Panduan dan Tips Praktis Edukasi Dunia Anak agar lebih imajinatif, cerdas dan kreatif bersama Mind Mapping, Glenn Doman, Multiple Intellegence, Brain Games, Memory, Dongeng, Cerita, Puisi, Gambar, Kartun Lucu, dan lainnya.

Kumpulan Game Kreatif, Brain Games, Brain Test

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa

Waspada, Facebook Dan Twitter Membuat Anak Malas Belajar!


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sebuah survei digelar di Australia menanyakan pada para orangtua tentang efek Facebook dan Twitter pada anak-anak. 65% orangtua di sana percaya, Facebook dan Twitter membuat anak mereka malas belajar.

Survei tersebut digelar oleh Newspoll untuk Telstra Cyber-safety Research Report. Survei diikuti oleh orangtua yang memiliki anak berusia 10-17 tahun.

Dari survei itu terungkap, mereka yang jadi malas belajar karena Twitter dan Facebook adalah anak berusia remaja 14-17 tahun. Menurut para orangtua, anak-anak mereka jadi teralihkan perhatiannya dari pekerjaan rumah (PR) mereka.

1/4 orangtua yang menjadi responden penelitian itu mengestimasi, anak-anak mereka menghabiskan waktu setidaknya tujuh jam seminggu atau sama dengan sejam setiap harinya menjelajahi situs jejaring sosial.

Melihat hasil survei di atas, ahli internet sehat Dr Martyn Wild memberi saran untuk para orangtua agar menaruh komputer atau laptop di area yang bisa dilihat semua anggota keluarga. Hal itu agar anak-anak yang masih dalam usia sekolah bisa lebih fokus pada pelajaran mereka.

"Biasanya orangtua tidak mengizinkan anak-anak mereka bermain dengan teman sepanjang hari terutama di malam sekolah. Tapi sekarang mereka melakukannya secara online, di depan orangtua mereka sendiri," ujar Dr Wild seperti dilansir Get Parenting.

Agar anak tak kecanduan situs jejaring sosial, solusinya bukan dengan mematikan koneksi internet di rumah. "Tapi terapkan kebiasaan baru yang baik pada anak dan beritahu anak tentang manfaat internet yang sebenarnya," jelas sang ahli lagi.

Namun untuk orangtua yang memiliki anak remaja, orangtua sebaiknya memberikan kepercayaan pada anak untuk menyeimbangkan kehidupan mereka antara sekolah dan bermain. Tentu pemberian kepercayaan ini harus tetap dalam pengawasan apakah memang anak mampu bertanggungjawab atau tidak.

Bagaimana agar orangtua memonitor saat anak menjelajahi internet? Berikut ini tips dari Effendy Ibrahim, Symantec Norton Regional Head of Asia South Region (Internet Safety Advocate), seperti dilansir detikinet:

1. Jadilah orang yang melek teknologi dan berinvestasilah pada piranti lunak keamanan yang komprehensif, terupdate serta berbayar. Sudah tak cukup lagi hanya memiliki solusi antivirus, harus ada juga firewall dua arah, enkripsi password, tollbar anti-phishing dan update rutin. Piranti keamanan yang Anda punya harusnya memiliki fitur berbasis reputasi yang terbaru, agar kemampuan deteksi program jahat barunya jauh melampaui solusi tradisional.

2. Letakkan komputer di ruang keluarga, bukan di kamar pribadi. Jika memakai jaringan nirkabel, amankan dengan password dan jangan biarkan komputer yang tak dikenal mengaksesnya.

3. Bangun sebuah kesepakatan soal penggunaan internet. Seringlah berbincang dengan anak-anak dan buat kesepakatan yang realistis. Lakukan dialog soal siapa, apa dan di mana anak-anak online tapi jangan jadikan ini sebuah interogasi, lakukanlah dengan menyenangkan. Contohnya, dorong semua orang di keluarga untuk membuka situs keamanan seperti Norton Safe Web yang memiliki komunitas yang saling bekerjasama melaporkan situs berbahaya dan phishing. Satu hal lagi, jika diminta 'menyetujui' atau 'menolak' akses sebuah aplikasi ke internet, pastikan bahwa hal pertama yang dilakukan adalah menolaknya kecuali anda benar-benar yakin bahwa situs yang diaksesnya otentik dan aman.

4. Pahamilah Jejaring Sosial. Tahun 2009 adalah tahun terjadinya serangan baik pada situs jejaring sosial dan penggunanya, dan hal ini akan berlanjut di 2010. Dorong anak-anak untuk berhati-hati saat mengklik tautan yang dikirimkan oleh 'teman' mereka -- gaya bahasa yang berbeda, janggal dan tak lazim biasanya menunjukkan itu pesan palsu.

5. Bantu anak-anak melindungi informasi pribadi mereka. Atur pilihan privasi pada level paling ketat. Dorong anak-anak untuk tidak memberikan informasi pribadi tentang dirinya atau orang lain.

6. Lindungi password anak-anak anda. Selalu gunakan password yang kuat dengan kombinasi huruf dan angka, dan ubah secara rutin.

7. Sering-sering periksa rekam jejak penggunaan internet Anda.

8. Luangkan waktu untuk online bersama anak-anak.

9. Ajarkan etika dunia cyber pada anak-anak.

10. Ajari anak-anak untuk memberitahukan pada orangtua, guru atau orang dewasa yang dipercaya jika mereka merasa tak nyaman dengan hal apapun yang mereka lihat di komputer.

Semoga bermanfaat, wassalam.


pic: thinkstock
sumber: wolipop.com
baca selengkapnya- Waspada, Facebook Dan Twitter Membuat Anak Malas Belajar!

Jumat

Penyebab Umum Bayi Susah Tidur

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Tidur merupakan salah satu faktor tumbuh kembang bayi. Dimana saat bayi tidur semua otot-otot bekerja sesuai dengan kedudukannya. Membuat tidur bayi itu tidak mudah, banyak hal yang harus kita lakukan. Kadang tidur pada bayi kurang maksimal, ada saja hal-hal yang membuat mereka terganggu pada saat tidur sehingga membuat bayi susah tidur alias rewel.

Berikut penyebab umum bayi susah tidur:

baca selengkapnya- Penyebab Umum Bayi Susah Tidur

Kamis

Mengapa "Mama Atau Papa" Menjadi Kata Pertama Yang Diucapkan Bayi?


Assalamualaikum wr wr,salam cerdas kreatif.

ALANGKAH bahagianya saat si kecil menyebut kata "mama" atau "papa" untuk pertama kalinya. Kedua kata tersebut memang sering menajadi kata pertama bayi-bayi di seluruh dunia. Ternyata ada alasan ilmiah di balik semua itu.

Sejak usia 2 bulan umumnya bayi sudah bisa menirukan intonasi suara kita dan membedakan suara. Seiring dengan bertambahnya usia, ia pun makin sering mengoceh, dan di usia 8-9 bulan normalnya bayi sudah bisa bicara dalam arti menyebutkan kata, seperti "mama" atau "papa".

Peneliti post-doktoral dari Universitas British Columbia, Judith Gervain, menyebutkan, kata "mama" atau "papa" dalam banyak bahasa di seluruh dunia pada umumnya merupakan kata yang sering diulang-ulang. Selain itu, baik dari segi linguistik maupun fungsi susunannya, kata "mama" dan "papa" lebih mudah bagi bayi ketimbang "ibu" atau "bunda" misalnya.

Untuk mengungkap alasan ilmiah di balik ocehan bayi ini, tim peneliti yang diketuai oleh Gervain melakukan pindai otak terhadap 22 bayi baru lahir berusia 2-3 hari sambil diperdengarkan rekaman kata-kata. Bayi-bayi mungil tadi mendengarkan kata yang memiliki pengulangan silabel, seperti "mubaba" dan "penana", juga kata yang tidak berulang, seperti "mubage" dan "penaku".

Ternyata aktivitas otak bayi di bagian yang merupakan pusat bahasa meningkat saat rekaman kata-kata dengan pengulangan silabel diperdengarkan. Sementara saat bayi mendengar kata yang tidak berulang seperti "bamuba atau napena", tidak terlihat adanya respons di otak.

"Hal ini menunjukkan bahwa bayi lahir dengan kemampuan untuk menerima dan belajar bahasa ibu secara sistematik dan efisien," kata Gervain yang hasil penelitiannya dipublikasikan secara online dalam jurnal Proceeding of the National Academy of Sciences.

Untuk menstimulai kemampuan bicara bayi sedini mungkin, sering-seringlah berbicara kepada bayi. Gunakan kata-kata dengan artikulasi sederhana dan bicaralah lebih lambat dan jelas dengan intonasi yang menyenangkan sehingga bayi mendapat kesempatan untuk menangkap kata-kata itu dan memahaminya.

Wassalam.
-----------
sumber:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/28/10125514/mengapa.mama.adalah.kata.pertama.bayi.
baca selengkapnya- Mengapa "Mama Atau Papa" Menjadi Kata Pertama Yang Diucapkan Bayi?

Rabu

Inilah Cita-Cita Idola Anak

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

"Adek, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?". Bisa jadi jawaban dari anak-anak bermacam-macam, ada yang mau jadi doketr, polisi, artis, guru, pilot dan lainnya. Jawaban yang menggambarkan keinginan anak dari imajinasi dan kreatifitas yang mereka dapatkan dari berbagai hal.

Berikut ini cita-cita idola anak yang sering terucap dari mulut manis buah hati kita:

Dokter


Pilot

Astronot

Guru


Tentara


Artis


Atlit


Polisi


Pengacara


Seperti Ayah dan Bunda

Nah, itulah beberapa cita-cita idola anak dan sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk membantu mewujudkannya dengan membantu dan memfasilitasinya, InsyaAllah.

Dan tentunya masih banyak cita-cita lain yang belum tertulis, bila sahabat mau berbagi silahkan menambahkan.

Makasih, wassalam.
baca selengkapnya- Inilah Cita-Cita Idola Anak

Kamis

Stimulasi Tumbuh Kembang Bayi Dengan Metode "Meniru"


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sebenarnya sejak bayi, anak sudah dapat melakukan peniruan karena kemampuan ini lebih identik dengan anak batita. Seperti dituturkan Dra. Psi. Tisna Chandra, sejak usia 2 bulan, si kecil sebenarnya sudah cakap meniru. Hanya saja, orang tua tidak menyadarinya, sehingga momen ini pun sering luput dari perhatian.

Tisna menegaskan peniruan merupakan salah satu tugas perkembangan yang perlu dilalui bayi, sebelum masuk pada keterampilan identifikasi.

