Panduan dan Tips Praktis Edukasi Dunia Anak agar lebih imajinatif, cerdas dan kreatif bersama Mind Mapping, Glenn Doman, Multiple Intellegence, Brain Games, Memory, Dongeng, Cerita, Puisi, Gambar, Kartun Lucu, dan lainnya.

Kumpulan Game Kreatif, Brain Games, Brain Test

Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak Kita. Tampilkan semua postingan

Selasa

Menyikapi Anak Yang Ngambek



Assalamualaikum salam cerdas kreatif,

Sebagai orang tua, apa yang akan kita lakukan???, bila tiba-tiba anak anda ngambek gara-gara ingin mendapatkan suatu barang yang diinginkannya tidak terpenuhi. Mungkin perasaan anda tidak enak karena pasti orang akan mengira anda tidak becus mengurus anak. Daripada ribut, akhirnya Anda pun mengalah, meluluskan permintaan si kecil.

Menurut psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, orangtua tak perlu malu bila anaknya tiba-tiba bertingkah tak menyenangkan di depan umum. Toh, orang lain pun tahu kalau ini bukan masalah orangtua, tapi masalah anak-anak. “Justru yang perlu diupayakan adalah menenangkan si anak agar tak lebih lama mengganggu ketenangan umum. Dengan tegas, angkatlah ia dan ajak pulang. Pengalaman saya, tatap mata anak dan ajak ia pulang. Jangan tatap anak dengan kesal atau memelototinya, ia akan tahu itu dan akan makin keras mengamuk,” terang Doktor Psikologi lulusan Program Pasca Sarjana UI ini. Kata Seto, lebih baik tatap mata si anak dengan penuh kasih. Ia akan mengerti, ibu atau ayahnya tetap menyayanginya dan permintaannya bisa dibicarakan di rumah.

JADI SENJATA
Yang jelas, wajar jika anak kecil gampang meledak atau ngambek. Terlebih anak usia di atas 2 tahun. Saat itu ia sudah dapat mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau kecemasannya. “Untuk anak yang berusia di bawah 2 tahun, sangat gampang mengalihkannya. Misalnya saat ia ngambek, kita tunjukkan cicak di dinding. Atau tunjukkan ia gambar,” bilang Seto. Lain hal dengan anak usia 2 tahun di mana egonya mulai tumbuh. Ia ingin orang lain mengakui keberadaannya. Dengan cara diam, tak mau berpartisipasi atau berguling- guling, ia ingin orang lain mengerti akan kehadiran “aku”-nya yang baru. Ia pun sangat mementingkan diri sendiri. Apa yang diinginkannya harus dituruti segera dan saat itu juga.
Celakanya, jika perilaku tak baik ini tak ditanggulangi dengan baik, maka akan terus berkembang hingga dewasa. “Itu sebabnya ngambek harus diwaspadai sebagai cikal-bakal berbagai tingkah negatif setelah dewasa kelak. Bisa saja kalau keinginannya tak terpenuhi, lantas minggat dari rumah,” jelas Seto.
Apalagi, anak belajar dari lingkungan. Ia akan belajar bagaimana lingkungan meresponnya. Kalau ia ngambek lalu orangtuanya menuruti kehendaknya, maka ngambek akan dijadikan senjata untuk menarik perhatian “kekuasaan” atau orangtua. Dan tingkat ngambeknya juga akan terus meningkat. Beda jika ia ngambek, masalahnya dicoba dipecahkan. Alhasil, ia tak bisa menggunakan hal itu sebagai senjata. Dengan demikian, jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan ngambek, tapi mengacu pada sistem.

UNGKAPAN PROTES
Yang biasanya terjadi, anak ngambek untuk mengungkapkan protesnya atas kesewenangan orangtua. Terutama pada keluarga yang komunikasinya kurang efektif. Entah karena ayah-ibu yang terlalu sibuk sehingga perhatian pada si kecil sangat kurang, atau karena orangtua terlalu otoriter dan mau menang sendiri. Orangtua selalu memaksakan kehendaknya, sehingga tak pernah mendengar hati nurani anak. “Nah, anak akan merasa diperlakukan tak adil!” tukas Seto. Misalnya saja, pada saat anak minta mainan, orangtua langsung bilang, “Tidak! Mainan kamu sudah terlalu banyak!”
Padahal mungkin saja mainan yang banyak itu dibeli atas inisiatif orangtuanya yang saat membeli, suasana hatinya sedang senang, uang lagi banyak. Padahal, bisa saja si anak sebenarnya sedang tak butuh mainan. Nah, giliran ia memerlukan, justru orangtua berkata tidak. Anak pun merasa diperlakukan tak adil. Semuanya hanya dilihat dari sudut pandang orangtua, tak melalui suatu dialog yang demokratis. Akibatnya, anak frustrasi dan perasaan itu dilampiaskannya dengan cara ngambek.

