata Ali, Cindy sudah memiliki kesibukan bersekolah. Cindy baru duduk di bangku sekolah Taman Kanan-kanan (TK) Harapan Mandiri, Jalan Brig Jend Katamso Medan. “Setiap hari Cindy saya antar ke sekolah pada pukul 07.30 WIB. Cindy merasa senang dengan kegiatan barunya ini,” bilang Ali.

Dikatakan Ali, meski kedua orangtua Cindy tidak dapat sepenuhnya memberikan perhatian kepada Cindy, tapi dirinya tetap selalu mengingatkan kepada Cindy untuk mengerti keadaan orangtuanya, harus menyayangi orangtuanya dan tidak boleh menjadi anak yang manja. “Cindy justru sayang sama orangtuanya. Kalau lagi libur akhir pekan bersama orangtuanya, Cindy malah nyombong sama kami,” pungkas Ali sambil tersenyum. (del)

Sediakan Waktu Luang Untuk Anak
----------------------------------------
Ternyata, anak pun punya harapan kepada orangtua. Anak menginginkan orangtua punya waktu luang untuknya, yang mau berbagi, dan sebagainya. Apa lagi keinginan anak yang perlu diketahui orangtua?

Waktu luang Anda sangat dibutuhkan anak. Anda harus sering menelepon anak sesibuk apapun. Pada akhir pekan, harus menetapkan hari libur yang tak boleh lagi diusik dengan pekerjaan. Kemudian, orangtua jangan cekcok di depan anak. Sebab, jiwanya akan tertekan dan ia akan bingung, siapa yang harus dibela dan disalahkan. Ayahnya-kah atau ibunya-kah?

Anak juga mengingkan agar orangtuanya ramah terhadap teman-teman anak yang berkunjung. Lalu, anak menginginkan agar orangtua tak ingkar janji. Sebaiknya, jangan pernah memberikan janji pada anak, bila tak mau dicap anak sebagai orangtua pembohong?

Anak juga menginginkan orangtuanya pintar dan cekatan sehingga mampu menjawab setiap pertanyaan. Sebagai anak, mereka juga menginginkan orangtua tidak saja menjadi tempat berlindung, melainkan juga bisa diajak berbagi alias curhat. Inilah yang terkadang tidak disadari para orangtua terhadap keinginan anak.

Sulit membaur dalam kehidupan anak, membuat jarak, dan tidak mau tahu masalah yang dihadapi anak. Mulai sekarang, cobalah menata kembali hubungan Anda dan anak agar lebih akrab. Sehingga posisi Anda tak hanya sebagai orang tua, tetapi juga bisa sebagai teman.

Seringkali, orangtua tidak menyadari sikapnya, dan mengeluh di depan anak. Keluhan Anda pun bermacam-macam, dari masalah keluarga sampai urusan pekerjaan yang membuat bingung si kecil. Mau tidak mau, ini melibatkan anak untuk turut berpikir dalam persoalan yang Anda hadapi. Padahal, itu tidak perlu. Kenapa harus berbagi masalah dengan anak? Apa yang dapat Anda harapkan dari seorang anak yang masih kecil dan pola pikirnya belum luas? Kalaupun anak memberikan pendapat, pasti Anda tidak puas karena tidak sesuai dengan yang Anda harapkan. Jadi, bicarakan masalah Anda dengan pasangan ataupun orang yang lebih tua dan memahami masalah tersebut. (net/jppn)


Semoga bermanfaat, wassalam

Artikel ini dari [subberita]:http://www.hariansumutpos.com/arsip/?p=12305
baca selengkapnya- Mama, Kok Sibuk Terus, Sih?

Minggu

Sayangi Mereka, Mereka Juga Saudara Kita


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Mereka jarang tersenyum bukan karena mereka enggan untuk tersenyum. Tapi hidup dan waktu seolah menuntut mereka untuk menghabiskan sebagian besar kehidupan untuk bekerja keras sehingga terkadang mereka lupa bahwa ada waktu untuk tersenyum. Seolah dunia begitu keras menuntut mereka hingga mereka lupa untuk tertawa. Lihatlah teman….bahkan mereka tidak punya waktu untuk tersenyum. Apa mereka lupa cara tersenyum? Atau karena mereka tak pernah menerima senyuman, makanya mereka tak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum?

