Panduan dan Tips Praktis Edukasi Dunia Anak agar lebih imajinatif, cerdas dan kreatif bersama Mind Mapping, Glenn Doman, Multiple Intellegence, Brain Games, Memory, Dongeng, Cerita, Puisi, Gambar, Kartun Lucu, dan lainnya.

Kumpulan Game Kreatif, Brain Games, Brain Test

Tampilkan postingan dengan label Pola Asuh Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pola Asuh Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa

Kapan Sih Waktu Yang Tepat Perkenalkan Gadget Smartphone Ke Anak Kita?

Assalamualaikum salam cerdas kreatif,

Kita sebagai otang tua pastinya sudah tahu kalai pengaruh gadget/smartphone samgat besar pada perkembangan anak-anak kita di zaman sekarang. Tentunya, bagi orang tua yag menerapkan aturan bijak mengenalkan gadget pada anak dapat berpengaruh positif sebagai media pembelajaran yang menyenangkan. Sedangkan di lain sisi penggunaan yang terlalu sering dan membuat anak kita ketergantungan sehingga hanya menginginkan bermain dengan gadget saja, sehingga efek negatifnya akan membuatnya menjadi anak yang anti sosial, cenderung tertutup dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Dalam menyikapi perkembangan teknologi saat ini termasuk gadget ada baiknya, kita sebagai otang tua mengetahui waktu yang tepat dalam pemberian gadget pada anak-anak kita. Kapan??? .... Dalam pemberian gadget dapat disesuaikan dengan perkembangan usia anak kuta, musalnya pada usia 5 tahun anak dapat diperkenalkan warna, bentuk dan juga suara.Tentu saja pada usia ini juga anda harus mampu membatasinya pemakaian gadget sehingga fungsinya tetap dapat membantu orang tua untuk mengedukasi anaknya.

Selain itu pertimbangan selanjutnya pada usia 5 tahun perkembangan otak anak sudah optimal apabila diberikan rangsangan sensorik secara langsung berbeda dengan anak di bawah usia 5 tahun yang diberi gadget akan berdampak berkelanjutan apalagi bila tidak didampingi oleh orang tua ... sehingga akan berdampak pada kurangnya interaksi dengan lingkungannya.

Pada otak bagian depan memiliki fungsi untuk memberikan perintah untuk menggerakkan anggota tubuh sedangkan pada bagian belakang terdapat penggerak sehingga apabila dapat merangsang hormon endorfin yaitu pusat kesenangan dan kenyamanan maka akan membuat anak kecanduan bermain dengan gadget yang terpola sejak awal perkembangan anak-anak kita.

Nah bagi orang tua yang yang mempunyai anak berusia kurang dari 2 tahun disarankan tidak mengenalkan terlebih dahulu permainan dari jenis layar monitor seperti laptop, komputer tablet atau PC. Hal sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh The American Acedemy of Pediatrics yang dapat dijadikan acuan  bahwa idealnya anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya terbebas dengan permainan yang melibatkan layar monitor. Dikarenakan dampak yang negatif dari pemberian gadget adalah kondisi kesehatan mata selain itu  radiasi dari beberapa ponsel atau tablet PC akan mengganggu perkembangan otak anak anda.

Selain memperkenalkan gadget, terkadang orang tua juga bertanya tanya-tanya loh ... kapan sih waktu yang tepat untuk memberikan kepemilikan gadget pada anak?. Pemberian hak untuk memiliki gadget pribadi pada anak harus anda pertimbangkan usia anak anda.

Dari hasil penelitian yang dilansir dalam situs Cashinyourgadgets.co.uk menemukan ... bahwa:  13% orang tua memberikan gadget pada anak berusia 10 tahun sedangkan persentase terbanyak yaitu pada usia 13 tahun ke atas sekitar 45%. Hal ini dapat menjadi acuan pada orang tua bahwa pemberian kepemilikan gadget sebaiknya tidak terburu-buru akan tetapi pertimbangkan kesiapan anak anda untuk mengikuti aturan main dalam penggunaan gadget tersebut.