METODE ANTI KALAH
Harus bagaimanakah kita bersikap? Yang jelas, kita mesti lebih membuka diri, sehingga anak dapat melampiaskan keinginan-keinginannya secara wajar. “Jadilah pendengar yang baik,” anjur Seto. Saat kumpul bersama keluarga, misalnya, ayah dan ibu harus mau mendengar dan menerima permintaan atau keluhan-keluhan anak. Jika anak minta dibelikan buku dan stiker, misalnya, tanyakan padanya, apakah itu sebuah kebutuhan atau keinginan. “Mana yang paling perlu? Buku atau stiker?” Anak pun akhirnya belajar, mana yang penting dan tidak. Kalaupun ia ingin protes, boleh-boleh saja sepanjang diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan bukan tingkah laku ngambek atau membanting pintu.
Tak ada salahnya anak ikut tahu kondisi keuangan ayah dan ibunya sehingga ia tahu persis, orangtua belum bisa memenuhi keinginannya. “Jadi, semuanya harus melalui dialog atau komunikasi,” tandas Seto. Cara lain untuk mengendalikan anak ngambek, adalah metode “anti-kalah” atau musyawarah dalam keluarga. “Tak ada yang kalah atau menang.” Lagi-lagi, dengan cara membuka dialog. Misalnya, “Yuk, kita bicarakan hal ini di rumah. Apa yang kamu mau, akan kita bicarakan dulu. Kalau memang diputuskan untuk dibeli, kita bisa kembali lagi besok.” Alhasil, titik temu yang memuaskan kedua belah pihak pun didapat. “Anak juga sekaligus belajar bahwa ia tak akan berhasil memenuhi keinginannya dengan cara ngambek,” kata Seto.

TENANG DAN KONSISTEN
Seto mengakui, memang bukan pekerjaan mudah mengajak bicara anak kecil yang tengah ngadat. Ia akan melawan, bersikukuh, alias mau menang sendiri. “Makanya, hadapi ia dengan sikap tenang. Kalau kita tampak panik, malu, atau marah-marah, anak malah jadi tambah bertingkah. Tenang, senyum, dan perlihatkan kita tetap menghargainya.
Nah, biasanya ngambeknya akan sedikit lumer,” papar anggota Creative Education Foundation ini. Orangtua bisa berujar, “Ibu tahu kamu kecewa, sedih. Sekarang kita pulang dulu, yuk! Nanti kita bicarakan di rumah. Ibu mau dengar apa maumu.” Lewat ucapan seperti itu, anak tahu, kita mengerti akan kemarahan atau kekecewaannya dan kita bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. “Anak juga akan sadar, ia boleh marah tapi cara marahnya harus baik. Tidak dengan berguling-guling di depan umum. Dari situ ia akan merasa dihargai,” lanjut anggota World Council for Gifted & Talented Children ini. Di sisi lain, anak juga menjadi paham, ayah atau ibunya sudah berubah. Yang biasanya marah-marah, sekarang tak begitu lagi. “Tentunya orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Tiba di rumah, ia harus mau mendengarkan keluhan-keluhan anak dan sama-sama mencari pemecahannya,” kata Seto.

BIKIN “PERJANJIAN”
Sikap pasif orangtua saat anaknya ngambek dengan cara membiarkan atau meninggalkan anak, tak terlalu disetujui pakar psikologi anak ini. “Ada kan, orangtua yang begitu. Anaknya dibiarkan dengan harapan kemarahan anak akan reda dengan sendirinya. Padahal, justru sikap seperti itu bisa membuat anak makin kecewa dan frustrasi. Bisa saja ngambeknya kemudian dialihkan di rumah karena masalah utamanya tak diselesaikan,” tutur anggota International Council of Psychologists ini. Padahal, tutur Seto lebih jauh, tak ada salahnya orangtua bersikap sedikit “merendah” dalam arti mau mendengarkan anak. Sebaliknya, orangtua pun harus berani mengungkapkan segala perasannya secara jujur. Kalau ingin marah, ya, kemukakan saja. Misalnya, “Ibu marah, lo, kalau kamu bersikap begini. Ibu kecewa.”

Jika anak tetap sajangambek, berarti masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Bisa saja orangtua belum sadar tentang hak-hak anak. Hak untuk bermain, berpartisipasi, dan didengarkan oleh lingkungannya. “Tidak jadi robot terus!” tukas Seto. Jika ia tak mendapat hak-hak tadi, “Anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya,” tandas peraih penghargaan The Golden Baloon Award, New York ini.