Terkadang aku melihat dunia memang terlalu keras pada mereka. Bukan dunia sebagai objek, tapi dunia dengan manusianya. Bagaimana jika sesekali kita tidak menghabiskan waktu di tempat-tempat yang indah? Kenapa kita tak meluangkan waktu sejenak untuk memperhatikan mereka? Jika tak mau atau tak mampu membantu mereka dengan materi, tidak ada salahnya juga kita menghargai mereka dengan sebuah senyuman ikhlas dari wajah kita. Bukankah mereka juga saudara kita???


Teman,,, andai kita punya waktu untuk memperhatikan kehidupan mereka yang begitu sederhana. Maka kita akan menemukan kehidupan yang begitu indah. Di sana kita sadar betapa lebih beruntungnya kita….
Teman… tidak ada salahnya sesekali kita berjalan kaki sendirian di tengah keramaian sambil memperhatikan lingkungan kita. Cobalah luangkan waktu sedikit saja untuk itu. Sekali lagi, jika tak dapat memberi pada mereka, paling tidak kita bisa sadar dan lebih memahami lagi hidup kita.

Aku bangga pada mereka. Mereka hebat. Dengan kehidupan yang begitu keras, mereka tetap bisa menjalaninya. Meski tak tahu dengan apa hidup ini akan dilanjutkan esok hari dan dengan apa perut mereka akan diisi, mereka tetap menanti datangnya mentari pagi. Mereka bilang kalau mereka percaya bahwa selama mereka masih hidup, maka rezeki dari Allah akan tetap ada untuk mereka,rezeki akan tetap ada selama mereka masih percaya dan mau berusaha serta berdo’a.

Mereka dengan kesederhaannya selalu bahagia dan bersyukur ketika mendapatkan sejumlah uang. Jika orang kaya yang menerima uang sejumlah itu, mungkin mereka menganggap uang itu tak berarti apa-apa. Tapi mereka tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca ketika mendapatkannya. Mengapa harus ada perbedaan seperti itu?

Jika si miskin datang ke rumah si kaya, sangat jarang atau bahkan tak akan ada sambutan hangat bagi mereka. Tapi, ketika si kaya yang datang ke rumah si miskin, maka si miskin terlihat begitu menghargai. Seolah mereka didatangi oleh tamu agung di rumahnya. Sekali lagi, mengapa harus ada perbedaan seperti itu?

Jika suatu ketika si miskin dengan pakaiannya yang tampak lusuh dan kotor terjatuh, maka si kaya tak akan menghiraukan karena mungkin bagi mereka tidak akan menimbulkan manfaat apa-apa bagi dirinya. Yang ada paling hanya akan mengotori pakaiannya, mungkin itulah yang ada di fikirannya. Tapi, si miskin masih tetap berbeda dengan si kaya. Ketika keadaan berbalik, maka si miskin akan tetap membantu. Si miskin begitu penghiba. Hati mereka begitu lembut, sehingga tak mampu membiarkan orang lain dalam kesusahan karena mereka tahu bagaimana rasanya kesusahan itu.


Ya Rabb….saudara-saudaraku itu mungkin di dunia tidak seberuntung yang lainnya. Mereka tidak dapat memiliki apa-apa yang mereka impikan. Tapi semoga mereka tetap bahagia dan penuh rasa syukur pada_Mu Rabb..

Ya Rabb…. Sayangi saudara-saudaraku itu. Jangan biarkan mereka jauh dari_Mu. Ingatkan mereka selalu bahwa ada Engkau yang tetap menyayangi dan menjaga mereka. Dan berikanlah selalu semangat bagi mereka.

Ya Rabb… Berikan hati yang lembut pada mereka. Jangan biarkan kerasnya perlakuan yang mereka dapat menjadikan hati mereka ikut keras. Tapi jadikan kekerasan yang mereka terima itu sebagai bahan untuk lebih membuat hati mereka jernih melihat segala sesuatu.
Ya Rabb…Jangan biarkan rasa rendah diri melekat pada diri mereka akibat cemooh yang mereka terima. Tapi biarkan rasa rendah hati bersemayam pada diri mereka. Jagalah mereka agar tetap yakin akan kuasa_Mu dan agar mereka tetap beribadah kepada_Mu sehingga mereka dapat bertemu dengan kebahagiaan yang hakiki bersama_Mu.