Terhadap anak yang sudah diperkenalkan dan memiliki gadget sebaiknya memiliki batasan waktu dalam menggunakan gadget. Buatlah aturan hanya menggunakan gadget tidak lebih dari dua jam dalam satu hari untuk anak usia 5 tahun. Berikan pengertian dan juga pengawasan dalam penggunaan gadget apalagi pada usia anak anda 5 tahun. Setelah usia anak anda pra remaja anda dapat memberikan pengawasan seminggu sekali dan memberikan pengertian bahaya dari penggunaan gadget yang berlebihan yang mengakibatkannya terasing dengan lingkungan sosialnya.

Semoga bermanfaat yaa :)

Daru berbagai sumber
baca selengkapnya- Kapan Sih Waktu Yang Tepat Perkenalkan Gadget Smartphone Ke Anak Kita?

Menyikapi Anak Yang Ngambek



Assalamualaikum salam cerdas kreatif,

Sebagai orang tua, apa yang akan kita lakukan???, bila tiba-tiba anak anda ngambek gara-gara ingin mendapatkan suatu barang yang diinginkannya tidak terpenuhi. Mungkin perasaan anda tidak enak karena pasti orang akan mengira anda tidak becus mengurus anak. Daripada ribut, akhirnya Anda pun mengalah, meluluskan permintaan si kecil.

Menurut psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, orangtua tak perlu malu bila anaknya tiba-tiba bertingkah tak menyenangkan di depan umum. Toh, orang lain pun tahu kalau ini bukan masalah orangtua, tapi masalah anak-anak. “Justru yang perlu diupayakan adalah menenangkan si anak agar tak lebih lama mengganggu ketenangan umum. Dengan tegas, angkatlah ia dan ajak pulang. Pengalaman saya, tatap mata anak dan ajak ia pulang. Jangan tatap anak dengan kesal atau memelototinya, ia akan tahu itu dan akan makin keras mengamuk,” terang Doktor Psikologi lulusan Program Pasca Sarjana UI ini. Kata Seto, lebih baik tatap mata si anak dengan penuh kasih. Ia akan mengerti, ibu atau ayahnya tetap menyayanginya dan permintaannya bisa dibicarakan di rumah.

JADI SENJATA
Yang jelas, wajar jika anak kecil gampang meledak atau ngambek. Terlebih anak usia di atas 2 tahun. Saat itu ia sudah dapat mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau kecemasannya. “Untuk anak yang berusia di bawah 2 tahun, sangat gampang mengalihkannya. Misalnya saat ia ngambek, kita tunjukkan cicak di dinding. Atau tunjukkan ia gambar,” bilang Seto. Lain hal dengan anak usia 2 tahun di mana egonya mulai tumbuh. Ia ingin orang lain mengakui keberadaannya. Dengan cara diam, tak mau berpartisipasi atau berguling- guling, ia ingin orang lain mengerti akan kehadiran “aku”-nya yang baru. Ia pun sangat mementingkan diri sendiri. Apa yang diinginkannya harus dituruti segera dan saat itu juga.
Celakanya, jika perilaku tak baik ini tak ditanggulangi dengan baik, maka akan terus berkembang hingga dewasa. “Itu sebabnya ngambek harus diwaspadai sebagai cikal-bakal berbagai tingkah negatif setelah dewasa kelak. Bisa saja kalau keinginannya tak terpenuhi, lantas minggat dari rumah,” jelas Seto.
Apalagi, anak belajar dari lingkungan. Ia akan belajar bagaimana lingkungan meresponnya. Kalau ia ngambek lalu orangtuanya menuruti kehendaknya, maka ngambek akan dijadikan senjata untuk menarik perhatian “kekuasaan” atau orangtua. Dan tingkat ngambeknya juga akan terus meningkat. Beda jika ia ngambek, masalahnya dicoba dipecahkan. Alhasil, ia tak bisa menggunakan hal itu sebagai senjata. Dengan demikian, jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan ngambek, tapi mengacu pada sistem.