Selain itu, Seto juga menyarankan agar para orangtua bisa mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang rawan konflik. Misalnya, kalau kemungkinan ia akan ngadat saat diajak ke mal, persiapkan sebelumnya. “Mama mau ajak kamu ke mal, tapi janji, hanya boleh minta satu barang saja. Kamu nanti mau minta apa? Stiker atau boneka? Pilih salah satu, tidak boleh lebih dari itu.” Nah, karena si kecil dilibatkan dalam perencanaannya, ia pun biasanya akan menepati janji karena merasa dirinya dihargai. Bisa juga ditambahkan dalam “perjanjian” itu, apa sanksinya jika si kecil ingkar janji. Misalnya, pada kepergian berikut, ia tak boleh ikut lagi.

HUKUMAN DAN PUJIAN
Dengan menegakkan demokrasi di rumah, anak akan terhindar dari rasa frustrasi. Sebab itulah, sejak anak bisa diajak bicara, sebaiknya biasakan diajak bicara. Anak pun akan merasa dihargai. “Kalau ia biasa dihargai, dipercaya, dan egonya diakui, maka ia akan lebih percaya diri dan tidak mudah ngambek,” kata Seto. Perlukah hukuman diberlakukan dalam hal ini? “Bisa saja, tapi bukan dalam bentuk pukulan atau cubitan. Melainkan dalam bentuk tak dipenuhinya keinginan itu. Biasanya ibu senyum, kok, kali ini tidak dan mukanya datar. Itu saja bagi anak yang peka sudah berarti hukuman,” jelas Seto. Namun, jangan lupa pula memberinya pujian jika ia berkelakuan baik dan dapat menghilangkan sifat ngambeknya.

Sumber : tabloid-nakita.com
baca selengkapnya- Menyikapi Anak Yang Ngambek

Alhamdulillah Kembali Lagi Blog Tercinta Ini



Assalamulaikum sobat2 semua, tetap salam cerdas kreatif ya :)

Alhamdulillah setelah dengan berbagai upaya dan doa yang tak kenal lelah, akhirnya bisa kembali juga blog kami yang tercinta ini. Semoga yang telah menghack akun kami diberikan hidayahNYA, aamiin.

Mohon maaf kepada semua atas kevakuman Dunia Anak Kita, InsyaAllah mulai sekarang kita bisa berbagi kembali. Terima kasih semoga Allah slalu melindungi dan memberikan hidayahNYA kepada kita semua, amin Allahummma aamiin.


baca selengkapnya- Alhamdulillah Kembali Lagi Blog Tercinta Ini

Rabu

Agar Dunia Anak Kita Cerdas dan Kreatif

Assalamualikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Semua anak memiliki bakat untuk menjadi anak yang cerdas dan kreatif. Hanya sering karena tidak terlatih, maka kemampuan masing2 anak berbeda. Ada yang punya prestasi bagus, bakat yang terampil dll. Untuk itu kKita sebagai orang tua perlu melatih gar mereka dapat mengembangkan kemampuan anak2 tersebut. Lalu bagaimana untuk bisa melatih anak agar menjadikan dunia anak kita, dunia anak yang cerdas dan kreatif?

Berikut langkah-langkah agar dunia anak kita cerdas & kreatif :

1. Berkreasi setiap hari
Untuk menunjukkan kepedulian kita pada sang buah hati dalam berkreasi, marilah kita ajarkan buah hati kita untuk membuat sesuatu yang kreatif. Misalnya dengan menggambar, melipat kertas, bermain game ( porsi yang semestinya), bermain permainan-permaian edukatif, bernyanyi, bercerita, dan masih banyak lagi. Usahakanlah untuk bisa menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang pernah dilakukan oleh sang buah hati, sehingga anak tidak merasa bosan dan terpacu untuk lebih berpikiran kreatif.

2.Menggunakan ke dua sisi tubuh
Hal ini memang tidak lazim dilakukan. Namun bila buah hati kita kita latih sejak dini untuk melakukan hal ini, maka hal ini akan sangat bermanfaat di kemuadian hari. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melatih anak melakukan sesuatu menggunakan kedua sisi tubuh. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menggambar atau mewarnai menggunakan tangan yang biasa digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, buah hati kita biasa menggunakan tangan kanan saat melakukan aktivitas sehari-hari (menulis, sikat gigi, makan, dll). Maka kita ajari mereka menggunakan tangan kiri saat menggambar. Akan lebih baik lagi bila dalam aktivitas sehari-hari pun mereka juga terlatih untuk menggunakan tangan yang bergantian. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri.

3. Memiliki tokoh yang bisa diteladani dan diidolakan

Dengan memperkenalkan banyak tokoh dunia yang telah sukses, anak-anak menjadi tahu berbagai macam kepribadian dan prestasi dari orang lain. Hal ini sangat penting. Kenapa? Karena anak-anak suka sekali meniru orang lain. Tokoh-tokoh ini bisa seorang pahlawan, penemu, rohaniwan, dan tokoh-tokoh lain yang bisa menjadi teladan buat sang buah hati. Jangan sampai buah hati kita hanya mengidolakan tokoh-tokoh kartun atau film (seperti Tom and Jerry, Superman, Batman, dll). Hal ini memang tidak dilarang, namun akan lebih baik bila tokoh-tokoh tersebut adalah seseorang yang nyata sehingga bisa menumbuhkan motovasi anak untuk meniru hal-hal yang baik di dalam diri tokoh tersbut, lalu diteladani dalam kehidupan yang nyata.