Nah sayangkan kalau momen ini terlewatkan. Berikut beberapa perkembangan peniruan si kecil yang dapat distimulasi sehingga tumbuh kembangnya makin optimal:

Suara dan Kata

Di usia 2 bulan bayi sudah mampu meniru kata-kata walau sekadar berujar “u…u…u” atau “a…a…a.” Sementara di usia 7 bulan, si kecil sudah bisa babbling atau mengucapkan suku kata yang senada seperti “ma-ma-ma“ atau “da-da-da”. Kemampuannya kian bertambah saat 11 bulan. Saat ini bayi sudah bisa menirukan kata berunsur konsonan-vokal dengan lebih bervariasi, seperti “ka-ka”, “mi-mi”, “bo-bo”, dan sebagainya.

* Stimulus:

Penting diketahui bayi suka meniru suara yang didengarnya. Jadi rajin-rajinlah untuk mengajaknya bercakap-cakap. Saat memandikan, misalnya, berbincang-bincanglah tentang apa yang tengah kita lakukan, “Mama mau gosok tangan Adek. Angkat tangan Adek seperti ini, ya.” Semakin banyak kata yang dikenalkan pada bayi, akan semakin banyak yang tersimpan dalam memorinya. Saat kemampuan bicaranya sudah semakin baik, si kecil tinggal membuka memori yang pernah disimpannya di masa bayi ini.

* Yang perlu dicermati:

Saat berbicara dengan bayi, hindari bahasa/kata yang dicadel-cadelkan. “Cayang mau cucu ya?” (padahal maksudnya “Sayang mau susu ya?”) Bila bayi terbiasa mendengar kata yang tidak benar kelak dia akan mengatakannya seperti apa yang kita ucapkan. Repotnya, kelak kita harus membetulkan kesalahan anak tersebut bukan?

Gerakan Motorik

Pada usia 8 bulan, bayi sudah dapat mengangkat-angkat tangan. Sebulan kemudian, ia mampu melambaikan tangan serta melakukan gerakan kiss by. Sementara umur 10 bulan, kecakapannya bertambah dengan bertepuk tangan.


* Stimulus:

Saat kita ingin si kecil mengikuti suatu gerakan, sesuaikan dengan kemampuan motorik yang ia miliki. Di usia 8 bulan, umpamanya, ia bisa diminta mengikuti contoh gerakan tangan ke atas dan ke bawah. Tapi jangan mengharapnya bisa meniru gerakan bertepuk tangan karena kesanggupannya belum sampai di situ. Berikut beberapa rangsangan lain yang bisa diberikan:

- Gerakkan jari jemari kita di udara untuk ditirunya. Stimulus ini berguna untuk merangsang keterampilan motorik halus anak agar ia kelak terampil dalam memegang benda-benda kecil, seperti pensil, pena, gelas, sendok-garpu, dan sebagainya.

- Kala menginjak 9-10 bulan, si kecil bisa diajak melakukan gerakan “mata genit” (beri contoh dengan menyipitkan/mengedipkan mata kita). Rangsangan seperti ini juga akan bermanfaat bagi pertumbuhan saraf-saraf di bagian kelopak matanya.

* Yang perlu dicermati:

Selain beberapa manfaat tadi, stimulasi-stimulasi semacam ini juga dapat mengembangkan kemampuan indra peraba serta inteligensinya. Gerakan meniru menaikkan dan menurunkan mainan, umpamanya, memungkinkan bayi merasakan permukaan yang kasar/halus dari mainan yang dipegangnya.

Peniruan Ekspresi Emosi

Bayi 9 bulan sudah bisa menirukan ekspresi senang, marah, lucu, dan lainnya. Ini berkaitan dengan pertumbuhan emosinya yang sudah berkembang dan pembelajaran dari lingkungan terdekat, seperti orang tua, pengasuh, kakak, nenek/kakek dan lainnya.

* Stimulasi:

Walau ia belum memahami apa itu senang, sedih, jengkel dan sebagainya, tapi melatih ekspresi emosinya tetap perlu. Cara paling sederhana adalah dengan selalu menunjukkan senyum dan tawa saat berhadapan dengannya.

* Yang perlu dicermati:

Sebagai manusia, wajar bila kita merasa sedih, jengkel atau marah. Namun sebaiknya jangan terlalu sering menampakkan emosi-emosi negatif pada si kecil. Bukankah ia sudah pandai meniru? Jadi kalau seorang ibu mudah mencucurkan air mata, si kecil pun bisa tumbuh menjadi anak yang cengeng. Begitu juga, bila emosi orang tua kerap meledak-ledak. Tak menutup kemungkinan karakter si kecil pun akan seperti itu nantinya. Intinya, bayi perlu belajar pentingnya kestabilan emosi. Jadi boleh saja, kita menunjuk wajah jengkel sekali-kali. Tapi tetap harus diimbangi dengan senyum dan tawa.

Peniruan Objek

Sejak usia 7 bulan bayi sanggup meniru perilaku orang-orang di sekelilingnya. Untuk itu, beri ia lebih banyak kebebasan untuk melakukan berbagai gerakan lewat perilaku-perilaku yang kita contohkan.

* Stimulasi:

Salah satu permainan yang bisa dicoba adalah menaruh bola ke dalam keranjang. Bayi 7 bulanan tengah menggandrungi kegiatan seperti ini. Sekitar usia 8-12 bulan, si kecil mulai bisa melakukan hal yang lebih kompleks, seperti memencet-mencet tombol keyboard komputer.

* Yang perlu dicermati:

Pilih mainan atau objek yang menarik dari segi warna, corak, bentuk, maupun bunyi. Rasa ketertarikan akan membuat bayi mau menyentuh, mengambil, dan memegang benda/mainan tersebut sehingga stimulasi dapat berjalan lebih optimal.

WASPADAI BILA BAYI TIDAK PERNAH MENIRU

Meskipun belum tentu sebagai pertanda kelainan, tak ada salahnya kita melakukan tindakan lebih lanjut. Antara lain, dengan mengonsultasikan perkembangan bayi pada psikolog atau dokter. Ada beberapa penyebab bayi tidak sanggup melakukan peniruan. Bisa karena organ bicaranya atau organ pendengarannya terganggu. Akibatnya saat kita mencoba mencontohkan kata-kata/ perilaku, ia tidak dapat mengikutinya. Kemungkinan lain adalah autisma. Bayi dengan gangguan ini umumnya tidak mampu berkomunikasi dengan lingkungan, tertutup, dan asyik dengan dirinya sendiri.

Tapi tentu tidak bijaksana jika kita langsung panik saat mendapati bayi tidak bisa melakukan suatu peniruan. Mungkin saja, ia hanya mengalami keterlambatan dan hanya perlu waktu lebih lama-sekitar 1-2 bulan dalam perkembangannya. Ini pun normal-normal saja selama tidak ada indikasi gangguan lain.

Semoga bermanfaat, wassalam.

------------------------------------------
Intisari sumber: Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita
baca selengkapnya- Stimulasi Tumbuh Kembang Bayi Dengan Metode "Meniru"

Rabu

Hobi Isap Jempol, Bisa Membuat Gigi Rusak


Assalamaulaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Kebiasaan mengisap jempol dilakukan hampir 80 persen balita. Anak yang mengisap jempol biasanya sebagai upaya menenangkan diri. Tapi hati-hati anak yang suka mengisap jempol terlalu lama bisa merusak giginya.

Bagi orangtua baru mungkin akan sedikit bersyukur, karena bayi akan berhenti menangis jika mulutnya mengisap jempol. Tapi tanpa disadari hal ini akan menjadi suatu kebiasaan hingga anak tersebut dewasa nanti.

Diperkirakan sekitar 80 persen bayi dan anak-anak suka menghisap jempol pada saat-saat tertentu. Mengisap jempol merupakan refleks normal yang terjadi pada anak-anak untuk menenangkan dirinya saat mengalami stres, yang pada intinya anak-anak tersebut mencari kenyaman dan rasa aman. Tidak sedikit anak-anak yang bisa mengatasi hal ini, namun ada juga yang tidak.

Seperti dikutip dari Howstuffworks, ada dua faktor yang dapat mengindikasikan apakah mengisap jempol dapat merusak gigi atau tidak, yaitu faktor usia dan intensitasnya. Sebaiknya kebiasaan tersebut harus sudah bisa ditangani saat waktu tumbuhnya gigi permanen tiba yaitu sekitar usia 6 tahun.

Saat gigi susu sudah berganti dengan gigi permanen, potensi terjadinya kerusakan akan semakin besar sehingga bisa saja membutuhkan bantuan dokter gigi. Kerusakan yang ditimbulkan bisa berupa penyelarasan gigi yang tidak normal (malocclusion) serta kerusakan struktur langit-langit mulut. Ketika mengisap jempol akan membuat jempol mendorong gigi atas sehingga menjadi sedikit menjauh dari gigi yang lainnya, selain itu juga bisa menyebabkan anak menjadi cadel.

Intensitas mengisap jempol akan mempengaruhi tingkat kerusakan, jika intensitasnya kuat maka bisa menyebabkan kerusakan gigi yang permanen. Umumnya anak-anak ini melakukan hal tersebut pada saat lelah atau bosan.

Para ahli menyarankan sebaiknya memberikan dukungan positif pada anak-anak untuk tidak mengisap jempol, dan jangan memberikan dukungan negatif karena akan meningkatkan stres dan eksistensi anak tersebut untuk tetap mengisap. Serta dibutuhkan kesabaran dan waktu yang relatif tidak singkat.

Untuk membantu mengatasi anak yang mengisap jempol diperlukan terapi seperti memberikan sarung tangan kecil pada jari-jarinya terutama saat malam hari. Jika anak mengisap jempo karena cemas atau stres, berilah hiburan atau pelukan yang bisa memberikan rasa nyaman bagi anak.

Semoga bermanfaat, wassalam.

sumber:http://health.detik.com
baca selengkapnya- Hobi Isap Jempol, Bisa Membuat Gigi Rusak

Jumat

Kenapa Laut Warnanya Biru?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreaif.

Ada yang bilang kalau AIR tidak berwarna alias “bening”. Air laut berwarna biru karena pantulan warna langit? Benarkah semua pernyataan diatas? Barangkali teman-teman bahkan guru kamu di sekolah akan bilang hal yang sama. Tapi tahukah kamu bahwa sebenernya air itu “berwarna” dan itulah yang menyebabkan kenapa air laut berwarna “biru”. Mau tau kenapa?

Air bersih memiliki warna, warna air adalah biru, mengapa begitu? Karena “lapisan” air menyerap “gelombang” cahaya matahari (yang kamu tau terdiri dari “tujuh” elemen warna). Nah molekul-molekul air ini “menyerap” warna-warna itu dan menyisakan warna biru, dan itulah yang terlihat oleh mata kita.

Kamu tidak akan bisa melihat warna “biru” air itu pada segelas air, tapi coba deh kamu tuangkan air ke dalam bak kamar mandi kamu hingga penuh (yang berwarna putih), lalu amati warnanya, “biru” kan?. Karena sekali lagi “lapisan” air di gelas tidak lah cukup menyerap “warna cahaya” yang datang kepadanya, sehingga air tidak bisa menunjukkan warna biru aslinya.