UNGKAPAN PROTES
Yang biasanya terjadi, anak ngambek untuk mengungkapkan protesnya atas kesewenangan orangtua. Terutama pada keluarga yang komunikasinya kurang efektif. Entah karena ayah-ibu yang terlalu sibuk sehingga perhatian pada si kecil sangat kurang, atau karena orangtua terlalu otoriter dan mau menang sendiri. Orangtua selalu memaksakan kehendaknya, sehingga tak pernah mendengar hati nurani anak. “Nah, anak akan merasa diperlakukan tak adil!” tukas Seto. Misalnya saja, pada saat anak minta mainan, orangtua langsung bilang, “Tidak! Mainan kamu sudah terlalu banyak!”
Padahal mungkin saja mainan yang banyak itu dibeli atas inisiatif orangtuanya yang saat membeli, suasana hatinya sedang senang, uang lagi banyak. Padahal, bisa saja si anak sebenarnya sedang tak butuh mainan. Nah, giliran ia memerlukan, justru orangtua berkata tidak. Anak pun merasa diperlakukan tak adil. Semuanya hanya dilihat dari sudut pandang orangtua, tak melalui suatu dialog yang demokratis. Akibatnya, anak frustrasi dan perasaan itu dilampiaskannya dengan cara ngambek.

METODE ANTI KALAH
Harus bagaimanakah kita bersikap? Yang jelas, kita mesti lebih membuka diri, sehingga anak dapat melampiaskan keinginan-keinginannya secara wajar. “Jadilah pendengar yang baik,” anjur Seto. Saat kumpul bersama keluarga, misalnya, ayah dan ibu harus mau mendengar dan menerima permintaan atau keluhan-keluhan anak. Jika anak minta dibelikan buku dan stiker, misalnya, tanyakan padanya, apakah itu sebuah kebutuhan atau keinginan. “Mana yang paling perlu? Buku atau stiker?” Anak pun akhirnya belajar, mana yang penting dan tidak. Kalaupun ia ingin protes, boleh-boleh saja sepanjang diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan bukan tingkah laku ngambek atau membanting pintu.
Tak ada salahnya anak ikut tahu kondisi keuangan ayah dan ibunya sehingga ia tahu persis, orangtua belum bisa memenuhi keinginannya. “Jadi, semuanya harus melalui dialog atau komunikasi,” tandas Seto. Cara lain untuk mengendalikan anak ngambek, adalah metode “anti-kalah” atau musyawarah dalam keluarga. “Tak ada yang kalah atau menang.” Lagi-lagi, dengan cara membuka dialog. Misalnya, “Yuk, kita bicarakan hal ini di rumah. Apa yang kamu mau, akan kita bicarakan dulu. Kalau memang diputuskan untuk dibeli, kita bisa kembali lagi besok.” Alhasil, titik temu yang memuaskan kedua belah pihak pun didapat. “Anak juga sekaligus belajar bahwa ia tak akan berhasil memenuhi keinginannya dengan cara ngambek,” kata Seto.

TENANG DAN KONSISTEN
Seto mengakui, memang bukan pekerjaan mudah mengajak bicara anak kecil yang tengah ngadat. Ia akan melawan, bersikukuh, alias mau menang sendiri. “Makanya, hadapi ia dengan sikap tenang. Kalau kita tampak panik, malu, atau marah-marah, anak malah jadi tambah bertingkah. Tenang, senyum, dan perlihatkan kita tetap menghargainya.
Nah, biasanya ngambeknya akan sedikit lumer,” papar anggota Creative Education Foundation ini. Orangtua bisa berujar, “Ibu tahu kamu kecewa, sedih. Sekarang kita pulang dulu, yuk! Nanti kita bicarakan di rumah. Ibu mau dengar apa maumu.” Lewat ucapan seperti itu, anak tahu, kita mengerti akan kemarahan atau kekecewaannya dan kita bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. “Anak juga akan sadar, ia boleh marah tapi cara marahnya harus baik. Tidak dengan berguling-guling di depan umum. Dari situ ia akan merasa dihargai,” lanjut anggota World Council for Gifted & Talented Children ini. Di sisi lain, anak juga menjadi paham, ayah atau ibunya sudah berubah. Yang biasanya marah-marah, sekarang tak begitu lagi. “Tentunya orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Tiba di rumah, ia harus mau mendengarkan keluhan-keluhan anak dan sama-sama mencari pemecahannya,” kata Seto.