4. Meningkatkan perbedaharaan kata pada anak

Semakin tinggi perbedaharaan kata anak, maka seorang anak akan menjadi lebih mudah dalam memahami seseuatu. Misalnya pada saat membaca. Bila buah hati kita banyak mengetahui makna kata yang dia baca di dalam sebuah artikel, maka mereka akan lebih mudah memahami isi artikel yang ia baca. Dengan mengerti isi artikel yang ia baca, maka pengetahuan si kecil pun menjadi lebih luas.

5. Melatih kemapuan mendengar anak
Secara pribadi, sebagai guru bahasa Inggris, saya sering menggunakan media audio sebagai media pembelajaran anak. Misalnya, dengan menggunakan Tape dan Laoudspeaker. Alat-alat tersebut saya gunakan saat melatih kemampuan mendengar anak-anak dalam belajar bahasa Inggris. Untuk melatih penglihatan, mungkin akan lebih mudah karena pada saat melihat TV pun anak-anak sudah belajar mengerti sesuatu dengan indera penglihatan. Agar indera pendengaran bisa terlatih dengan baik, alangkah lebih baik bila kita sering-sering mengajak anak untuk mendengarkan lagu atau cerita lalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan lagu atau cerita tersebut (misalnya dengan cara tebak-tebakan).

6. Menggunakan warna-warni saat bermain dan belajar
Mengapa mainan anak-anak berwarna-warni? Mungkin sebagian dari kita warna-warni hanya digunakan untuk menarik minat anak-anak untuk membeli mainan yang ditawarkan. Namun sebenarnya ada fungsi lain yang lebih bermanfaat. Warna-warni yang biasa dipakai dalam mainan anak ternyata juga bisa mengaktifkan otak kanan. Jadi pada saat buah hati kita belajar menulis, menggambar, dan mewarnai, usahakan menggunakan pensil atau peralatan lain yang berwarna-warni.

7. Melatih ketelitian anak
Saat anak melihat sebuah gambar jerapah, akan lebih mudah bagi anak untuk mengatakan bahwa itu adalah seekor jerapah, daripada melihat kaki jerapah yang panjang dan meminta anak menyebutkan alasan kenapa kaki jerapah begitu panjang. Mengapa hal ini sangat penting? Karena dengan membiasakan anak untuk belajar sesuatu secara lebih mendetail atau kompleks, maka anak-anak akan menjadi lebih termotivasi untuk “mengenal secara lebih” tentang sesuatu yang sudah mereka ketahui. Sehingga kelak setelah mereka dewasa, mereka tidak hanya tertarik untuk menggunakan sesuatu yang telah ada, namun menemukan hal-hal baru lain tentang sesuatu yang pernah ia pakai dan menciptakan sesuatu yang baru lewat sesuatu yang telah ada (semoga bahasanya bisa dipahami).

8. Memberikan liburan yang kreatif
Liburan yang kreatif tidak harus mahal, namun yang terpenting adalah sesuai dengan minat anak. Hal ini bahkan bisa dilakukan di rumah. Misalnya dengan berkebun, mendekorasi rumah, membuat kreasi pernik-pernik, dan masih banyak lagi. Bila perlu kita juga mengajak anak berlibur di luar rumah, misalnya ke tempat wisata yang memiliki permainan outbound. Anak-anak aktif biasanya akan menyukai hal ini, karena segala “emosi dan jiwa” mereka bisa tersalurkan dengan baik. Selain itu, dari pembinaan kakak outbound, anak akan mendapatkan banyak pelajaran tentang arti kerjasama, toleransi, sosialisasi, dan lain-lain. Anak aktif juga harus memiliki moral dan etika yang baik kan? Selain itu diperlukan juga….

9. Jangan terlalu serius dalam mendidik
Suasana keluarga yang terlalu serius dan kaku, biasanya juga kurang mendukung kreatifitas anak untuk bisa berkembang. Gurauan dan humor-humor kecil sangatlah penting di dalam sebuah keluarga. Kita bisa mengajak buah hati kita bercanda pada saat-saat santai, membacakan cerita humor, menceritakan pengalaman sehari-hari yang lucu, dan masih banyak lagi cara lain yang bisa membuat anak merasa rileks saat bertemu dengan orang tuanya. Hal ini juga akan membuat anak merasakan suka cita saat berada di dalam rumah, sehingga anak-anak kita pun bisa lebih ekspresif terutama yang berhubungan dengan kreatifitas yang dia minati dan bakat yang dimiliki.