Berarti sudah jelas kan, kenapa air laut yang lebih luas dari bak kamar mandi kamu berwarna biru? Hmm tunggu dulu, lautan mengandung banyak sekali partikel-partikel mulai dari ikan, karang, plankton, dan sebagainya. Ada juga zat organik terlarut yang dalam istilah Jerman disebut gelbstoff. Materi-materi ini lah yang menyebabkan “penyerapan” cahaya matahari sehingga hanya menyisakan warna “biru gelap” bagi lautan.

Selain penyerapan atau adsobsi cahaya, warna laut disebabkan juga oleh “penghamburan cahaya” oleh mahluk-mahluk kecil di laut seperti fitoplankton (tumbuhan sangat kecil) dan zooplankton (hewan sangat kecil). Akibatnya, kamu juga kerap melihat warna laut biru cerah kehijauan di perairan yang ada di laut di daerah tropis termasuk di negeri kita.

Cahaya matahari yang berlimpah dan iklim panas sangat baik buat pertumbuhan plankton. Oh ya satu lagi, warna langit juga ikut memberi andil bagi warna laut, tapi kecil sekali, setidaknya jika langit mendung, air laut juga tidak “kebiru-an”
Sudah jelas kan?

Coba buktikan dengan percobaan diatas, diskusikan dengan teman dan guru kamu ya.

Selamat mencoba, wassalam.
sumber:http://uleegle.wordpress.com/2010/01/01/kenapa-air-laut-berwarna-biru/
baca selengkapnya- Kenapa Laut Warnanya Biru?

Bahasa Isyarat Bayi – Penelitian dan Manfaatnya


Assalamualaikum wrwb, salam cerdas kreatif.

Bahasa isyarat bayi adalah penggunaan bahasa isyarat sederhana atau bahasa tubuh untuk membantu para orang tua, keluarga dan pekerja pengasuh anak untuk berkomunikasi dengan bayi yang belum bisa berbicara. Anda mungkin menemukan bahwa Anda sudah menggunakan sebagian dari dasar-dasarnya. Bacalah terus bagian ini untuk mengetahui manfaat dari bahasa isyarat bayi dan bagaimana memulainya.

Dari semua studi yang telah dilakukan dalam bidang ini, terdapat manfaat yang besar dari mengenalkan bayi pada bahasa isyarat. Bahasa isyarat bayi:

* Dapat memberdayakan bayi Anda untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya sebelum dia dapat berbicara.
Hal ini berarti bayi Anda dapat menyampaikan apa yang diinginkannya pada saat dia menginginkannya. Ini juga memungkinkan bayi untuk memulai percakapan tentang hal-hal yang menarik baginya. Lebih jauh lagi, hal ini dapat menjembatani celah antara ketiadaan bahasa dan bahasa lisan.

* Dapat mengurangi frustrasi bagi Anda dan bayi Anda.
Bahasa isyarat memungkinkan bayi Anda untuk memberitahu Anda apa yang diinginkannya, apa yang salah atau apa yang sakit. Oleh karena itu, bayi Anda mungkin akan mengalami lebih sedikit rasa frustrasi, marah-marah dan menangis. Bila bayi Anda dapat menyampaikan kebutuhan dasarnya kepada Anda, berarti Anda tidak perlu berusaha menerjemahkan tangisannya. Bahasa isyarat dapat membantu mengurangi saat-saat frustrasi penuh air mata itu.

* Dapat memperkaya hubungan antara orang tua dan anak.
Dengan memperkenalkan bahasa isyarat bayi di dalam rumah tangga Anda, Anda memperkuat ikatan dengan bayi Anda. Sifat dari komunikasi isyarat dengan bayi mendorong Anda dan bayi Anda untuk merespon satu sama lain secara bergiliran dan ini merupakan suatu ketrampilan yang sangat berharga. Menggunakan isyarat melibatkan interaksi harian dengan bayi Anda yang lama-kelamaan akan berubah menjadi percakapan dua arah.

* Dapat memberikan pandangan mengenai pikiran bayi Anda dan siapa dia sebenarnya.
Bahasa isyarat bayi memungkinkan bayi untuk memulai percakapan dengan Anda tentang hal-hal yang menarik hatinya. Hal ini memungkinkan Anda untuk mengetahui apa yang dipikirkannya, apa yang menarik minatnya dan bagaimana dunia terlihat dari kacamatanya. Dan semua ini dapat diperoleh sebelum dia bisa berbicara!

* Dapat merangsang perkembangan intelektual dan meningkatkan daya ingat.
Anak-anak senang dengan bahasa isyarat dan seringkali memperhatikan dengan lebih baik apa yang sedang diajarkan ketika sedang menggunakannya. Telah terbukti juga bahwa ketika anak-anak mempelajari suatu kata dalam hubungannya dengan suatu isyarat, kemungkinannya lebih besar bahwa mereka akan mengingat kata tersebut.

* Dapat mempercepat proses berbicara.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menggunakan bahasa isyarat bisa menguasai bahasa lisan secara lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menggunakan bahasa isyarat.

* Dapat meningkatkan rasa percaya diri, harga diri dan ekspresi diri bayi.
Karena kemampuan bayi untuk menyampaikan kebutuhannya, keinginannya dan minatnya melalui isyarat, bayi bisa menjadi lebih percaya diri.

* Bahasa isyarat bayi dapat merangsang perkembangan otak dan berpotensial meningkatkan IQ bayi Anda.
Mengajarkan bahasa isyarat dapat merangsang perkembangan otak bayi. Penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa bayi-bayi yang menggunakan bahasa isyarat memperoleh nilai tes IQ yang lebih tinggi di masa depan (sampai 12 poin IQ lebih tinggi) daripada anak-anak yang belajar berbicara secara tradisional. Menggunakan isyarat dapat merangsang perkembangan otak karena ketika mempelajari bahasa isyarat, Anda menggunakan kedua bagian otak, kanan dan kiri, dibandingkan dengan mempelajari bahasa lisan, dimana yang digunakan hanya otak bagian kiri. Penggunaan kedua bagian otak ini menyebabkan otak membangun lebih banyak sinapsis.

* Anak-anak yang terus menggunakan bahasa isyarat secara efektif adalah anak-anak dwi bahasa.
Dengan memperkenalkan bahasa isyarat formal kepada bayi Anda, Anda memperkenalkan bayi Anda kepada sebuah bahasa kedua. Penelitian tentang otak menunjukkan bahwa ketrampilan bahasa paling baik diperoleh di tahun-tahun pertama dalam kehidupan bayi. Juga, dengan memperkenalkan bahasa isyarat formal kepada bayi Anda dan terus menggunakannya setelah dia dapat berbicara, Anda memberikan anak Anda hadiah yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan para tuna rungu dan mereka yang berpendengaran terganggu.

Artikel ini ditulis oleh Jackie Durnin: Jackie Durnin adalah penulis dari “Australian Baby Hands”, menggunakan Auslan, Australian Sign Language untuk berkomunikasi dengan bayi Anda. Untuk lebih rincinya, kunjungi www.australianbabyhands.com dimana Anda dapat mendaftar untuk memperoleh tabel isyarat-isyarat yang sering digunakan secara GRATIS.

Semoga bermanfaat, wassalam
sumber & picture:http://www.huggies.co.id/BH/BeingAParent/Language/BabySignLanguage.aspx
baca selengkapnya- Bahasa Isyarat Bayi – Penelitian dan Manfaatnya

Sabtu

Kamis

Obesitas Anak Bisa Turunkan Tingkat Kecerdasan


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Obesitas atau kegemukan pada anak terutama pada usia 6-7 tahun bisa menurunkan tingkat kecerdasan anak, karena aktivitas dan kreativitas anak menjadi menurun dan cenderung malas.

"Obesitas secara berlebihan pada anak biasanya akan menyebabkan tingkat kecerdasan anak menurun," kata Dosen Fakultas Kedokteran Undip, Darmono, di Semarang, Selasa.Ia mengatakan, pada kondisi tersebut, umumnya aktivitas dan kreativitas anak akan menurun, kemudian dengan kelebihan berat badan anak menjadi malas.

Bahkan, anak yang kegemukan pada waktu tidur akan mengalami kondisi tidak bernafas, kondisi dimana pada waktu tidur ada gelombang pernafasan yang berhenti, ibaratnya orang yang tidur mendengkur ada waktu-waktu dia tidak bernafas, katanya.

Obesitas pada anak, disebabkan oleh masukan makanannya yang berlebih. Selain itu, pada waktu lahir anak tidak dibiasakan mengkonsumsi air susu ibu (ASI), tetapi dibiasakan pakai susu formula dalam botol, padahal anak yang diberi ASI, biasanya asupan asinya sesuai ketentuan berat badan bayi.

Anak yang biasa meminum susu dalam botol, biasanya tidak dapat menghitung jumlah masukan makanan pada anak, bahkan para orang tua cenderung memberikan perawatan anak dengan membuat susunya lebih kental, sehingga melebihi porsi yang dibutuhkan anak.

Kemudian, pada usia 4-5 tahun anak sudah mengalami kelebihan berat badan, karena sejumlah makan yang diberikan sebelumnya tanpa memperhatikan takaran kebutuhan anak, sehingga terjadi penimbunan makanan yang diekspresikan dalam lemak.

Ia mengungkapkan, anak yang mengalami obesitas bisa dideteksi secara dini, bahkan ketika orang tuanya sedang hamil bisa diketahui melalui berat badan normal rata-rata antara 7-14 kilogram, tetapi jika melebihi angka 14 kilogram bisa dianggap sebagai obesitas.

Penanganan anak yang mengalami kelebihan berat badan pada usia 5-6 tahun atau ketika masuk taman kanak-kanak (TK), biasanya dikelompokkan pada usia mereka yang mengalami kelebihan berat badan dengan trik khusus berupa pengawasan pada makanannya, sehingga makanan yang dibawa dari rumah juga harus sesuai takaran.

Selanjutnya, aktifitas anak diberikan porsi yang lebih banyak, dengan diajak bermain-main dan berolahraga. Anak yang kelebihan berat badan seharusnya dipisahkan dari teman yang lain, misalnya dia dari rumah diajak ke sekolah dengan jalan kaki, kemudian ketika dia pulang sekolah dicarikan jalan yang agak jauh. imbuhnya

Adanya perdebatan obesitas akibat faktor genetik, dia mengatakan, berdasarkan hasil penelitian Badan Internasional Obeysitas Task Force (ITF) dari badan WHO yang mengurusi anak yang kegemukan, 99 persen anak obesitas karena faktor lingkungan, sedangkan yang dianggap genetik biasanya bukan genetik tetapi akibat faktor lingkungan.