Mungkin benar bahwa aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya seorang anak yang bahkan sampai saat ini masih bergantung pada orang tuaku. Lalu apa yang dapat aku lakukan??? Ya…kalian boleh mengatakan bahwa aku tak bisa apa-apa.

Tapi mereka tetap saudaraku. Dan sekarang, aku hanya bisa berdo’a untuk mereka semua, di manapun mereka berada. Meski tak tahu apa-apa tentang mereka, yang jelas, satu hal yang sangat aku tahu bahwa MEREKA ADALAH SAUDARAKU……

Maaf jika terlintas pemikiran bahwa tampaknya aku terlihat lebih berpihak pada si miskin. Tapi, jujur, bagaimana pun juga aku memang lebih menyayangi si miskin. Namun, bukan berarti pula aku membenci si kaya karena aku juga tahu bahwa Allah tidak pernah membenci seseorang karena dia kaya atau miskin. Hanya saja, tulisan ini ku buat ketika aku melihat apa yang ku ceritakan saat ini. Dan bukan berarti hal ini harus terjadi selamanya.
Yang jelas, aku sangat berharap, kaya atau miskinkah, yang terpenting adalah bagaimana kita menghargai amanah yang diberikan kepada kita…

MAAf jika aku terlihat sok tahu. Bukan maksud mengurui karena aku sadar bahwa tak pantas diri ini menjadi seorang guru. Jika menemukan kebenaran, maka ambillah. Tuhan selalu menginginkan hamba Nya memperoleh kebenaran karena kebenaran itu niscaya hanya dari Nya. Tapi, jika hanya ada kesalahan dan keburukan dari tiap untaian kata, mungkin itu karena si penulis ini yang tak mengerti apa-apa atau masih terlalu bodoh memaknai kehidupan… (vivi ardi)

Semoga kita makin peduli, InsyaAllah.
Wassalam

sumber:http://www.resensi.net/sayangi-mereka-mereka-saudara-kita/2010/11/
baca selengkapnya- Sayangi Mereka, Mereka Juga Saudara Kita

Sabtu

Kisah Pengembara Dan Si Pelit


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Adik² ... malam liburan Minggu ini, apa sudah punya dongeng/cerita atau belum? Nah, kalau belum, kakak punya dongeng yang menarik yaitu "Kisah Pengembara dan Si Pelit".

Ini kisah dongengnya:

Seorang yang sangat pelit mengubur emasnya secara diam-diam di tempat yang dirahasiakannya di tamannya. Setiap hari dia pergi ke tempat dimana dia mengubur emasnya, menggalinya dan menghitungnya kembali satu-persatu untuk memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang.

Dia sangat sering melakukan hal itu sehingga seorang pencuri yang mengawasinya, dapat menebak apa yang disembunyikan oleh si Pelit itu dan suatu malam, dengan diam-diam pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.

Ketika si Pelit menyadari kehilangan hartanya, dia menjadi sangat sedih dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil menarik-narik rambutnya.

Satu orang pengembara kebetulan lewat di tempat itu mendengarnya menangis dan bertanya apa saja yang terjadi.

"Emasku! oh.. emasku!" kata si Pelit, "seseorang telah merampok saya!"

"Emasmu! di dalam lubang itu? Mengapa kamu menyimpannya disana? Mengapa emas tersebut tidak kamu simpan di dalam rumah dimana kamu dapat dengan mudah mengambilnya saat kamu ingin membeli sesuatu?"

"Membeli sesuatu?" teriak si Pelit dengan marah. "Saya tidak akan membeli sesuatu dengan emas itu. Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk berbelanja sesuatu dengan emas itu." teriaknya lagi dengan marah.

Pengembara itu kemudian mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam lubang harta karun yang telah kosong itu.

"Kalau begitu," katanya lagi, "tutup dan kuburkan batu itu, nilainya sama dengan hartamu yang telah hilang!"