10. Melatih kemampuan otak kanan

Dengan mengajak anak-anak bernyanyi, berpuisi, menggambar, dan berbagai macam kegiatan kreatif lainnya, kemapuan otak kanan akan bekerja dengan lebih optimal. Di sekolah, biasanya anak-anak akan lebih cenderung menggunakan otak kiri, dan bila kemampuan otak kanan dan kiri bisa bekerja dengan baik dan seimbang, maka anak-anak tidak hanya akan berpeluang mendapatkan prestasi di bidang akademisa saja, melainkan bisa meraih prestasi-prestasi di bidang yang lain, misalnya kesenian.

Wassalam,

sumber: http://forum.kompas.com/keluarga/40115-menstimulasi-kreatifitas-anak-secara-kreatif.html
baca selengkapnya- Agar Dunia Anak Kita Cerdas dan Kreatif

Sabtu

Liburan Di Rumah Juga Menyenangkan

Liburan di rumah bisa menjadi sangat menyenangkan jika didisi dengan kegiatan bermanfaat. Liburan di rumah juga hemat karena tidak terlalu mengeluarkan biaya atau hanya mengeluarkan sedikit saja.
  • Melakukan Hobi
    Anda hobi menonton film, membaca novel atau buku, memasak, memancing atau hobi bermain futsal yang biasanya tidak sempat dilakukan waktu bekerja atau kuliah. Inilah saatnya.
  • Mencoba Hal Baru: Memasak (bagi yang tidak hobi memasak)
    Mencoba berbagai hal baru di rumah? Kenapa tidak? Banyak hal yang bisa dilakukan seperti memasak atau mencoba ketrampilan lainnya. Siapa tahu Anda menemukan bakat baru Anda seperti membuat kue misalnya? Atau ternyata masakan Ayam Semur Anda sangat enak? Bagi Anda yang terbiasa bekerja atau mahasiswa, memasak adalah hal yang tidak umum dilakukan karena menyita waktu. Nah, di liburan yang panjang ini, Anda bsia belajar memasak. Berbagai acara masak-masak di TV dapat menjadi rujukan untuk Anda dalam berkreasi di dapur. Memasak juga tidak terbatas pada perempuan, justru banyak ‘chef’ laki-laki yang terkenal. Resep bisa dicari online atau majalah. Tinggal memasak saja!
  • Bekerja paruh waktu atau magang sementara
    Bekerja paruh waku tidak identik dengan kebutuhan tambahan penghasilan, meskipun kebanyak orang bekerja paruh waktu untuk uang. Anda tipe pekerja keras dan menikmati pekerjaan? Beberapa orang menganggap bekerja itu menyenangkan sehingga bagi mereka bekerja serasa liburan. Maka ketika libur justru ingin bekerja! Hal itu sama sekali tidak ada salahnya. Ketika kesempatan untuk bekerja paruh waktu atau magang ada, tidak ada salahnya dicoba. Hal yang paling menguntungkan adalah Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan dan mencoba pengalaman bekerja yang berbeda. Bagi mahasiswa, magang adalah kegiatan yang sangat bermanfaat karena Anda akan menghadapinya nanti setelah lulus, apalagi kalau sampai Anda digaji. Pengalaman magang juga menambah poin tersendiri di CV Anda!
Selamat menikmati liburan Anda!
baca selengkapnya- Liburan Di Rumah Juga Menyenangkan

Jumat

Mau Tahu Ekspresi Anak-Anak Saat Cukur Rambut?

Assalamaualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Pernahkah kita mengamati ekspresi yang ditunjukkan anak-anak saat mereka sedang atau mendapatkan sesuatu?. Nah kalau belum dan mau tahu?, ini ada contoh ekpresi anak-anak dari berbagai dunia saat mereka dicukur.

Ini Ekspresinya :



















Bagaimana pendapat sobat?

Sumber: vivanews.com
baca selengkapnya- Mau Tahu Ekspresi Anak-Anak Saat Cukur Rambut?

Rabu

Masih Adakah Dunia Anak Kita Sekarang?

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Dulu sejak kita kecil, sangat marak lagu anak-anak yang di sajikan TV (dulu baru ada 1 stasiun TV: TVRI). Bu Kasur, Pak Kasur, Papa T. Bob, dll merupakan pengarang lagu anak-anak yang sangat kreatif dan mendidik. Seperti: Bintang kecil, di langit yang biru….... Lagu itu mengajarkan anak tentang pengetahuan isi alam.