Faktor lingkungan ini, dipengaruhi oleh aktivitas dan pola makan orang tua anak, misal pola makan bapak dan ibunya tidak teratur menurun pada anak, karena dilingkungan itu tidak menyediakan makanan yang tinggi energi, bahkan aktivitas dalam keluarga juga tidak mendukung. antara/mim

Wassalam,
sumber:http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=266169&kat_id=23
baca selengkapnya- Obesitas Anak Bisa Turunkan Tingkat Kecerdasan

Rabu

Atasi Depresi Dengan Liburan Kreatif


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

LIBURAN, pastinya merupakan masa-masa yang paling menyenangkan untuk melepas segala kejenuhan dan kejengkelan. Tapi, jika sedang depresi, masa liburan bisa saja menjadi hambatan baru, khususnya dengan kondisi ekonomi yang semakin sulit dan meningkatnya harga barang dan biaya liburan. Liburan seringkali menjadi sumber depresi bagi beberapa orang. Anda merasa bersalah karena akan menghambur-hamburkan uang. Ban bocor, penerbangan yang ditunda, serta anak yang rewel seringkali menjadi pemicu stres. Akibatnya, saat liburan selesai, Anda tetap depresi menjalani rutinitas sehari-hari.

Liburan dan depresi

Meskipun liburan bisa menjadi sumber depresi dari segi keuangan, bukan berarti Anda harus memutuskan untuk tidak pergi berlibur sama sekali. Liburan, berdasarkan fakta ilmiah, sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental. Sebuah studi dari Marshfield Clinic di Wisconsin menemukan, perempuan yang tidak melakukan liburan secara teratur, 2-3 kali lebih cenderung mengalami depresi dibandingkan dengan perempuan yang melakukan liburan secara teratur.

Studi lain yang diikuti 12.338 partisipan laki-laki selama 9 tahun menemukan, laki-laki yang tidak melakukan liburan tahunan memiliki risiko kematian 32% lebih tinggi akibat serangan jantung dan 21% lebih tinggi akibat semua penyebab lainnya. Selain itu, sebuah studi yang dilakukan Framingham Heart selama 20 tahun menemukan, perempuan yang jarang berlibur (setiap 6 tahun atau kurang) berisiko 8 kali lebih besar mengalami serangan jantung dibandingkan perempuan yang berlibur paling tidak setiap 2-5 tahun.

Bagaimana liburan mengatasi depresi?

Liburan memberikan Anda kesempatan untuk kembali mengisi energi, melihat pemandangan baru serta memperbaiki tingkah laku pola pikir. Selain itu, liburan akan menguatkan hubungan dalam keluarga. Eratnya hubungan dalam keluarga, menurut seorang psikolog dari Emory University School of Medicine di Atlanta Nadine Kaslow, PhD, merupakan alasan utama yang membuat orang tetap semangat menjalani hidup. Dengan berlibur, Anda bisa saling memanjakan dan mengasihi, hal yang mungkin kadang tidak sempat Anda curahkan sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, saat berlibur, terjadi peningkatan kadar 2 neurotransmitter otak, dopamine dan serotonin yang berperan dalam mengatur mood dan depresi. Mereka yang depresi mempunyai kadar dopamine dan serotonin yang rendah. Kondisi depersi ini bisa diperburuk oleh lingkungan kerja dan kepenatan sehari-hari. Karena itu, Anda perlu liburan dan bersenang-senamg untuk memicu peningkatan jumlah kedua hormon ini.

Tip cegah depresi akibat liburan

Liburan bisa menjadi usmber depresi jika tidak direncanakan dengan baik. Untuk membantu Anda merencankan liburan, berikut beberapa tip yang bisa menjadi panduan Anda.

Sediakan tabungan untuk liburan. Liburan tentunya tidak bisa berjalan tanpa uang. Karena itu, usahakan untuk menyisihkan sedikit penghasilan Anda setiap bulannya. Selain itu, sesuaikan dengan kondisi keuangan Anda. Liburan tidak harus ke tempat yang jauh. Liburan dalam kota yang lebih hemat bisa menjadi pilihan yang menarik. Yang terpenting adalah menikmati waktu yang berkualitas dan menyenangkan dengan keluarga tercinta Anda.

Pilihlah liburan yang sesuai dengan kepribadian Anda dan keluarga. Anda dan keluarga tidak harus berlibur ke alam yang menawarkan berbagai fasilitas menantang hanya karena teman-teman Anda ramai membicarakan dahsyatnya petualangn arung jeram dan tidur di bawah hamparan bintang. Kalau Anda dan keluarga lebih suka berlari di pasir pantai, jangan pernah menukar tujuan karena pengaruh luar. Jika tidak menikmati liburan, Anda akan semakin depresi saat kembali di rumah.

Jika Anda tidak bisa terlepas dari kantor untuk liburan panjang, rencanakan liburan mini. Pada faktanya, banyak orang yang menyatakan kalau long weekend selama 3 atau 4 hari lebih lebih bisa meredakan stres dibandingkan perjalanan panjang.

Jika kondisi keuangan Anda tidak memungkinkan, pilihlah aktivitas yang bisa menghemat seperti bersepeda, mendaki, atau berkemah. Anda hanya perlu sedikit kreatif dan tidak perlu menambah stres. Anak-anak biasanya sangat menikmati aktivitas menjelajah gua dan taman-taman.

Bicarakan dulu dengan keluarga Anda. Jika Anda lebih suka menginap di hotel dibandingkan berkemah, diskusikan terlebih dahulu. Anda bisa membagi waktu antara berkemah dan menginap di motel.

Liburan hanya untuk liburan. Jika Anda sudah memutuskan untuk berlibur, pastikan Anda tidak mengikutsertakan aktivitas lain termasuk urusan kantor. Biarkan Keluarga menikmati kebersamaan sepenuhnya dengan Anda. Ada baiknya menonaktifkan telepon genggam Anda. Urusan kerjaan dan kontak dengan teman-teman melalui jejaring sosial seperti facebook, bisa menunggu setelah Anda kembali dari liburan.

Wassalam,

images: lowfares.com
intisari:http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/07/07/1363/5/Liburan_Kreatif_Atasi_Depresi
baca selengkapnya- Atasi Depresi Dengan Liburan Kreatif

Selasa

Keuntungan dan Kerugian Pengasuhan Anak


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Mengasuh anak adalah kewajiban setiap orangtua, namun adakalanya kesibukan dan karir mengharuskan anda untuk mentitipkan si kecil pada orang lain, baik keluarga, pengasuh yang anda sewa maupun tempat penitipan anak. Apapun pilihan anda, berbagai pola pengasuhan mempunyai kerugian dan keuntungannya sendiri. Berikut beberapa keuntungan dan kerugian pola pengasuhan anak.


Pengasuhan oleh anda dan pasangan
Keuntungan
* Anak akan merasa lebih akrab bersama orangtua sendiri di rumah, dengan mainan dan peralatannya sendiri.
* Bagi para ayah akan merasa lebih dekat dengan anaknya jika ia mengasuh bayinya sendiri.

Kerugian

* kemampuan anak untuk bersosialisasi dengan anak lain kurang, apalagi jika tidak dibbiasakan bermain dengan anak lain.
* Kesempatan meningkatkan karir bagi orangtua berkurang
* Bagi ayah kemungkinan akan merasa sedikit canggung bila harus mengasuh anaknya sebagaimana ibu

Anggota keluarga lain: Nenek, Bibi, Paman
Keuntungan

* mengasuh layaknya anak sendiri
* Nenek merasa kembali dibutuhkan dengan peran barunya tersebut

Kerugian

* Sulit membicarakan imbalan bagi mereka
* keluarga sering merasa terperangkap oleh waktu yang lebih lama saat harus menjaga anak anda
* Mereka menerapkan pola pengasuhan yang berbeda dengan yang mau anda terapkan
* Jika ada anak lain dirumah, kemungkinan mereka tidak bisa memberikan perhatian penuh

Pengasuh
Keuntungan

* Anak anda punya orang yang siap mengurus segala keperluannya
* Anda bebas bekerja dan melakukan aktifitas lainnya

Kerugian

* Anda harus mengeluarkan bayaran lebih mahal untuk pengasuh anak anda
* kebebasan pribadi dirumah akan berkurang(terutama jika si pengasuh harus tinggal bersama anda)
* Anak anda berjadi bergantung dengan pengasuhnya
* Anda bertanggungjawab terhadap kesejahteraan pengasuh anak anda

Penitipan anak
Keuntungan

* Anak anda punya kesempatan bersosialisasi dengan anak lain yang sebaya
* Biaya yang anda keluarkan terbilang lebih murah dibanding sewa pengasuh
* Anda tak perlu memikirkan kesejahteraan pengasuh

Kerugian

* Perkembangan sosialisasi anak anda bisa terganggu jika ada salah satu pengasuh di penitipan anak tersebut yang tidak ia sukai
* Setiap penitipan anak mempunyai kebijakan sendiri, sehingga anda tidak bebas melakukan aktifitas dengan anak anda
* Tempat penitipan biasanya tidak menerima anak yang sakit

Penitipan anak dikantor
Keuntungan

* Waktunya sesuai dengan jam kerja anda
* Anda bisa menengoknya sewaktu-waktu dan menyusuinya
* Anak bisa bergaul dengan anak-anak lain

Kerugian

* Agak sulit membagi waktu antara tugas sebagai orangtua dan karyawan saat anda merasa anak anda berada disekitar anda
* Membutuhkan biaya yang mahal
* Anak anda kemungkinan jarang mendapat perhatian khusus dari pengasuh

Penitipan anak sementara
Keuntungan
* Anak anda akan sering berkesempatan mendapat teman baru
* Anak anda ada yang mengurus dan memberi mainan yang tidak ada dirumah

Kerugian

* Anda harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal apalagi jika penyelenggaranya pihak swasta
* Anak anda akan jarang mendapat perhatian khusus dari para pengasuh ditempat tersebut.

Semoga bermanfaat, wassalam.
sumber: http://www.kafebalita.com/content/articles/read/2009/07/keuntungan-dan-kerugian-pengasuhan-anak/1238
baca selengkapnya- Keuntungan dan Kerugian Pengasuhan Anak

Senin

Si Kecil Sering Melamun?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Anak Melamun..? Anak berimajinasi..? Apakah hal itu wajar terjadi pada anak Anda?

Melamun, berimajinasi merupakan proses kerja otak kanan...dan hal ini wajar terjadi pada anak Anda..namun perlu diwaspadai jika anak Anda sering melamun secara tiba-tiba..mengapa? Saya akan sedikit menerangkan fungsi kerja kerja otak kanan dan kiri..otak kiri berfungsi sebagai pemproses Kata, Angka, Analisa, Logika, Urutan, Hitungan dan Detail...Sedangkan fungsi Otak Kanan sebagai pemproses Gambar, Warna, Irama, Gestalt, Dimensi, Imajinasi dan MELAMUN...

Sistem belajar di negara kita ini masih sangat mengedepankan fungsi otak kiri...masih sangattttt jarang instansi pendidikan yang mendukung siswanya untuk selalu menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri nya setiap saat.. sebut saja kegiatan ekstrakulikuler sekolah, kegiatan yang memerlukan kerja otak kanan, yang seringnya diadakan hanya 1 minggu sekali di sekolah..