BIKIN “PERJANJIAN”
Sikap pasif orangtua saat anaknya ngambek dengan cara membiarkan atau meninggalkan anak, tak terlalu disetujui pakar psikologi anak ini. “Ada kan, orangtua yang begitu. Anaknya dibiarkan dengan harapan kemarahan anak akan reda dengan sendirinya. Padahal, justru sikap seperti itu bisa membuat anak makin kecewa dan frustrasi. Bisa saja ngambeknya kemudian dialihkan di rumah karena masalah utamanya tak diselesaikan,” tutur anggota International Council of Psychologists ini. Padahal, tutur Seto lebih jauh, tak ada salahnya orangtua bersikap sedikit “merendah” dalam arti mau mendengarkan anak. Sebaliknya, orangtua pun harus berani mengungkapkan segala perasannya secara jujur. Kalau ingin marah, ya, kemukakan saja. Misalnya, “Ibu marah, lo, kalau kamu bersikap begini. Ibu kecewa.”

Jika anak tetap sajangambek, berarti masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Bisa saja orangtua belum sadar tentang hak-hak anak. Hak untuk bermain, berpartisipasi, dan didengarkan oleh lingkungannya. “Tidak jadi robot terus!” tukas Seto. Jika ia tak mendapat hak-hak tadi, “Anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya,” tandas peraih penghargaan The Golden Baloon Award, New York ini.

Selain itu, Seto juga menyarankan agar para orangtua bisa mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang rawan konflik. Misalnya, kalau kemungkinan ia akan ngadat saat diajak ke mal, persiapkan sebelumnya. “Mama mau ajak kamu ke mal, tapi janji, hanya boleh minta satu barang saja. Kamu nanti mau minta apa? Stiker atau boneka? Pilih salah satu, tidak boleh lebih dari itu.” Nah, karena si kecil dilibatkan dalam perencanaannya, ia pun biasanya akan menepati janji karena merasa dirinya dihargai. Bisa juga ditambahkan dalam “perjanjian” itu, apa sanksinya jika si kecil ingkar janji. Misalnya, pada kepergian berikut, ia tak boleh ikut lagi.

HUKUMAN DAN PUJIAN
Dengan menegakkan demokrasi di rumah, anak akan terhindar dari rasa frustrasi. Sebab itulah, sejak anak bisa diajak bicara, sebaiknya biasakan diajak bicara. Anak pun akan merasa dihargai. “Kalau ia biasa dihargai, dipercaya, dan egonya diakui, maka ia akan lebih percaya diri dan tidak mudah ngambek,” kata Seto. Perlukah hukuman diberlakukan dalam hal ini? “Bisa saja, tapi bukan dalam bentuk pukulan atau cubitan. Melainkan dalam bentuk tak dipenuhinya keinginan itu. Biasanya ibu senyum, kok, kali ini tidak dan mukanya datar. Itu saja bagi anak yang peka sudah berarti hukuman,” jelas Seto. Namun, jangan lupa pula memberinya pujian jika ia berkelakuan baik dan dapat menghilangkan sifat ngambeknya.

Sumber : tabloid-nakita.com
baca selengkapnya- Menyikapi Anak Yang Ngambek

Senin

Apa Sih Tujuan dan Manfaatnya Ujian Nasional (UN) ??

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sangat dirasakan bahwa anak bangsa setiap tahun akan merasakan kekuatiran akan UN, bukan saja siswa, guru, orang tua dan pengelola sekolah sendiri. Kekuatiran yang dialami sangat wajar karena dapat menentukan masa depan akan lebih baik atau lebih suram.

Jika disimak dengan baik, hasil UN saat ini belum memberikan manfaat bagi siswa maupun guru dan pihak sekolah selain kekuatiran dan kegelisahan bahkan keputus asahan yang terjadi, karena dengan hasil UN yang diuji akan menentukan nasib belajar selama 6 - 9 - 12 tahun disekolah.

Seolah-olah jerih payah guru dan sekolah ditentukan uji materi beberapa pelajaran yang diujikan dalam UN. Apakah kemampuan seorang anak hanya ditentukan beberapa materi uji itu saja kah ? Adilkah itu bagi siswa, bagi guru, sekolah maupun orang tua ?