----------------------------

Pesan dari kisah ini adalah:
"Harta yang kita miliki sama nilainya dengan kegunaan harta tersebut."

Selamat berlibur ya ... wassalam.

sumber: http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Si-Pelit-58
baca selengkapnya- Kisah Pengembara Dan Si Pelit

Minggu

Benarkah Ada Anak Nakal?

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Seperti halnya kita orang tua, anak-anak pun juga memiliki watak ganda. Kadang menyenangkan, kadang menjengkelkan. Di sebuah kantor, saya pernah melihat seorang karyawan, yang karena sebuah persoalan harus mengajak serta anaknya. Anak ini berlari-lari riang tanpa rasa takut, main teriak sana-sini, dan meskipun terganggu, orang-orang mencoba memakluminya.Puncaknya ketika anak ini, sambil berlari menabok pantat seseorang tanpa pernah menduga, bahwa pemilik pantat itu adalah atasan bapaknya.

Di sebuah kampung, ada anak yang seluruh penderitaannya gagal memancing iba, gara-gara ulahnya sendiri. Dari semua sisi, ia sebetulnya anak sengsara. Hidup cuma bersama ibunya, bapaknya telah meninggal dan ibunya menganggur pula. Tapi anak ini memiliki kemampuan ekstra dalam meludah dan ia kerap meludahi siapa saja lebih-lebih kepadaorang yang iseng menggodanya.

Seperti Anda, saya juga penyuka anak-anak, atau setidaknya bukan jenis manusia yang jahat terhadap anak. Tapi pengalaman berikut ini membingungkan saya. Ada seorang kawan yang di antara kami selalu menjaga kesopanan dalam pergaulan. Kesopanan itu pula yangsaya peragakan ketika suatu kali kamibertemu dia bersama anak kecilnya. Anak yang tampak sehat dan cerdas dan dengan gaya orang tua penyayang anak, saya menggodanya. Tapi balasannya adalah gamparan keras tepat di mata saya.

Sepintar saya bersikap ramah, semulia apapun hati saya, tamparan ini membuat mata saya merah dan berair. Membutuhkan waktu ekstra bagi saya untuk menenangkan diri, menahan malu dan masih pula harus menentramkan hati orang tua si anak yang harus tak enak hati. Si kawan ini meminta maaf dengan gegap gempita, danuntuk menenangkan hatinya, sayatetap mengoda anak ini, mencoba tertawa-tawa, mengelus-elus pantanya, tapi sebetunya yang saya lalukan adalah diam-diam mencubitnya, kerassekali, tanpa orang tuanya tahu bahwa saya telah melunaskan sakit hati ini.

Sakit hati seperti itu tentu sesuatu yang saya sesali. Menyadari bahwa ternyata saya juga seorang pendendam, bahkan terhadap anak kecil, adalah kenyataan yang membuat saya kecewa pada diri sendiri. Tapi kekecewaan serupa ternyata bisa terus saya ulangi. Kejengkelan saya terhadap anak-anak seperti godaan yang harus saya akrapi.

Misalnya terhadap anak tetangga yang ini, yang jika harus bertandang ke rumah langsung mengobrak-abrik apa saja. Repotnya, anak ini benar-benar menganggap semua orang tua di dunia ini adalah orang tuanya. Semuanya harus serba boleh, termasuk mencoret-coret tembok rumah, memreteli mainan, dan membongkari barang-barang. Jika kami menegurnya baik-baik, ia tak merasa, jika kami menghardiknya ia melawan, jika kami mencowel pantatnya, ia ganti akan memainkan cakarnya. Jika kami mendelik ia akan menggeram. Horor sekali perlawanan anak ini dan ini membuat kami malu jika harus terprovokasi.

Pendek kata habis akal kami mengadapi anak ini. Semua jenis hardikan tak mempan untuknya karena tak pernah ia tanggapi. Cara satu-satunya adalah memutuskan kata tidak bagi anak ini ketika hendakmain ke rumah. Kami putuskan untuk berceraisecara pergaulan kepadanya katimbang kami tersiksa oleh kenakalannya.