Bayangkan selama 6 hari sekolah dalam 1 minggu hanya 1 hari yang memaksimalkan fungsi otak kanan...belum lagi sepulang sekolah "selalu" dipadati dengan berbagai kegiatan oleh orangtuanya dengan alasan agar mendukung pelajaran sekolahnya dan di sekolah mendapat nilai "bagus" sehingga kerja otak kiri semakin padat dan beban otak kiri semakin berat yang menyebabkan otak kiri menjadi overloaded..dan fungsi otomatis otak adalah menyeimbangankan ketika salah satu sisi otak overloaded...secara otomatis fungsi otak kanan bekerja...dan yang paling mudah dilakukan oleh otak kanan anak Anda adalah MELAMUN....

Sedikit cerita pengalaman siswa saya setelah saya amati..sebut saja Iwan..ia sering sekali "bengong" "ngeblank" ketika belajar ..saya telusuri kenapa seperti itu...ternyata beban aktifitasnya sangat padat..jam 7-10 sekolah ,sepulang sekolah jam 11 - 12.30 Les, lalu jam 15.00 - 17.30 Sekolah lagi ala homeschooling...dan itu rutinitas yang setiap hari di laksanakan...oo...pantas saja...ternyata otak kiri nya sudah tak mampu memikul beban....Dan saya malah bersyukur ia berhenti les ,karena beban rutinitas sudah berkurang..


Wassalam,
sumber: http://rumahbintangku.blogspot.com/
baca selengkapnya- Si Kecil Sering Melamun?

Kamis

Gimana Sih Komunikasi Yang Baik Dengan Anak?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Sangatlah penting untuk selalu memelihara komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Komunikasi yang baik adalah terjalinnya dialog yang akrab dua arah antara orang tua dan anak.

Komunikasi yang baik akan mampu menciptakan kedekatan antara orang tua dan anak, baik secara fisik maupun psikis.. Dengan demikian, anak tidak akan ragu apalagi takut untuk mengungkapkan is hati dan pikirannya.

Agar komunikasi yang baik dapat terjalin, orang tua dapat melakukan cara-cara
di bawah ini:

  • Bukalah topik-topik pembicaraan yang menarik hatinya. Dengan demikian sekaligus dapat memancing rasa ingin tahu anak.
  • Jangan pernah kesal atau bosan dengan pertanyaan si kecil yang mungkin di ulang-ulang. Itu menandakan penjelasan orang tua belum dipahami.
  • Jawablah pertanyaan anak dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Dengan demikian anak akan terus termotivasi untuk mengenal dan mengetahui hal-hal baru. Dan agar orang tua tidak salah jawab, sebaiknya jangan berhenti memperluas wawasan dan pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan sesuatu yang ingin sekali diketahui anak.
  • Dampingi anak saat bermain. Memang pada saat tertentu anak butuh kesendirian. Biarkan dia asyik dengan mainannya. Namun di saat lain, anak pasti membutuhkan orang tua sebagai teman bermainnya. Nah ikutlah bermain bersama anak, bukan hanya sekedar mendampingi atau Cuma memberi instruksi.

Dengan orang tua terlibat secara fisik dan emosional,interaksi antara orang tua dan anak akan dapat terjalin baik.

Jika anak bosan bermain, lakukan kegiatan lain yang mengasah imajinasi dan kreativitasa anak. Umpanya , membacakan cerita-cerita atau dongeng menarik. Orang tua bisa menemukan banyak buku yang membantu menstimulasi day kreatif anak.

Semoga bermanfaat, wassalam
baca selengkapnya- Gimana Sih Komunikasi Yang Baik Dengan Anak?

Rabu

Kasih Sayang, Kunci Menangani Anak Autis


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Jakarta, Kompas - Kasih sayang serta kesabaran ekstra merupakan pendekatan yang kerap terabaikan dalam pendidikan anak autis di sejumlah klinik terapi. Karena upaya membentuk perilaku positif terhadap mereka tanpa sadar cenderung bernuansa kekerasan, maka anak menjadi trauma, takut mengikuti terapi, atau orangtuanya yang tidak terima."Bahkan, terkesan pembentukan perilaku pada anak autis seperti mendidik perilaku hewan.

Misalnya, menyuruh duduk dengan mata melotot, bentakan, teriakan. Kalau tidak menurut disentil, dijewer, dan tindakan kekerasan lain," ungkap psikolog anak Dra Psi Hamidah MSi dalam seminar "Pendidikan Anak Autis dengan Pendekatan Humanistik" yang digelar Perhimpunan Autisme Indonesia pada Kongres Nasional Autisme Indonesia I di Jakarta, Sabtu (3/5).

Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat atau luas, dan dapat terjadi pada anak dalam tiga tahun pertama kehidupannya. Penyandang autis memiliki gangguan berkomunikasi, interaksi sosial, serta aktivitas dan minat yang terbatas serta berulang-ulang (repetitif). Gejalanya misalnya, anak tidak bisa bicara atau terlambat bicara, bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti, tidak mau kontak mata, tidak mau bermain dengan teman sebaya.

Ada juga yang gemar melakukan aktivitas berulang-ulang tanpa mau diubah, terpukau pada bagian-bagian benda, seperti senang melihat benda berputar, jalan berjinjit, menatapi telapak tangan, serta berputar-putar. Hal tersebut membuat anak autis seperti hidup pada dunianya sendiri.Metode yang sering diterapkan untuk membentuk perilaku positif pada anak autis, yaitu Applied Behavior Analysis (ABA) atau metode bivavioristik yang dikenalkan Prof Dr Lovaas di Amerika Serikat.

Metode ini bertujuan membentuk atau menguatkan perilaku positif anak autis dan mereduksi perilaku negatifnya. Namun, pada pelaksanaannya tidak jarang terapis menerapkannya dengan cara-cara yang relatif keras."Memang benar harus tegas dan konsisten. Tetapi juga harus telaten, sabar, dan penuh kasih sayang. Prinsipnya mengajarkan dengan perasaan. Metode ABA sebenarnya tidak keras seperti itu. Dengan pendekatan lebih manusiawi, kita bisa membentuk perilaku positif pada anak autis," kata Hamidah.

Menurut dia, apa yang diajarkan terapis harus dilanjutkan orangtua di rumah. Tanpa peran orangtua itu bisa sia-sia. "Waktu di tempat terapi paling hanya empat jam. Sisanya ketelatenan dan kesabaran orangtua sangat amat penting demi kesembuhan dan perkembangan si anak," tegas Hamidah.

Namun, sejauh yang diketahuinya biaya terapi di berbagai klinik terapi di Indonesia masih relatif mahal sehingga hanya mampu menjangkau kalangan mampu.

Semoga bermanfaat, wassalam.

Sumber : Kompas.com
baca selengkapnya- Kasih Sayang, Kunci Menangani Anak Autis

Minggu

10 Kebiasaan Salah (Sepele) Orang Tua Kepada Si Kecil


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Informasi ini sangatlah penting bagi anda seorang ibu terlebih bagi ibu-ibu muda yang baru memiliki baby, Kebiasaan ini mungkin sering dilakukan, Tetapi bahkan ketika kita berpikir kita melakukan segalanya dengan benar, ternyata kebiasaan itu salah. Berikut adalah 10 dari kesalahan terbesar bahkan yang sering dilakukan ibu cerdas sekalipun...

1. Berbagi tempat tidur dengan bayi.
Berbagi tempat tidur (tidur seranjang dengan bayi) adalah hal biasa di Amerika Serikat: Jumlah bayi yang berpelukan dengan orang tua mereka pada malam hari lebih dari dua kali lipat (dari 5,5% pada tahun 1993 menjadi 12,8% pada tahun 2000), menurut National Infant Sleep Position Study.
Biasanya Bayi yang tidur di tempat tidur orangtua mereka memiliki kemungkinan 40 kali lebih mungkin mati lemas daripada mereka yang tidak, berdasarkan penelitian Universitas St Louis 2003.
Mengapa? Bayi mungkin akan tertahan oleh selimut, orang tua berguling di atas mereka, atau terjebak antara kasur dan dinding.
Untuk tidur dengan aman (terutama selama tahun pertama bayi), buatkanlah tempat tidur khusus atau tempat tidur bayi di samping tempat tidur Anda. Tidak ada bantal atau boneka binatang yang menimbulkan potensi bahaya bagi bayi. Jangan biarkan selimut terlalu longgar, karena dikhawtarikan dengan mudah dapat menutupi wajah si bayi. Sebaliknya, gunakan kantung tidur hangat, dengan lubang untuk kepala dan lengan. Dan tentu saja, selalu meletakkan bayi tidur telentang untuk mengurangi risiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS)

2. Membiarkan anak Anda untuk tidur dengan susu atau jus.
Ini adalah penyebab utama gigi berlubang pada anak, kata Michael Ignelzi, dokter gigi Greensboro, NC dan juru bicara American Academy of Pediatric Kedokteran Gigi.
Ketika anak-anak minum susu atau jus sepanjang hari atau malam dapat menyebabkan berkembangnya bakteri di rongga mulut yng dapat mengubah gula minuman 'menjadi asam gigi membusuk.
Seberapa seriuskah? Baru-baru ini, Ignelzi melakukan penelitian pada anak berusia 23 bulan. balita itu sudah minum susu setiap malam selama ini, katanya. hasilnya "gula susu telah membusuk pada gigi bayi baik pada bagian depan atas ke bawah dan ke gusi."
Jadi membatasi lebih baik memabatasi pemberian susu dan jus untuk yang terlalu banyak terutama di waktu malam sebelum tidur karena dengan pembatasan ini "akan menimbulkan banyak aliran saliva, yang menetralisir asam di mulut balita" jelas Ignelzi.


3. Membeli Mainan atau Perabotan Bekas untuk Bayi
Bagi kalangan ekonomi bawah, biaasanya mereka membuatkan mainan pada ba dari sisa bahan2 yang tidak terpakai, atau membelinya pada toko mainan yang krang begitu memperhatikan kesehatan bayi.
Jadi sebelum anda membeli mainan perhatikan lah mainan tersebut, apakah layak dan tidak berbahaya bagi bayi anda. jangankan produk yang bekas, saat ini banyak juga produk mainan baru yang tidak aman untuk anak-anak.
"Kebanyakan orang-orang tidak menyadari bahwa produk anak-anak yang mereka gunakan berpotensi mematikan," kata Gary Smith, MD, direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Cedera di Nationwide Children's Hospital di Columbus, Ohio.