Menyimak dan meneliti UN yang diadakan di luar negeri, lebih hanya pada mengukur kualitas hasil didik sekolah disetiap kota / propinsi atau secara national. Untuk dilihat / dinilai / diukur kemampaun rata-rata secara kota / daerah atau nasional. Kemudian diambil kebijaksaan pemerintah setelah dievaluasi dengan cermat, mencari solusi terbaik meliputi metode / kurikulum / sarana - prasarana untuk dibuatkan kebijaksanaan kedepan dalam meningkatkan kualitas guru / sekolah yang semuanya berdampak pada siswa.

Jadi sama sekali tidak menentukan siswa untuk bisa lulus dari ujian melalui UN. Melainkan sebagai data yang akurat kualitas sekolah, ranking sekolah disetiap kota / daerah maupun secara nasional. Dengan data yang transparan ini semua pihak bisa mencerminkan dirinya apakah sudah memenuhi syarat sebagai sekolah yang baik atau apa yang dirasa perlu untuk ditingkatkan terus.

Tanpa kesulitan yang berarti, masyarakat akan menjadi penentu mana sekolah yang baik , mana yang tidak baik. Orang tua akan dengan mudah membaca bahwa anaknya berada di ranking apa jika diukur dalam sekota, se daerah atau secara nasional.

Jika UN jelas sasarannya, maka pemerintahpun akan mudah menentukan kebijaksanaan yang tepat guna, tidak lagi menghamburkan uang yang tidak ada manfaatnya, seperti UN susulan sebagai hiburan bagi yang tidak lulus, secara psikologis tidak ada manfaat apa-apa bukan ? Karena bobotnya sudah berbeda. Semua juga tahu bahwa siswa ini lulus karena susulan, realita ini tidak bisa disembuhkan hanya karena UN susulan dan lulus, effek psikologisnya terlalu besar saat ia mendaftar universitas, hampir universits yang baik akan tertutup bagi dirinya.
baca selengkapnya- Apa Sih Tujuan dan Manfaatnya Ujian Nasional (UN) ??

Jumat

Yuk .. Kita Didik Anak Tanpa Kekerasan

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

MASIH banyak anggapan bahwa anak adalah komunitas kelas bawah, yang merupakan pribadi-pribadi kecil dan lemah yang seolah sepenuhnya harus berada dibawah kendali kekuasaan orang dewasa, sehingga berakibat orangtua pun merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak.

Paradigma yang keliru tersebut kini terus berkembang, sehingga baik di rumah maupun di sekolah banyak diajarkan bahwa anak-anak harus menurut sepenuhnya kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang lain. Sikap anak tidak boleh membantah, mengkritik, apalagi melawan tanpa adanya penjelasan secara terperinci dalam situasi bagaimana hal itu seharusnya dilakukan.

Alfie Kohn (2006) menemukan banyak kasus terjadinya tindak kekerasan, penindasan, dan perlakuan diskriminatif terhadap anak. Anehnya, sikap perlakuan tersebut dianggap sebagai suatu hal yang wajar bahwa seolah-olah mendidik anak memang harus dilakukan dengan kekerasan. Padahal mengasuh anak merupakan tugas yang teramat mulia, karena anak adalah anugerah ilahi dan amanah yang patut kita jaga.

Cara pandang yang keliru tersebut harus diubah sesuai paradigma baru dengan pola pengasuhan anak yang benar. Apabila orangtua menginginkan munculnya pribadi-pribadi unggul di masa depan, diharuskan kepada orang tua dan pendidik untuk menghentikan berbagai kekerasan terhadap anak atas nama pendidikan. Sebab pendidikan tidak identik dengan kekerasan dan tidak sekedar memberikan instruksi atau komando, melainkan harus memberikan hati dan jiwa kedewasaan yang sarat dengan cinta dan kasih sayang.

Sebagai seorang psikolog terkemuka Amerika Serikat, Alfie Kohn memaparkan bagaimana cara mencintai anak. Karena apa yang mereka lakukan (cinta bersyarat) atau mencintai anak karena siapa mereka (cinta tidak bersyarat). Cinta bersyarat artinya, anak-anak harus mendapatkannya dengan bertindak dalam cara-cara yang kita anggap tepat atau melakukan sesuatu dengan standar kita. Cinta tidak bersyarat, dalam hal ini cinta tidak bergantung pada bagaimana mereka bertindak, apakah mereka berhasil atau bersikap baik atau yang lainnya.