Sedih juga saya harus memutuskan ini. Betapa memang rendah mutu kesabaransaya. Dalam keadaan kecewa seperti ini saya jadi membayangkan wajah tokoh pecinta anak-anak, Kak Seto yang ramah itu, dengan rasa iri. Sungguh wajah yang penuh tawa dan kesabaran, wajah yang selalu di kepung anak-anak yang gembira dibuatnya. Ingin saya meminta nasihat Kak Seto bagaimana caranya sabar mengahadapi kenakalan anak seperti ini. Ingin saya berbagai pengalaman,apa cara Kak Seto jika pernah ditampar mukanya seperti saya itu.

Tapi sebelum saya ketemu Kak Seto, nasihat itu ternyata keburu diberikan oleh daun pintu rumah saya yang suatu hari terkunci, sementara anak kuncinya tertinggal di dalam. Kami yang tengah buru-buru itu malah melakukan kekeliruan yang tak perlu. Tapi semuanya sudahterlanjur. Anak kunci itu menggeletak didalam dan kami hanya bisa putus asa menatapnya.

Ada memang potensi pertolongan, tapi tak seberapa bentuknya, yakni cuma berupa lubang dari jendela yang kami lupa menguncinya dari dalam. Jendela ini bisa dibuka tapi karena bentuknya, ia cuma menyediakan sedikit lubangsaja. Siapa lagi yang sanggup menerobos lubang sempit ini, tak ada kecuali anak dengan potongan tubuh ekstra mungil dan seluruh kampung, hanya anak nakal itulah yang cocok mengembantugas ini.

Akhirnya anak inilah yang kami datangkan dengan segenap rasa malu. Dengan tubuhnya yang enteng gampang saja iamenelusup ke lubang ini unruk mengambilkan anak kunci untuk kami. Ia bangga sekali akan tugasnya dan tawanya itu jelas tawa seorang anak yang sama sekali tidak pernah menaruh dendam apapun kepada kami yang pernah dendam kepadanya itu.

Wassalam,
Penulis : Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
http://andriewongso.com/awartikel-125-Artikel_Tetap-Anak-anak_Nakal
baca selengkapnya- Benarkah Ada Anak Nakal?

Ibu, Aku Hanya Ingin Dipahami

Ibu,
Bukannya aku malas dan suka melamun, tapi aku lagi menyiapkan diriku menerima seluruh keindahan alam semesta. Beri aku kesempatan berdiam sejenak karena gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku bisa memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali aku menciptakan melodi yang indah agar Ibu bisa menikmatinya sambil membuatkan aku masakan yang enak.

Ibu,
Bukannya aku tak bisa menjumlah 2 + 0 + 4, tapi aku lagi melihat seekor bebek berenang di kolam yang indah dengan deretan kursi cantik di sekelilingnya. Beri aku kesempatan merekamnya di alam kesadaranku karena ingin sekali aku membuatkan Ibu sebuah kolam renang yang indah dan kita duduk bersama di kursi yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya bebek berenang.

Ibu,
Bukannya aku tak mau mendengar dan menatap mata Ibu ketika dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi aku lagi merasakan indahnya suara Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini. Beri aku kesempatan menikmatinya karena suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan agar Ibu bisa menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita bisa bernyanyi bersama dan selalu bisa kunikmati suara Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.

Ibu,
Bukannya aku tak bisa membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi aku lagi merekam taburan kata-kata agar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan. Beri aku kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, karena aku ingin menulis sebuah puisi yang indah yang spesial untuk aku persembahkan di hari ulang tahun Ibu.

Ibuku Sayang,
Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah karena aku benci atau marah. Aku hanya sedih jika cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan kolam renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah. Dan hatiku akan sangat menyesal jika tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi indah di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.


Suara Hati dari Seorang Anak yang dominan otak kanan.
Ditulis dan Dikirim oleh: Pak Muliadi Saleh
Sumber : Ayah Edi
baca selengkapnya- Ibu, Aku Hanya Ingin Dipahami

Rabu

Bunda, Tolong Mandikan Aku Sekali Saja ... Please?

Assalamualaikum wr wb,

Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.

Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please...please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.

Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.

Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".

Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.

Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.