4. Mempertontonkan Tayangan “smart baby” DVD pada bayi
Alih-alih meningkatkan kemampuan bahas, program tv aatau dvd tampaknya menghambat mereka. Untuk setiap jam bayi menonton DVD pendidikan tersebut, mereka tahu 6-8 kata-kata lebih sedikit dari bayi yang tidak melihat DVD itu, menurut studi University of Washington (2007).
Studi lain 2009 UW ditemukan bahwa ketika TV aktif, bahkan jika orang tua kurang berinteraksi dengan anak-anak mereka, hal ini juga dapat menghambat perkembangan bahasa. bayi mendengar kata-kata sekitar 7% lebih sedikit. dibanding Jika dibimbing Lansung Oleh orantua atau Lingkungannya

5. Menempatkan anak-anak pada Troli saat berbelanja.
Troly belanja Supermarket mungkin tidak terlihat berbahaya. Tapi setiap tahun sekitar 20.000 anak-anak berakhir di ruang gawat darurat karena mereka jatuh dari troly.
"Troly ini adalah mutlak tempat terburuk" untuk dinaiki seorang anak, Smith mengatakan. "Seorang anak sangat berbahaya jika saat berbelnja ia meraih benda (rak etalase) saat troly berjalan terlebih jika orang tua sedang sibuk berbelanja dan tidak memperhatikan anak, karna dikhawatirkan anak tersebu dapat terjatuh dari troly."
Cara yang lebih aman untuk berbelanja dengan anak Anda? Pilih troly yang memiliki tempat untuk anak yang lebih rendah ke tanah. Karena jika terjadi sesuatu hal buruk, anak tidak jatuh begitu faatal dari troly.


6. Berbagi peralatan dengan anak Anda.
Sudah menjadi suatu hal biasa ketika seorang ibu sebelum menyuapi anaknya mencicipi dulu makanan tersebut, dengan sendok yang sama yang juga digunakn untuk menyapi anaknya. atau jika makan atau dot terjatuh, ibu akan membersihkanya dengan meniup atau membersihkanya dengan tangan tanpa di cuci. hal ini juga sangat berbahaa bagi bayi.
Ini adalah cara yang menyebabkan bakteri (dan kuman lain) yang ada di dalam mulut Anda masuk ke dalam rongga mulut bayi Anda, kata dokter gigi Ignelzi.
Ide bersih: Akan lebh baik jika Sendok khusus yang digunakan oleh bayi tidak digunakan oleh siapapun. Dan mencuci bersih benda kebutuhan bayi saat terjatuh seperti Dot dan lain-lain.


7. Menunda atau Tidak memberikan vaksin atau Imunisasi
Beberapa orang tua - seperti selebriti Jenny McCarthy - menolak untuk memberikan anak-anak mereka vaksin untuk campak, gondok dan rubela (MMR) karena mereka percaya bahwa pemberian Vaksin menyebabkan autisme. kecenderungan lain adalah mengabaikan jadwal vaksin direkomendasikan oleh Departemen kesehatan.
Sebenarnya, ini adalah kesalahan yang mengancam jiwa.
Menunda pemberian vaksin anak sngatlah berbahaya "Sebenernya, penyakit yang dapat dicegah pada saat yang paling rentan dalam kehidupan mereka, yaitu pada masa bayi," Ungkap Christopher Tolcher, MD, profesor klinis di UCLA dan juru bicara American Academy of Pediatrics.
melewatkan MMR tidak akan mencegah autisme, kata Paul Offit, MD, kepala penyakit menular di Children's Hospital of Philadelphia dan penulis Autism's False nabi: Bad Science, Risky Kedokteran dan Mencari Cure (Columbia University Press) . menolak vaksinasi MMR meningkatkan kemungkinan bahwa seorang anak akan mendapatkan campak - masih menjadi pembunuh utama anak-anak di seluruh dunia - sampai 35 kali.
Pada tahun 2008, ketika AS mengalami wabah campak yang terbesar dalam satu dekade, hampir setengah dari 131 anak-anak sakit karena tidak divaksinasi.

8. Membiarkan anak Anda sendirian di dalam mobil "Meskipun hanya sebentar."
Anak Anda hanya tertidur di dalam mobil dan Anda harus mengambil susu sebelum Anda pulang. Anda akan cepat, Anda berpikir. Apa salahnya?
Ini lebih berbahaya daripada yang Anda pikirkan. Sekitar 36 anak meninggal setiap tahun karena mereka ditinggal sendirian di dalam mobil yang panas. Pada sekitar 18% kasus, anak itu sengaja ditinggalkan sementara orangtua mengerjakan tugas kerjaan mereka. "Orang-orang tidak menyadari betapa cepat mobil memanas," kata Smith. Bahkan pada hari yang ringan (tidak terlalu panas), suhu di dalam mobil yang diparkir bisa mencapa 19 derajat di atas udara luar adalah - hanya dalam 10 menit. jadi "Dalam waktu 20 menit, rasanya seperti sebuah oven," katanya.
Karena tubuh anak-anak akan lebih cepat panas sekitar tiga sampai lima kali dari 'orang dewasa, tidak butuh waktu lama untuk bayi atau anak untuk mendapatkan suhu panas. Dan itu bisa berakibat fatal.

9. Melewatkan helm pada naik sepeda roda tiga.
Jatuh tiga sampai empat kaki dapat menyebabkan cedera serius, bahkan jika anak tersebut tidak mengayuh sepedahnya. "Anak-anak yang bermain sepedah di atas permukaan yang keras perlu memakai helm," kata Smith. "Tidak masalah jika empat roda, tiga roda atau dua roda.".
Hal ini dapat membentuk kebiasaan.
Anak-anak yang mengenakan helm ketika mereka mengayuh sepedah yang lebih cenderung taat memakai helm mereka ketika mereka sudah dewasa terlebih sat naik sepeda motor atau melakukan trik pada skateboard atau skuter. "Ini seperti mengenakan sabuk pengaman di dalam mobil," kata Smith. "Anda mulai sejak dini dan konsisten maka akan menimbulkan sikap disiplin pada anak.

10. Membiarkan anak Anda sendirian di Kamar mandi
Sekitar 100 anak-anak di bawah 5 tahun setiap tahun tenggelam di bak mandi, biasanya karena orang tua atau pengasuh lengah atau lupa selama beberapa menit.
"Anak-anak kecil perlu pengawasan konstan dalam dan di sekitar air,"kata Smith. "Anda harus mampu menjangkau dan menyentuh air."
Bahaya lain: terpeleset dan jatuh. Penelitian baru dari pusat Smith menunjukkan bahwa lebih dari 43.000 anak-anak terluka dalam bak mandi dan kamar mandi setiap tahun.

Semoga bermanfaat, wassalam

sumber: http://sekolahkami.synthasite.com/kumpulan-artikel/inilah-10-kebiasaan-yang-salah-sepele-ibu-pada-si-kecil
baca selengkapnya- 10 Kebiasaan Salah (Sepele) Orang Tua Kepada Si Kecil

Selasa

Mendidik Anak dengan Mitos?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Bila anak terus-menerus dijejali mitos maka daya pikirnya tidak akan berkembang dengan baik.

"Jangan duduk di atas bantal, nanti pantat kamu bisulan!" Percuma saja menanyakan alasannya, karena itulah mitos: anggapan yang sudah memasyarakat tetapi belum tentu kebenarannya.
Sadar atau tidak, mitos sudah sangat kental hidup di lingkungan kita. Bahkan, sejak kecil anak-anak sudah dijejali dengan beragam mitos. Ketika kita melarang mereka agar tidak duduk di atas bantal misalnya, mitos bisul itu yang jadi alasan. Atau ketika kita kesal melihat si kecil memain-mainkan beras, terlontar larangan seperti ini, "Jangan memainkan beras, nanti tanganmu keriting."

MENGAPA MITOS TIDAK EFEKTIF?

Mengedepankan mitos sebagai alasan dari sebuah larangan, menurut Ade Irma Shalihah, Psi., adalah tindakan yang kurang tepat. Bagaimanapun, kata Staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta ini, mitos merupakan penjelasan yang bersifat tak logis. Kebenarannya masih perlu diuji. Apalagi, seringkali mitos dikaitkan dengan hal-hal gaib padahal anak belum bisa mencernanya.

Memang, kognisi anak usia prasekolah dalam memahami sesuatu sudah lebih berkembang dari sebelumnya. Dia sudah bisa diajak berinteraksi dan berkomunikasi. Namun, taraf berpikirnya masih tetap praoperasional, yakni butuh penjelasan konkret. Bila penjelasan yang diberikan sangat abstrak seperti halnya mitos itu, maka sulit bagi anak untuk memahami apa yang dijelaskan kepadanya.

Misalnya, ketika kita melarang anak memainkan beras karena nanti tangannya keriting, dia akan kesulitan mencerna alasan tersebut. Apa hubungannya antara memainkan beras dengan tangan keriting.

Karena penjelasan berupa mitos sulit dimengerti anak, akhirnya larangan atau perintah yang kita berikan menjadi tidak efektif. Anak yang suka duduk di atas bantal dan memainkan beras akan tetap melakukannya karena alasan larangan yang diberikan tidak bisa dicernanya dengan baik.

MENGAPA YANG LOGIS EFEKTIF?

Agar larangan dan anjuran kita terhadap anak bisa dicerna secara efektif, pilihlah kata yang sederhana dan logis. Ketika ingin melarang anak duduk di depan pintu, misalnya katakan, "Kalau kamu duduk di depan pintu, nanti akan menghalangi orang lain yang akan lewat. Lihat, Mama tidak bisa lewat, kan?" bukan dengan mengatakan, "Nanti kamu susah jodoh, lo." Penjelasan "menghalangi jalan" jauh lebih efektif dibandingkan "susah jodoh" tadi. Atau, "Kalau kamu memainkan beras, berasnya jadi berhamburan ke mana-mana, kan? Sayang, dong. Beras itu untuk dimasak jadi nasi dan dimakan oleh kita."

Ketika anak diberi alasan logis, maka mudah baginya untuk patuh terhadap larangan. "Benar, kalau aku duduk di depan pintu, Mama tidak bisa lewat," misalnya. Sangat mungkin dia juga tidak akan mengulanginya di lain waktu. Atau, "Wah benar juga nih, berasnya jadi berhamburan ke mana-mana. Padahal, ini, kan, untuk makan kita semua."

Penjelasan secara logis juga mengajak anak untuk belajar merangkai hubungan sebab akibat yang merupakan dasar logika. Kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu karena orang lain tidak bisa lewat, jadi dia harus pindah.

Sebenarnya hal ini merupakan sesuatu yang sangat sederhana, tetapi bagi anak keberhasilannya merangkai kejadian sebab akibat sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berpikirnya dan merangsang kecerdasannya.

Sebaliknya, kalau setiap hari anak dijejali mitos yang sulit dicerna, selain tidak efektif, ia pun tidak terlatih merangkai hubungan sebab akibat. Kemampuan berpikirnya juga tidak akan berkembang, karena sampai masa dewasanya ia akan selalu mengaitkan segala sesuatu dengan hal-hal yang tidak logis. Bisa saja, akan terbentuk pribadi yang selalu takut dan ragu menghadapi beragam persoalan yang sebenarnya sangat simpel. Kita sama-sama tahu bukan, penjelasan logis sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap persoalan.