Mencintai anak tanpa syarat akan menghasilkan pengaruh positif dan bukan hanya sesuatu yang benar untuk dilakukan secara moral, tetapi juga merupakan sesuatu yang cerdas dan mendidik. Anak-anak perlu dicintai sebagaimana mereka apa adanya dan karena siapa mereka. Karena apabila hal itu terjadi, maka mereka dapat menerima diri sendiri secara mendasar sebagai orang baik, bahkan ketika mereka membuat kesalahan atau gagal. Karena cinta tanpa syarat ini adalah apa yang diperlukan anak-anak untuk berkembang.

Apabila orangtua menggunakan hukuman, penghargaan dan strategi lainnya untuk memanipulasi perilaku anak, mereka mungkin merasa disayang hanya jika mereka menuruti permintaannya. Pengasuhan bersyarat dapat menjadi konsekuensi dari pengontrolan, sebaliknya pengontrolan dapat membantu menjelaskan pengaruh merusak dari pengasuhan bersyarat, namun pengontrolan yang berlebihan secara umum terbukti jelas menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental anak dan keberhasilan mereka di sekolah.

Dalam pola pengasuhan anak yang "otoriter", orang tua yang seperti itu lebih sering menuntut daripada menerima dan memotivasi. Orangtua jarang memberi penjelasan atas aturan yang diterapkan. Orangtua seringkali mengharapkan kepatuhan mutlak dan menggunakan hukuman sesukanya, daripada memberi kebebasan kepada anak untuk berpikir sendiri.

Saatnya kita mengajak kepada semua orangtua agar mengubur dalam-dalam tujuan ambisius dan menuruti keinginannya dengan memakai cara pemaksaan dan kekerasan. Sebagai solusinya yaitu orangtua harus membangun hubungan yang hangat dan kuat dengan anak, serta memperlakukannya dengan hormat, meminimalkan pengontrolan dengan paksa, dan bila perlu memberi penjelasan yang mendidik.

Mengasuh anak dengan paksa maupun memberi hukuman tidak akan membuahkan hasil positif, karena ada beberapa dugaan dan alasan yang rasional berikut. Pertama, konsekuensi hukuman seringkali membuat marah siapapun yang menerima hukuman. Kedua, hukuman merupakan contoh penggunaan kekuasaan, misal hukuman fisik yang diberikan kepada anak-anak adalah kekejaman yaitu penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan masalah.

Ketiga, hukuman pada akhirnya tidak efektif. Seperti yang ditunjukkan Thomas Gardon, "Akibat yang tidak dapat dihindari dari penggunaan kekuasaan yang terus menerus untuk mengontrol anak-anak ketika mereka masih kecil adalah bahwa Anda tidak pernah belajar bagaimana cara mempengaruhi, semakin anda bergantung pada hukuman, maka semakin sedikit pengaruh nyata yang akan Anda miliki dalam kehidupan mereka".

Keempat, hukuman mengikis hubungan orangtua dengan anak-anak. Karena dengan menghukum, penghukum dianggap sebagai musuh, dan membuat anak-anak kesulitan untuk menganggap orangtua sebagai kawan yang penuh perhatian, yang sangat penting bagi perkembangan anak yang sehat. Kelima, hukuman mengalihkan perhatian anak-anak dari persoalan yang sebenarnya dan membuat anak-anak menjadi lebih egois.

Dari kelima model hukuman tersebut di atas, penting menjadi pelajaran bagi semua orangtua, guru dan siapa saja yang terlibat dalam mengasuh dan membimbing anak. Dengan begitu, diharapkan kekerasan pada anak tidak terjadi lagi, karena salah proses pengasuhan.

Semoga bermanfaat. wassalam.