Wassalam
cerita dari ayah Edi
baca selengkapnya- Bunda, Tolong Mandikan Aku Sekali Saja ... Please?

Jumat

Usai Sholat Ied


Usai adzan Maghrib maka takbirpun bergema di mana-mana, Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar..Laailahailallahhu Allahhuakbar..Allahuakbar walillahilham hingga menjelang sholat Ied.

Sejak pagi, aku sudah dilipat, dimasukkan ke sebuah tas yang harum sekali aromanya dan di bawa oleh seseorang dengan penuh semangat ke sebuah tanah lapang. Sesampai di sana, sudah banyak juga teman-temanku yang sudah berada di sana. Lalu akupun di dibentangkan dan di selimuti sajadah.

Namun tiba-tiba, aku merasakan sepasang kaki yang menginjakku kemudian tubuh yang mendudukiku. Tak berapa kemudian kudengan suara takbir dan alunan ayat-ayat suci yang merdu sebagai tanda sholat Ied dimulai.

Selang beberapa waktu, terdengar ucapan salam tanda sholat telah usai dan setelah itu terdengar kembali suara ceramah dari khotib. Sama juga seperti sebelumnya, suara ceramah itu kembali hening tanda sudah usai semuanya.

Namun yang aku heran, kenapa setelah semua usai ... bahkan sajadah yang menyelimutiku pun beranjak pergi bersama orang yang membawaku ke lapangan ini.
Lalu ............................
......... mereka meninggalkan aku,
......... mereka membiarkan aku
......... dan mereka tak peduli aku lagi?
......... atau lupa?

Ah, manusia memang sering lupa.
Lupa akan makna atau memang enggan memaknai ?
walau hanya untuk sekedar membawaku pergi lagi
atau menumpuknya bersama temanku yang lain
Mereka lupa atau enggan ?

Tapi tak mengapa kok, aku mengerti!
karena aku hanyalah selembar koran bekas
yang mungkin tak sebanding dengan
ketupat, opor dan sambal goreng???

Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon maaf lahir batin ... 1431H
baca selengkapnya- Usai Sholat Ied

Anak Lebih Taat kepada Bunda, Tanya Kenapa?

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Gunawan -bukan nama sebenarnya- mengeluh lantaran Bobby (5), anaknya, lebih mau mendengar kata-kata bundanya tinimbang dirinya. Bahkan ketika ia harus mengeluarkan perintah dengan nada yang lebih keras pun, Bobby tetap tak menggubrisnya, bahkan berlari mencari perlindungan ke Soffie, sang bunda.

Sebagai Ayah, Gunawan merasa 'cemburu' kepada Soffie karena tidak dipatuhi, ditaati bahkan mungkin tidak lebih dicintai oleh Bobby, buah hatinya sendiri. Haruskah Gunawan menghukum Bobby? Adakah andil Soffie yang membuat Bobby tak patuh kepada Ayahnya? Benarkah keadaan seperti ini kesalahan sepenuhnya dialamatkan kepada si kecil Bobby? Atau memang sangat wajar dan demikian adanya, bahwa anak-anak sudah sepantasnya lebih dekat dan lebih patuh kepada bunda sebab kedekatannya selama dalam kandungan, melahirkan dan menyusui.

Masalah yang dihadapi Gunawan, hanyalah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi. Tidak sedikit Ayah yang memiliki problem yang sama, dan sangat mungkin ini menjadi permasalahan bersama para Ayah di banyak tempat. Tetapi sebelum mengalamatkan telunjuk kesalahan kepada isteri atau anak-anak akibat keadaan ini, mari melihat apa yang sudah kita lakukan kepada anak-anak.

Untuk kasus Gunawan misalnya. Ia pernah didatangi Bobby saat tengah sibuk memperbaiki kendaraannya. Bobby yang sering memperhatikan Ayahnya mengutak-atik kendaraan menganggap sang Ayah adalah montir handal dan karenanya pastilah bisa pula memperbaiki mobil-mobilan kesayangannya yang rusak. Namun ketika ia meminta bantuan Ayahnya untuk memperbaiki mainannya, kekecewaan lah yang didapatinya dari kalimat, "Pergi sana ke bunda, apa kamu nggak lihat Ayah sedang sibuk." Bobby yang patah hati pun mendatangi sang bunda. Soffie mencoba memperbaiki mainan kesayangan anaknya, dan berhasil!