Bila mitos ini terus-menerus diberikan kepada anak, tidak mustahil ia akan dibuat bingung. Mungkin saja, di kesempatan lain anak mendapat penjelasan yang berbeda, akibatnya ia bingung menentukan penjelasan mana yang harus dianggap benar. Pada akhirnya, kebingungan ini bisa mengganggu proses internalisasi baik ke dalam diri maupun lingkungannya.

Meskipun demikian, penjelasan logis yang diberikan tetap harus dalam batasan. Inilah alasannya:

* Harus disadari bahwa kemampuan berpikir anak usia prasekolah baru sampai di tahapan konkret. Jadi dalam memberikan penjelasan sertai dengan suasana dan benda konkret.
* Selain itu, kemampuan berbahasanya juga masih terbatas karena belum semua kata bisa dipahaminya dengan baik.
* Anak balita sangat berorientasi pada masa sekarang. Dia hanya mampu memperhatikan kejadian yang dialaminya saat ini.


KIAT MEMBERIKAN PENJELASAN

Karena taraf berpikirnya yang masih seperti inilah maka ketika memberikan penjelasan kita harus memperhatikan beragam hal. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dan kiat menyiasatinya seperti dituturkan Ade:

√ Bahasa Anak
Sangat penting memperhatikan tingkat kognisi anak ketika ingin menjelaskan sesuatu, karena setiap anak berbeda kemampuannya dalam menyerap informasi yang masuk. Kalau diperkirakan anak sangat sulit mencerna penjelasan yang kita berikan, pilihlah kata-kata yang sederhana, konkret, singkat, langsung, dan spesifik. Soalnya proses perkembangan pola pikir dan bahasa anak yang masih terbatas. Jangan menggunakan kata-kata orang dewasa yang tidak dimengertinya. Ketika melarang duduk di atas bantal, gunakan gerakan selain kalimat, walau biasanya, kalimat sederhana saja sudah dapat dipahami dengan baik.

√ Kalimat Jelas dan Lengkap
Sebaiknya ketika menjelaskan kepada anak gunakan kalimat langsung dan sederhana yang mudah dipahami. Misalnya, "Budi, jangan duduk di depan pintu karena kamu menghalangi orang yang mau lewat. Duduknya di kursi teras saja!" Kalimat seperti itu selain menjelaskan alasan larangan dengan sederhana, pun menganjurkan di mana sebaiknya ia duduk.

Hindari penggunaan kalimat yang menimbulkan pertanyaan balik, misalnya, "Budi, jangan duduk di depan pintu!" Tidak adanya alasan hanya akan menimbulkan pertanyaan balik, "Kenapa tidak boleh?" Berarti harus ada kalimat lain untuk menjelaskannya agar anak memahami kenapa dia dilarang.

Hindari juga kalimat yang mengandung pilihan, "Kok, kamu senang banget duduk di depan pintu, kenapa enggak di teras saja?" Kalimat seperti ini akan membuat anak memilih mana yang paling disukainya, di depan pintu atau di teras. Bila dia lebih suka di depan pintu, anak tidak akan pindah dan tidak memahami akibat negatif duduk di depan pintu.

√ Jangan Menakut-nakuti
Seringkali, larangan dibarengi dengan ancaman yang sifatnya menakut-nakuti anak. "Awas, kalau duduk di atas bantal, di pantat kamu akan tumbuh bisul yang sangat besar!" misalnya. Larangan seperti ini suatu saat akan menjadi bumerang ketika pantat anak ternyata tidak bisulan. Ketika nantinya kita melarang kembali, anak bisa membantah. "Mama bohong, aku enggak bisulan, kok!"

√ Jangan Menghujat
Ketika melarang sesuatu sebaiknya hindari kata-kata menghujat, memojokkan, mengancam, dan sebagainya. Orang tua harus ingat bahwa anak usia balita butuh waktu untuk memahami isi perintah. Jadi meskipun kesannya bandel atau tidak bisa dibilangi, tetapi sebenarnya anak hanya butuh waktu. Kalau kita menghujatnya, anak akan merasa disemena-menakan sehingga citra dirinya pun menjadi negatif. Bahayanya lagi, bila nantinya anak meniru kata-kata hujatan yang pernah kita ucapkan.

Jangan berpikir bahwa kitalah yang berkuasa dan boleh berkata semaunya. Hal ini akan membuat anak tidak nyaman berbicara kepada kita. Sebaiknya, berpikirlah bahwa anak harus diperlakukan secara lembut. Ketika kita ingin bicara dengannya, gunakan kata-kata yang halus, tidak bernada tinggi, marah, menghardik, dan sebagainya. Dengan bersikap seperti ini akan membuat anak merasa nyaman kala berbicara dengan kita.

√ Jadikan Sahabat
Jadikan anak sebagai "teman atau sahabat" kita. Dengan cinta, usaha dan kemauan untuk terus belajar dari pengalaman akan membuat komunikasi orang tua dan anak menjadi lebih efektif. Tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang mustahil.

√ Banyak Membaca
Terkadang, untuk menjelaskan sesuatu kita butuh informasi tambahan agar apa yang kita jelaskan kepada anak tidak salah. Informasi tambahan ini bisa didapat dari buku atau berbagi dengan orang tua lain. Bukankah, apa yang kita jelaskan ke anak harus benar bukan malah membingungkan.

√ Sesuaikan Karakter
Kita tahu karakter anak berbeda-beda. Tidak semua anak senang dengan penjelasan yang menggurui, juga tidak semua anak senang dengan penjelasan yang sambil lalu. Bila anak senang dengan sosok menggurui, pilihlah cara ini. Demikian sebaliknya. Hal ini untuk efektivitas penyampaian penjelasan yang kita berikan.

√ Beri Penghargaan
Bila anak berhasil melakukan perintah dengan baik, jangan lupa untuk segera memberikan penghargaan berupa perhatian. Banyak anak yang butuh pujian dan bukan hanya perintah atau larangan. Pujian bisa membuat anak bersemangat untuk mematuhi perintah dan larangan.

Perhatian yang kita berikan juga seringkali membuat anak bersemangat untuk bicara. Caranya, misalnya dengan menyejajarkan tubuh dengan anak, melakukan kontak mata, atau mengulang apa yang dikatakan anak untuk memperoleh kejelasan. Dengan begitu, anak merasa bahwa apa yang dibicarakannya itu mendapat perhatian dari orang tuanya dan anak tidak canggung lagi ketika nanti ingin berbicara kembali.

Banyak.. kan, orang tua yang tidak tahu bagaimana cara berbicara yang baik dengan anak. Ketidaktahuan inilah yang sering membuat hubungan antara orang tua dengan anak tidak berjalan harmonis. Orang tua selalu berbicara dengan caranya yang padahal sama sekali tidak sesuai dengan keinginan anak.

Semoga bermanfaat, wassalam
sumber: http://www.lptcindo.com/tips-psikologi/item/24-mendidik-dengan-mitos-bolehkah?.html
baca selengkapnya- Mendidik Anak dengan Mitos?

Kamis

Perlukah Les Membaca dan Menulis untuk Balita?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Fenomena memberikan les membaca, menulis pada anak balita semakin marak saja belakangan. Begitu anak memasuki usia 3 tahun mulailah para orangtua sibuk menyertakan putra-putrinya pada kursus-kursus “akademik” dengan alasan mempersiapkan anak-anak mereka masuk ke Sekolah Dasar (SD). Semakin awal persiapannya semakin baik, begitu pandangan mereka.

Apakah ketrampilan membaca dan menulis memang penting?
Betul. Mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi ketrampilan membaca, dan menulis merupakan ketrampilan yang mayoritas dipakai murid di sekolah oleh karena sebagian besar pengetahuan dan ketrampilan disampaikan dalam bentuk bahasa tertulis.

Dampak Pemberian Kursus Akademik di Usia Balita
Apakah saat memasuki SD, anak balita yang diikutkan les membaca dan menulis sudah pasti bisa belajar dengan lebih lancar dan baik dibanding mereka yang tidak les? Tidak. Penelitian yang dilakukan oleh K. Hirsh-Pasek (dalam Hirsh-Pasek & Golinkoff, 2003) menunjukkan bahwa anak-anak yang bersekolah di preschool yang bersifat “akademik” tidak mempunyai kelebihan akademik (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dibandingkan mereka yang masuk di preschool tradisional yang mementingkan bermain dan penemuan (discovery). Bahkan ketika mereka sudah duduk di kelas 1 SD, tidak dapat dibedakan lagi antara ketrampilan intelektual anak yang mendapat kursus “akademik” dan yang tidak.

Mengapa demikian?
Karakteristik dari perkembangan fisik, emosi, dan kemampuan berpikir (kognisi) anak balita belum memadai untuk menguasai ketrampilan membaca dan menulis. Mengajarkan anak suatu ketrampilan yang tidak sesuai dengan perkembangannya sama saja dengan pengkarbitan, yaitu memaksa anak “matang” sebelum waktunya. Akibatnya banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pemberian berbagai kursus “akademik” pada anak balita akan membawa dampak negatif baik jangka pendek maupun jangka panjang. Contoh:

Tingkat kecemasan dan depresi pada anak meningkat. Suatu tugas akan dilihat anak lebih sebagai ancaman (karena sulit) daripada tantangan sehingga anak menjadi cemas, takut tidak bisa, takut berbuat salah. Kecemasan ini bervariasi dari yang ringan sampai tingkat tinggi.

Anak yang fobia sekolah (takut pada sekolah) bertambah jumlahnya. Taman bermain tidak lagi dilihat anak sebagai tempat bermain yang menyenangkan tapi tempat dimana anak dibebani dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan.

Keberhasilan di sekolah bukan semata ditentukan oleh ketrampilan membaca dan menulis. Ada yang lebih penting dan lebih layak usia (age-appropriate) yang perlu dibekali pada anak balita, yaitu Kesiapan Belajar.

Apa Itu Kesiapan Belajar?
Ketika belajar menyetir mobil, ada prasyaratnya yang harus dipenuhi seseorang diantaranya: tinggi badan yang cukup (kaki bisa menyentuh pedal), daya penglihatan baik, koordinasi motorik tangan-kaki-mata baik. Jika prasyaratnya tidak dipenuhi, maka latihan yang seberat apapun tidak akan memberikan hasil yang maksimal.

Demikian juga dengan belajar membaca dan menulis. Ada beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi, yang menandakan bahwa anak sudah “SIAP BELAJAR”. Dalam dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) istilah ini dikenal dengan Kesiapan Belajar (Learning Readiness), yaitu prakondisi pada siswa yang menjadi persyaratan agar siswa dapat belajar ketrampilan/pengetahuan di Sekolah Dasar (SD) dengan baik. Kesiapan Belajar inilah yang harus dimiliki setiap anak yang akan masuk SD. Oleh sebab itu masa balita adalah masa membekali anak dengan Kesiapan Belajar.

Kesiapan Belajar bisa kita kelompokkan menjadi dua: utama dan khusus.