Terima kasih bila sobat-sobat sudi berbagi disini ... :)
baca selengkapnya- Yuk .. Kita Didik Anak Tanpa Kekerasan

Kamis

6 Aspek Utama Tumbuh Kembang Anak

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Aspek perkembangan anak dapat terbagi dalam 6 bagian besar. Satu sama lain saling mempengaruhi. Jika salah satu aspek terhambat perkembangannya, maka akan menghambat perkembangan kelima aspek lainnya.
Pertumbuhkembangan anak yang optimal jika keseluruhan aspek berkembang dengan baik dan sesuai dengan usia. Pola pengasuhan dan peran orang tua sangat besar dalam hal ini. Dukungan dan bantuan orang tua adalah dasar yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh aspek secara optimal.

Apa sajakah 6 aspek tumbuh kembang anak tersebut?

1. Aspek Motorik Kasar
Adalah kemampuan anak untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup geraka gerakan otot besar. Perkembangan motorik kasar dapat dilihat dari kemampuan anak untuk merangkak, berjalan, berlari, melompat, memanjat, berguling, berenang dan sebagainya.

2. Aspek Motorik Halus
Adalah kemampuan anak untuk mengontrol keluwesan jemari tangan yang dapat dilihat dari kemampuan untuk menyentuh, menjumput, meraih, mencoret, melipat, memasukan benda atau makanan ke dalam mulut dan sebagainya.

3. Aspek Kognitif
Adalah kemampuan anak untuk memproses, menginterpretasikan dan mengkategorikan informas-informasi yang diperolehnya melalui panca indera. Kemampuan ini selanjutnya berkembang menjadi kemampuan berfikir logis yang selanjutnya menentukan apakah anak mampu memahami lingkungannya.

4. Kemampuan Bahasa
Sebagai mahluk sosial, sejak bayi anak telah bisa berkomunikasi untuk menyatakan perasaan dan keinginannya, yaitu dengan tangisan, tertawa dan mengoceh yang merupakan awal dari perkembangan bahasa. Selanjutnya anak akan belajar untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa. Kemampuan bahasa selain membantu anak untuk memahami apa yang dikatakan orang-orang disekitarnya, juga untuk dapat dipahami oleh orang lain. Perasaan mampu memahami dan dipahami dapat menumbuhkan rasa percaya diri.

5. Aspek Emosi
Adalah kemampuan anak untuk mengenali berbagai hal yang dirasakannya, mengekspresikan perasaan dalam bentuk yang dapat diterima oleh lingkungannya, serta kemampuan untuk mengendalikan dan mengatasi perasaannya. Kematangan emosi tidak terjadi dengan sendirinya tapi secara bertahap dan sangat membutuhkan peran serta orang tua dan lingkungan sosial.

6. Aspek Sosial
Adalah kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, memberi respon pada orang lain dan berbagi. Pengalaman sosial anak hanya dapat tumbuh dan berkembang dari pengalamannya dengan orang-orang terdekat. Pola asuhan dan arahan orang tua sangat penting dalam perkembangan aspek sosial anak.

Wassalam.

oleh: Fitri Ariyanti dkk
Sumber: Diary tumbuh kembang anak usia 0 – 6 tahun.
baca selengkapnya- 6 Aspek Utama Tumbuh Kembang Anak

Hematlah Kata "TIDAK dan JANGAN" dalam Dunia Anak

Salam cerdas kreatif,

Meski kedengarannya mudah dan biasa, untuk berhemat kata "Tidak dan Jangan" bagi anak-anak kita, mungkin diperlukan tambahan kesabaran bagi kita sebagai orang tua.

Usahakan agar kata ini hanya kita gunakan untuk hal-hal yang penting, darurat, atau yang berbahaya. Pada dasarnya anak menyukai aktifitas. Anak-anak tidak suka dan tidak bisa diam.

Anak akan merasa lebih tertantang dengan kalimat “Coba, Bunda ingin lihat, Adik menyapu halaman depan?” dibandingkan dengan “Adik, jangan menyapu sembarangan begitu!” Dengan kalimat itu anak tidak akan mengerti maksud dengan “menyapu sembarangan”.

Jika kita ingin menggunakan kata "tidak dan jangan" bisa kita gunakan dengan kalimat yang jelas, misalnya, “Adik tidak boleh main pisau, ya!”