Contoh lain: Cicak-cicak di dinding… diam-diam merayap…. ada seekor nyamuk, hep lalu ditangkap. Lagu itu sekilas ga ada maknanya, namun kalo kita nyanyikan di depan balita, kabarnya akan sangat membantu kecerdasan motorik dan membuat dia ketawa atau senyum karena ada kata: hep! Dengan intonasi tinggi, sehingga si kecil jadi tertarik. Belum lagi lagu itu mengenalkan tentang jenis binatang cicak yang hidupnya di dinding-dinding rumah dengan merayap… dan seterusnya. Pokokya, banyak deh lagu anak-anak dulu yang sarat muatan pendidikan.

Tetapi sekarang anak-anak kecil sudah dengan lantang menyanyikan lagu-lagu dengan tema perselingkuhan. Bayangkan ada anak usia 7 tahun yang dengan mantapnya menyanyi lagu dengan syair, “Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia” ya tiba-tiba aja lagu-lagu anak-anak menghilang, digantikan dengan lagu-lagu dewasa dengan syair yang juga pastinya tidak pas dan tidak pantas buat anak-anak.

Dahulu kita mengenal penyanyi anak-anak seperti Tasya, setelah sebelumnya ada Trio Kwek-kwek, Melissa, Chikita, Meidy.., Sherina, dan lain-lain. Lagu sherina terakhir yang cukup bagus adalah andai aku tlah dewasa. Tapi sayangnya setelah mereka besar tidak ada pelanjut yang meneruskan, maka sekarang anak-anak menjadikan Matta, Ungu, smash, nidji, boys & gir bandsebagai idola baru. Akibatnya, banyak anak kecil yang hafal syair lagu orang dewasa, minimal mereka tahu reff lagu-lagu dewasa yang lagi ngetop. Anak kecil umur 2,5 tahun dah hafal lagunya band MATTA…. Oo… kamu ketahuan, pacaran lagi! Mereka sangat hafal lagu: BCL, Ungu, Letto, Nidji, Samson, Peterpen, Mulan Jameela, Maia and Friends, dll….. Lebih prihatin lagi, banyak orang tua mereka justru bangga kalo anaknya bisa nyanyi lagu-lagu orang dewasa. Sungguh ironi yang menyedihkan

Memang saat ini ada program yang menyaring bintang-bintang baru dari dunia anak. Tetapi sangat disayangkan, semua itu hanya berbau bisnis. Maka anak-anak kembali dipaksa untuk tampil menyanyikan lagu-lagu bertema dewasa yang parahnya aksi dan dandanan panggung mereka coba disesuaikan dengan ban-band dewasa tersebut. Begitu sedih melihatnya ketika anak-anak kehilangan gaya spontannya, mereka telah diatur selayaknya robot.

Selain hilangnya lagu-lagu anak-anak juga kehilangan tontonan yang mendidik. Dulu banyak acara-acara anak-anak yang mendidik seperti film si unyil. Sekarang tidak jelas mana tontonan untuk orang dewasa dan mana yang untuk anak-anak, malah ada acara untuk anak yang bagus, tetapi bukan dari Indonesia, yaitu Upin Ipin. Maka tidak heran ketika tontonan smackdown yang sejatinya tidak layak di tonton oleh anak-anak, menjadi tontonan favorit. Yang menyedihkan,ketika apa yang mereka tonton dari tayangan tersebut mereka tirukan dengan kawan-kawan sekolahnya yang menyebabkan banyak jatuhnya korban baik yang meninggal maupun yang hanya cedera.

Fenomena ini sesungguhnya tidak baik dan harus segera di cari solusinya. Sebetulnya kalau mau jujur masa kanak-kanak adalah masa-masa pembentukan dan perkembangan diri seorang manusia. Apa yang dialami di dunia anak-anak akan mengendap dalam otak bawah sadarnya biasanya akan terbawa dan mempengaruhi pembentukan masa depannya. Ya, anak-anak adalah peniru yang baik. Seperti dalam tayangan sebuah iklan televisi, mereka akan cepat menirukan apa yang mereka lihat

Dulu sekali, ketika TVRI masih satu-satunya stasiun televisi di negeri ini, tidak banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya di depan televisi. Mereka lebih senang berkeliaran di lapangan bola, main mobil-mobilan di lapangan, atau bernyanyi-nyanyi kecil di bawah sinar purnama (oh indahnya). Mereka bermain bersama-sama, tertawa, dan tidak jarang pula bertengkar. Keadaan sudah berubah kini, sudah lain sama sekali. Saat ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi, entah itu menonton film atau bermain playstation. Petak umpat, galasin, tok kadal, dan permainan anak-anak lainnya kini mulai hilang (khusus di Jakarta, saya tidak tahu di kota sahabat lainnya), mulai jarang ditemukan lagi (bahkan mungkin sudah punah).

Kini teknologi menggantikan itu semua Aneka produk permainan, mulai dari Nintendo, playstation, x-box, hingga game-game PC merebak dipasaran. Semuanya menggiurkan dan tentunya mengasyikan. Namun dampak dari game-game tersebut rupanya banyak dikhawatirkan orang. Terutama pengaruh game tersebut pada perkembangan psikologis anak.