Boleh jadi, kerusakan mobil kesayangan Bobby bukan sesuatu yang parah. Mungkin saja hanya battery-nya yang habis dan tidak akan menyita waktu banyak untuk memperbaikinya. Pada saat Bobby mendatangi Ayahnya untuk meminta bantuan, itu lah kesempatan terbaik sang Ayah untuk berdekatan dengan anaknya, itulah saat-saat emas menunjukkan perhatian terbaik kepada anak-anak. Nampaknya Gunawan tak menyadari dan melewatkan kesempatan berharga tersebut. Persepsi Bobby pun berubah, "Bunda lebih handal."

Contoh lain ada di malam hari. Suatu kali Bobby meminta Ayahnya untuk menemani tidurnya dengan mendongeng. Lagi-lagi Bobby tak menangkap isarat, bahwa Bobby ingin mendapat perhatian lebih dari sang Ayah. "Sama bunda saja ya, Ayah lelah sekali," ujar Gunawan. Barangkali memang Bobby tak tahu kalau Ayahnya lelah setelah seharian kerja, tetapi Bobby juga seorang anak kecil yang ingin merasa memiliki Ayah. "Bobby juga punya Ayah kan? Bobby tidak hanya punya Bunda kan?" barangkali kalimat ini yang bisa menggambarkan perasaan seorang anak seperti Bobby.

Keberadaan Ayah pada saat dibutuhkan, kehadirannya ketika dinantikan, seringkali menjadi mimpi bagi anak-anak. Terutama bagi anak-anak yang orangtuanya super sibuk. Jangan heran jika Anda mendengar cerita tentang anak-anak yang lebih dekat kepada pembantunya, atau anak-anak yang setiap kali menangis justru berlari ke pelukan babby sitter dan bukan orangtuanya. Salahkah anak-anak memiliki perasaan seperti itu?

Ketika buah hati Anda tak lebih dekat kepada Anda sebagai Ayahnya, tak lebih mendengar kata-kata Anda dibanding ucapan sang Bunda, bahkan tak lebih sayang seperti yang Anda inginkan? Cobalah beri perhatian lebih kepada mereka. Anak-anak akan berlari mendekat kepada Anda, saat Anda berjalan mendekatinya. Saat Anda menciumnya di kening, mereka akan mencium Anda di kening, pipi, mulut, hidung dan dagu Anda. Ketika Anda mau mendengarkan mereka barang sedetik saja, mereka akan melakukan apa saja yang Anda inginkan. Cobalah.

Wassalam
berguru kpd Bayu Gawtama
baca selengkapnya- Anak Lebih Taat kepada Bunda, Tanya Kenapa?

Selasa

MUKJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK

Subhannallah .. LUAR BIASA kasih sayangMU, ya Allah.

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami,... aku Mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami, ....aku pengen nyanyi!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami, ....aku kepengen nyanyi!"

Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk! Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap
tajam suster itu, lalu katanya: "Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!" Suster terdiam menatap Michael dan berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya......lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring, ".....You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...." Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away." Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,.... terus Michael! "Teruskan sayang!" bisik ibunya...."The other night, dear, as I laid sleeping,I dream, I held you in my hands....." dan......Sang adikpun meregang,seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur........ "I'll always love you and make you happy, if you will only stay the same......." Sang adik kelihatan begitu tenang .... sangat tenang.

"Lagi sayang!" bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai....... lalu tertidur lelap.

Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you".