Kesiapan Belajar Utama:
Kesiapan Belajar Utama adalah prakondisi yang pertama-tama perlu dimiliki sebelum seorang anak mulai belajar ketrampilan atau pengetahuan apapun:
Kemampuan menyimak
Kemampuan mengikuti instruksi
Kemampuan berkonsentrasi (rentang perhatian yang cukup panjang)
Kemampuan mengingat (obyek atau urutan peristiwa)
Kemampuan memahami pembicaraan, cerita, kata, kalimat.
Kemampuan mengekspresikan diri secara verbal (kecuali yang berkebutuhan khusus)
sikap belajar yang positif (tekun, penuh rasa ingin tahu, inisiatif, berani, bermotivasi)
Jika anak tidak memiliki semua kemampuan di atas maka proses belajar akan mengalami gangguan dan hambatan.

Kesiapan Belajar Khusus:
Adalah prakondisi untuk belajar ketrampilan/pengetahuan khusus dalam hal ini membaca, dan menulis:

Ketrampilan pra-membaca.
Sebelum seorang anak bisa menulis, ia harus bisa membaca. Sebelum ia bisa membaca, ia harus mempunyai ketrampilan pra-membaca. Misalnya: ia harus bisa membedakan bentuk, mengerti arah: atas, bawah, kiri, kanan. Kenapa? Karena inilah kemampuan yang membantunya bisa membedakan huruf-huruf yang hampir serupa seperti: b, p, q, dan d. Berikut adalah beberapa ketrampilan pra-membaca yang harus dikuasai anak:
Kemampuan memahami urutan (Sequencing)
Kemampuan membedakan bentuk/warna (visual) ataupun suara (auditori)
Kemampuan membedakan arah: kiri, kanan, atas, bawah.
Ketetapan bentuk (form constancy)

Ketrampilan pra-menulis.
Anak juga akan lebih cepat dan mudah belajar menulis jika ia memiliki: otot lengan dan jari tangan yang kuat dan lentur, sehingga ia bisa: Memegang alat tulis dengan benar.
Menarik garis dengan tegas dan tekanan yang cukup.
Membuat berbagai bentuk dasar: garis, lengkung, lingkaran, kotak, dll.

Wassalam,
intisari sumber: http://www.parentsguide.co.id/dsp_content.php?pg=cns&id=185&emonth=10&eyear=2010&kat=3
baca selengkapnya- Perlukah Les Membaca dan Menulis untuk Balita?

Sabtu

Awas! Pasta Gigi Bisa Merusak Otak


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Liputan6.com, Florida: Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peniliti dari Universitas Florida menemukan efek berbahaya dari pasta gigi dan sabun. Penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan triclosan dalam pasta gigi, jika digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan otak pada janin.

Seperti dilansir Zee News, Rabu (1/12), triclosan yang sejak 50 tahun lalu dipercaya dapat membunuh bakteri, ternyata dapat menghambat aliran darah ke rahim. Terganggunya aliran darah yang bermuatan oksigen adalah penyebab utama terjadinya kerusakan jaringan otak pada janin.

Dalam penilitian ini, para peneliti melakukan tes pada seekor domba dan hasil tes menunjukkan terganggunya hormon estrogen pada anak domba. Hormon esterogen membantu arteri utama tetap terbuka untuk membawa darah yang penuh dengan oksigen ke dalam futus. Jika hormon ini terlalu sedikit, maka arteri itu akan menyempit dan suplai oksigen akan terhambat.

"Penelitian kami menemukan efek berbahaya dari triclosan. Saat ini kami masih belum mengetahui seberapa jauh triclosan dapat mempengaruhi kerusakan pada otak janin. Kami merasa perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kasus ini," kata Pimpinan Penelitian Universitas Florida Profesor Margaret James.

Triclosan selama ini sering digunakan pada campuran pasta gigi, deodoran, sabun cuci tangan hingga cairan pembersih tubuh dan bahkan mainan anak-anak.

Badan AS yang mengurusi masalah makanan dan obat-obatan (Food and Drug Administration), saat ini melakukan penelitian ulang tentang bahaya triclosan. (zeenews/Des/MLA)

Wassalam,
sumber: http://kesehatan.liputan6.com/info/201012/309358/Awas.Pasta.Gigi.Bisa.Merusak.Otak
baca selengkapnya- Awas! Pasta Gigi Bisa Merusak Otak

Jumat

Mengukur Kemampuan Kreatifitas Anak


indosiar.com - Ketika anak balita Anda jatuh dan bagian tubuhnya membentur meja, apa yang harus dilakukan ? Memarahi anak karena tidak hati-hati ? Mengatakan meja yang nakal kepada anak dan membelanya dengan memukul meja ? Salah-salah meja akan terus menjadi objek dendam anak.

Sebagai orang tua, jika kita salah bertindak saat menghadapi hal itu, bisa berakibat fatal menjadikan anak lemah mengatasi masalah, atau dalam bahasa psikologi disebut dengan proven solving.
Mengapa ? Karakter anak yang mandiri (mampu membimbing dirinya sendiri) terbentuk sejak balita. Masa balita adalah masa anak menangkap dan mengingat perlakuan yang dilihat dan diterimanya. Saat itu, kecerdasan dan kreatif anak berkembang. Jika kita tidak memahami dan memperhatikan, salah-salah sifat anak akan jauh dari kemampuan kecerdasan dan kreatifitas.

Dalam seminar Peran Orang tua Dalam Menstimulasi Anak Cerdas Berkualitas di Rumah Sakit Harapan Kita, psikolog anak Rumah Sakit Harapan Kita Dra Anie Lurfia Perbowo mendeskripsikan kriteria anak cerdas dan kreatif ke dalam beberapa aspek. Yakni :
- Kemampuan umum
- Kreativitas
- Motivasi diri

Peran ketiganya sama penting. Meski seseorang berpotensi intelektual dan berkreativitas tinggi, namun bila dalam menghadapi tugas kurang menunjukkan motivasi maka yang bersangkutan tak akan berhasil. Sebaliknya, jika berkemampuan dan kreativitasnya dalam taraf sedang namun memiliki motivasi diatas rata-rata, maka dikatakan berpotensi.

Cerdas Versi IQ
Umumnya orang beranggapan hasil tes IQ berkaitan dengan kecerdasan. Anak ber-IQ 130 dianggap berkemampuan luar biasa dalam segala bidang. Jika anak jago olahraga namun ber-IQ taraf rata-rata, atau anak yang nilai matematikanya jeblok dan IQ-nya taraf rata-rata, maka dianggap anak bodoh.
Pemahaman seperti itu tak tepat, IQ hanya mengukur kemampuan linguistik dan logika matematika sedangkan KECERDASAN mengacu pada kemampuan problem solving.

Hasil tes IQ anak perlu dikritisi. Orang tua perlu menanyakan bisakah dan bagaimana cara mengoptimalkannya. Orangtua jangan cepat puas punya anak yang ber-IQ TINGGI lalu lupa untuk terus mendampingi dan menstimulasi anak. Sebaliknya jangan pula bersedih hanya gara-gara anak dinyatakan nilai IQ taraf DIBAWAH RATA-RATA, menganggap anak tak cerdas padahal mungkin saja belum diasah secara maksimal.

Kenyataannya IQ TINGGI tak menjamin yang bersangkutan berhasil dalam kehidupannya kelak, perannya hanya sebesar 20%. Banyak contoh yang membuktikan hal tersebut antara lain orang yang berIQ TINGGI, namun belum tentu mampu berempati atau melakukan tindak pidana.
Lantas bagaimana menilai anak memiliki kreatifitas atau tidak, jika kemudian angka yang didapat kurang dari 70 saat test IQ.

Untuk mengetahui apakah anak kita kemudian mampu menjadi kreatif, Spesialis Anak RS Harapan Kita DR.SC. Utami Munandar lebih memilih anak melakukan uji analisa CQ (Creativity Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient). Secara harfiah, untuk menggambarkan arti kreativitas sesungguhnya. "Arti kreativitas yakni sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran keluwesan, orisinalitas berfikir dan kemampuan elaborasi (mengembangkan, memerkaya, merinci) suatu gagasan atau CQ (Creativity Quotient).

Banyak kita dapati perlakuan dan tindakan anak dengan berbagai polah dan tingkah laku. Sehingga ekspresi kreativitas anak kerap menimbulkan efek kurang berkenan bagi orangtua. Orangtua melarang anak merobek-robek kertas karena takut rumah jadi kotor, atau berteriak saat anak main pasir karena takut anak terkena kuman. Padahal tiap anak memiliki ekspresi kreativitas yang berbeda, ada yang terlihat suka mencoret-coret, beraktivitas gerak, berceloteh, melakukan eksperimen, dan seterusnya. Berarti penyikapan orangtua seperti itu menghambat kreativitas anak.

Unsur emosi EQ (Emotional Quotient) dalam kecerdasan adalah bagian berikutnya yang perlu diperhatikan. Kecerdasaan emosi merupakan kemampuan mengidentifikasikan emosi, mengekspresikan perasan, mengendalikan dan menunda ledakan emosi, memahami perasaan orang lain (empati), mampu menyesuaikan diri secara sosial.

SQ (Spiritual Quotient) bukan RQ (Religious Quotient) 

RQ adalah ketrampilan dalam melaksanakan semua aturan agama yang dianutnya. SQ adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan kata hatinya yang manifenstasinya terlihat saat berinteraksi dengan sesama; misal bersikap ramah pada siapapun tanpa memandang suku atau agama misalnya.

Jika anak balita memiliki SQ paling tinggi, dia jujur mengungkapkan sesuatu beradsarkan apa yang ada di lubuk hatinya. Bila tak suka, anak balita akan bilang tak suka, tak memanipulasi jawabannya. Sejalan bertambahnya usia, SQ akan menurun, karenanya orangtua harus terus mengajarkan anak untuk mengembangkan SQ-nya, misal mengajarkan anak bahwa kakak menolong adik bukan karena dilandasi kewajibannya sebagai kakak semata, namun dilandasi nilai kasih saying pada adik.

Kemampuan IQ tinggi dengan dibarengi EQ belum cukup jika tidak dibarengi oleh SQ. Misalnya pada kasus mengerjar uang dan jabatan dengan cara mengabaikan apakah intelektual dan emosi yang digunakan telah menyingggung atau merugikan orang lain.

Jika semua unsur tadi sudah terpenuhi apakah kemudian anak sudah bisa dibilang sempurna ?

Pakar Sosilog anak DR Howard Gardner dalam riset yang dilakukannya mendapati adanya kecerdasan anak yang majemuk. Dalam kesimpulannya, tidak ada anak bodoh dan pintar. "Yang ada anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan" ujarnya.
Sikap dan pengetahuan orangtuanyalah yang menentukan apakah potensi kecerdasan anak akan berkembang atau justru padam.(Her/Ijs)

sumber : http://www.indosiar.com/ragam/73517/mengukur-kemampuan-kreatifitas-anak
baca selengkapnya- Mengukur Kemampuan Kreatifitas Anak
Kata Sahabat :