Belum lagi godaan dunia maya yang sangat ampuh. Dimana filterisasi sangat tipis. Hingga banyak conten-conten yang seharusnya miliki orang dewasa, menjadi tontonan sekaligus tuntanan anak-anak sekarang Banyak orang tua yang mengeluhkan anak mereka yang sering lupa waktu. Mereka jadi sulit perintah, sulit disuruh dan selalu menunda-nunda tugas sekolah. Mereka banyak tumbuh menjadi makhluk-makhluk individualis yang jarang bermain keluar dan bersosial dengan anak-anak lainnya
Anak-anak seharusnya memang dibiarkan bermain bebas bersama kawan-kawannya.

Karena dengan begitu mereka akan belajar bersosialisasi, beradaptasi, dan belajar memahami bahwa di luar sana banyak sekali perbedaan yang harus mereka terima. Juga agar mereka menyadari bahwa hidup tidaklah sesempit ruang kamar dan layar televisi. Tidak hanya itu, mereka juga harus belajar untuk bekerja sama dengan kawan-kawannya.

Yuk, kita temukan dunia anak kita yang sejati dengan terus membimbing dan mengarahkan anak kita sesuai dengan dunianya yaitu dunia anak kita!

Semoga bermanfaat, wassalam :)
baca selengkapnya- Masih Adakah Dunia Anak Kita Sekarang?

Jumat

Kapan Mengajak Anak Bermain Mainan Edukatif?

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Kapan ya mengajak anak-anak kita untuk bermain mainan edukatif?
Meski memiliki manfaat melimpah, bukan berarti anak bisa dijejali dengan mainan edukatif terus-menerus. Mainan edukatif hanya salah satu faktor pendukung perkembangan otak anak agar lebih maksimal. Jadi tak perlu memaksa atau memorsir anak untuk melakukan permainan edukatif setiap saat.

Selain mainan edukatif, anak juga perlu dikenalkan dengan mainan pada umumnya, seperti boneka, mobil-mobilan, dan mainan-mainan yang tidak untuk dibongkar pasang lainnya. Walau tidak termasuk mainan edukatif, tapi mainanmainan seperti itu tetap dapat menyumbangkan manfaat edukasi pada si kecil. Dengan konsep multiple intelligence edukasi bisa mencakup berbagai hal. Tidak selalu mengarah pada konsep-konsep dasar.

Misalnya begini, saat si kecil asyik bermain boneka, sebenarnya ia dilatih untuk melakukan interaksi dengan orang lain melalui boneka tersebut. Bagaimana dia harus "memperlakukan" si boneka dengan kasih sayang; disuapi, ditimang, disusui, dan tidak dibanting atau dinjak-injak. Motorik halus dan kasar si kecil juga tetap dapat terstimulasi secara tak langsung saat ia memakaikan baju pada bonekanya. Anak juga dapat mengenal warna serta peran sosial sebagai ibu, kakak, dan sebagainya.

Semoga bermanfaat, wassalam :)

Sumber: omahku.com
baca selengkapnya- Kapan Mengajak Anak Bermain Mainan Edukatif?

Kamis

Usia Pra-Sekolah, Untuk Belajar Atau Bermain?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Seorang Ibu di New York menuntut sebuah pra sekolah anaknya bernama York Avenue Preschool ke pengadilan, karena merasa kecewa putrinya yang sudah dimasukkan di sekolah mahal dengan biaya US$ 19 ribu atau Rp 175 juta ternyata tidak belajar maksimal dan hanya mengerti masalah bentuk dan warna.

Ibu bernama Nicole Imprescia yang tinggal di Manhattan New York ini mengajukan gugatan ke pengadilan New York karena merasa ditipu sudah mengeluarkan biaya besar tapi anaknya tidak mengerti baca, tulis dan hitung. Dia menuntut agar biaya yang sudah dikeluarkan senilai US$ 19 ribu itu dikembalikan.

"Ini adalah sebuah pencurian dengan mengiklankan pendidikan yang bagus tapi kenyataannya tidak seperti itu," kata pengacara Nicole, Mathew Paulose seperti diberitakan dari Time, Kamis (9/6/2011).

Menurut Nicole, dirinya memasukkan putrinya Lucia (4 tahun) ke sekolah mahal itu dengan harapan si anak bisa belajar maksimal untuk mempersiapkan masa depannya masuk ke sekolah SD hingga perguruan tinggi bergengsi karena dari kecil sudah memiliki dasar pendidikan yang kuat.

"Tapi ternyata ini bukan sekolah sama sekali, tetapi hanya satu ruang bermain yang besar," kata Nicole yang mendapati anaknya hanya bisa mengenal bentuk dan warna bukan belajar membaca, menulis dan berhitung.