Jika ingin memberi aturan kepada anak, janganlah kita memberikan aturan yang abstrak/kabur dan tidak dimengerti anak. Kalimat, “Jangan nakal!” terdengar sangat abstrak dan tidak ada artinya bagi anak. Begitu juga dengan, “Jangan bikin Bunda marah, ya!” Sementara anak tidak tahu apa saja yang membuat bundanya marah. Sebaiknya katakan bahwa Bunda ingin kalian hanya ingin bermain di halaman.

Hindari pernyataan/kalimat yang berisikan kata “pokoknya” kecuali hal-hal yang bersifat darurat ataupun berbahaya. Untuk situasi darurat ataupun berbahaya, penjelasan dapat diberikan belakangan.

Penjelasan memberikan anak ruang untuk berpikir sendiri sehingga lain waktu anak dapat menerapkan hal yang sama dengan pengalaman yang lalu.
Misalnya, “Adik, taruh kembali gunting itu ditempatnya!” Maka Adik akan bertanya-tanya mengapa? Apakah gunting itu patah? Berbahaya? Atau apa?

Jika kita menjelaskan bahwa gunting itu milik bibi yang sedang menjahit baju, maka anak lain kali akan melakukan hal yang sama (mengembalikan barang yang bukan miliknya).

Semoga bermanfaat ... salam
Pemerhati Dunia Anak
baca selengkapnya- Hematlah Kata "TIDAK dan JANGAN" dalam Dunia Anak

Senin

DUNIA ANAK KREATIF

Salam cerdas kreatif.

Dunia anak adalah dunia yang kreatif. Ini bisa kita lihat dari ciri-ciri umum yang dominan pada anak, yaitu :
1. Spontanitas
2. Rasa tahu yang tinggi
3. Suka hal-hal yang baru.

Dari ciri-ciri ini, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya semua anak adalah kreatif. Semua ciri-ciri anak kreatif ini bisa dikembangkan diciptakan.

Seorang tokoh jenius dan kreatif dunia : Albert Einstein pun berkata bahwa :"Kreativitas itu diciptakan bukan dilahirkan". Einstein berkata seperti itu karena latar belakangnya yang kurang menguntungkan bagi Einstein dan keluarganya.

Jadi bukan semata keturunan seorang anak bisa menjadi kreatif. Namun peran lingkungan dan Anda sebagai orang tua juga sangat berpengaruh bagi perkembangan kreativitas anak.

Untuk mengenali lebih detil tentang ciri anak kreatif, ada beberapa ciri-ciri anak kreatif :

a. Lancar berpikir
Anak bisa memberi banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang Anda berikan. Inilah salah satu kehebatan anak kreatif. Anak mampu memberikan banyak solusi dari sebuah masalah yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan. Dunia ini penuh masalah dan tantangan. Semakin kreatif seseorang, maka ia akan dengan mudah menjawab semua masalah dan tantangan hidupnya dengan kreativitasnya.

b. Fleksibel dalam berpikir
Anak mampu memberi jawaban bervariasi, dapat melihat sutu masalahdalam berbagai sudut pandang (fleksibilitas), sehingga anak akan dengan mudah menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan.

c. Orisinil (asli) dalam berpikir
Anak dapat memberi jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban baru biasanya tidak lazim atau kadang tak terpikirkan orang lain.

d. Elaborasi
Anak mampu menggabungkan atau memberi gagasan-gagasan atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya dengan memperinci sampai hal-hal kecil

Nah setelah kita mengetahui ciri-ciri tersebut,
- Apakah kita sebagai orang tua mampu untuk mempertahankan kreatifitas anak ?
- Apakah kita menerima segala kelebihan dan kekurangan anak kita dan apakah kita mensugesti mereka bahwa mereka mampu atau sebaliknya ?
- Sudahkan kita memberikan waktu, tempat, kemudahan dan bahan-bahan agar anak kita kreatif ?
- Sudahkah kita memberi penguatan terhadap hasil kreasi anak atau justru melemahkannya ?

Semoga bermanfaat ... salam
Dari : Prili , praktisi Mind Mapping dan pemerhati Dunia Anak
baca selengkapnya- DUNIA ANAK KREATIF
Kata Sahabat :