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil seperti Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.


sumber:
http://balita-anda@indoglobal.com/
baca selengkapnya- MUKJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK

Rabu

Sebuah Inspirasi dan Tauladan : Dua Puluh Ribu Rupiah dari Emak Nurdianah

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sebuah kisah inspiratif dan tauladan serta penuh pesan dan makna yang ditulis oleh Bayu Gawtama, Head of Volunteer Network and Empowerment. (06-10-2009)

Seorang ibu tua berusia diatas 70 tahun berjalan tertatih memasuki Posko Utama ACT di Jl. Adinegoro no. 31, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Minggu 4 Oktober 2009. Tangannya gemetar menggenggam sesuatu, “Ini posko kemanusiaan ya?” bibirnya ikut bergetar. Serempak beberapa relawan mendekatinya, “Benar mak, ada yang bisa kami bantu?” Sebuah pertanyaan standar, sebab kami mengira bahwa Ibu tua itu hendak meminta bantuan untuk korban gempa. Namun ternyata kami salah karena ia datang justru untuk memberi bantuan, “Emak mau kasih bantuan, tolong disampaikan kepada para korban gempa. Melihat kalian yang muda-muda ini bekerja, sebenarnya emak ingin menjadi relawan. Tapi emak sudah tua, emak nggak kuat lagi, sudah nggak kuat lagi,” ujar Emak Nurdianah bersemangat.

Emak Nurdianah mengaku lahir tahun 1938, mendatangi posko ACT menitipkan uang dua puluh ribu rupiah untuk disalurkan kepada para korban gempa. Padahal ia sendiri pun salah satu korban gempa di Kota Padang yang mengguncang tanah Sumatera 30 September 2009 lalu. Lebih dari 600 orang menjadi korban jiwa, belum termasuk lima ratusan lainnya yang belum ditemukan hingga hari ke -6 pasca gempa, mereka tersebar di beberapa titik seperti Tandikek dan Sicincin. Sedangkan pengungsi mencapai ratusan ribu, tersebar di seluruh Sumatera Barat.

“Emak terharu melihat kalian, datang dari jauh untuk membantu tempat emak. Sebagai orang Minang, emak merasa harus pula membantu tanah emak sendiri, emak tidak mau kalah sama kalian. Dulu emak ini pejuang, angkat senjata…. Sekarang emak sudah tidak sanggup bekerja berat. Emak cuma bisa titip ini,” sambil menyerahkan uang digenggamannya kepada Romi, salah seorang relawan.

Ketika Romi hendak membuatkan tanda terima, Mak Nur menolak dengan halus, “Tak perlulah catatan macam itu, cukup Allah saja yang mencatatnya. Emak hanya minta doakan, tahun ini emak naik haji agar dilancarkan sampai kembali lagi ke sini ya…” sebuah permintaan sederhana yang sudah pasti semua relawan yang ada di Posko saat itu serempak mendoakan, “semoga dilancarkan mak, insya Allah mabrur” Boleh jadi haji Mak Nur sudah diterima Allah bahkan sebelum ia bertamu ke rumah Allah nanti.

“Sekali lagi terima kasih, kalian anak-anak muda, jaga kesehatan ya biar lebih lama di tanah kelahiran emak, biar lebih banyak orang yang bisa dibantu…” Emak Nur pun pamit pergi meninggalkan posko sambil memeluk satu persatu relawan yang ada di posko, beberapa relawan perempuan pun tak luput mendapat ciuman hangat bak seorang ibu yang tengah mengalirkan energi cinta kepada anak-anaknya. Jelas pelukan hangat Mak Nur memberi energi lebih kepada para relawan untuk menjalankan misi kemanusiaan tanpa kenal lelah. Semakin kami sadar bahwa di belakang kami terdapat orang-orang yang terus menopang segala pengorbanan di lokasi bencana.

Dua puluh ribu rupiah yang dititikan Mak Nur rasanya sangat bernilai tinggi bagi kami yang diamanahkan untuk meneruskannya kepada para korban gempa. Sebuah kehormatan bagi segenap relawan ACT yang mendapat amanah bernilai luhur dari seorang Mak Nur. Sungguh, titipan dari sejuta Mak Nur di belahan bumi pertiwi yang tak dapat kami berjumpa satu persatu merupakan amanah tertinggi yang wajib kami panggul secara terhormat di pundak ini. Terima kasih Mak Nur, dua puluh ribu rupiah milik Mak Nur menambah semangat kami… (Gaw)

Sumber : http://actforhumanity.or.id/
baca selengkapnya- Sebuah Inspirasi dan Tauladan : Dua Puluh Ribu Rupiah dari Emak Nurdianah
Kata Sahabat :