Kasus ini akhirnya menjadi perbincangan serius di kalangan pendidik dan orangtua. Ada pertanyaan besar, sebenarnya apa tujuan dari pra sekolah anak tersebut. Apakah lebih baik membiarkan anak bermain dan bersosialisasi atau menyiapakan anak siap masuk sekolah dasar dengan mengerti baca, tulis, hitung.

Kathleen McCartney, PhD, dekan dari Harvard Graduate School of Education di Cambridge, Massachusetts menuturkan saat preschool anak-anak memang mengenal angka, huruf, bentuk, tapi yang lebih penting adalah belajar bagaimana bersosialisasi serta bergaul dengan anak-anak lainnya.

Karena pendidikan pra sekolah biasanya dimaksudkan untuk mempersiapkan anak sebelum masuk sekolah taman kanak-kanak, karena ia memberikan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya.

Anak-anak kecil perlu mengembangkan keterampilan untuk berbagi perasaan atau belajar berperilaku. Dengan cara ini diharapkan anak-anak yang masuk pendidikan pra sekolah bisa belajar mengenai keterampilan sosial.

Pada pendidikan pra sekolah anak-anak biasanya mendapatkan pendidikan dan juga bermain secara bersama-sama. Hal ini karena bermain adalah konteks terbaik bagi anak-anak untuk belajar.

Umumnya anak-anak mulai dimasukkan ke dalam pendidikan pra sekolah saat ia berusia 3-4 tahun, yang mana ia sudah bisa mengucapkan kata-kata meskipun kadang belum terlalu jelas dan sudah mengerti serta memahami suatu perintah.

Sebelum menentukan sekolah untuk pendidikan pra sekolah anak, maka orangtua perlu mengetahui sekolah mana yang baik untuk anaknya.

Banyak pilihan sekolah yang ada saat ini mulai dari sekolah milik negeri, sekolah berbasis agama, sekolah internasional atau sekolah dengan pola khusus seperti sekolah alam.

Tapi Anda harus cermat untuk memilih sekolah mana yang bagus untuk si kecil, karena sekolah juga menentukan masa depan dan perilakunya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah TK dan SD yang baik untuk anak. Yang terpenting kata pakar dan praktisi pendidikan anak Arif Rachman, dalam sekolah tersebut terdapat sentral bermain anak untuk mengembangkan 5 hal penting, yaitu spiritual, emosional, jasmani, intelektual, dan sosialnya, yang dikemas dalam kegiatan belajar mengajarnya.

Dalam memilih sekolah sebaiknya pilihlah sekolah yang tertib, teratur dan bersih, karena lingkungan sekitar sekolah juga mempengaruhi proses belajar mengajar anak-anak.

Lingkungan yang tidak kondusif bisa merusak konsentrasi anak ketika sedang belajar. Serta pastikan bahwa sekolah tersebut mempunyai visi dan misi yang tidak melanggar Undang-Undang Pendidikan.

Selain lingkungan serta visi dan misi sekolah tersebut, hal yang penting untuk diperhatikan adalah guru-guru dari sekolah tersebut.

"Untuk guru TK sebaiknya telah mendapatkan pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sedangkan untuk sekolah dasar sebaiknya memiliki pendidikan minimal S1 dan untuk guru kelas 1, 2, dan 3 yang mengajar semua mata pelajaran sebaiknya juga mendapatkan pendidikan PAUD," ujar Arif.


Beberapa tips memilih sekolah yang baik untuk anak:

Untuk memilih sekolah dasar bisa dilihat dari output yang dihasilkan. Seperti berapa banyak lulusan sekolah dasar tersebut yang bisa masuk ke SMP unggulan. Karena banyaknya lulusan yang bisa masuk sekolah unggulan berarti sekolah tersebut mempunyai sistem pembelajaran yang bagus.

Untuk memilih taman kanak-kanak pilihlah TK yang mempunyai sistem belajar yang baik dalam hal belajar menulis, membaca dan sosial.

Sebelum masuk taman kanak-kanak tidak ada salahnya memasukkan anak anda ke PAUD. Karena di PAUD anak Anda bisa belajar bersosialisasi dengan teman-temannya, diajarkan bernyanyi, menulis dan membaca. Dan PAUD memberikan kegiatan yang positif untuk anak.

Anak-anak SD sebaiknya diberikan kegiatan intra, ekstra dan co-kurikuler yang seimbang, sehingga didapatkan kemampuan intelektual dan sosial yang seimbang.
Sedangkan untuk TK pilihlah TK dengan metode bermain sambil belajar dibandingkan dengan program belajar secara klasik.

"Untuk memilih sekolah TK dan SD, pilihlah sekolah yang memiliki jarak tidak terlalu jauh dengan rumah, sehingga anak masih mempunyai waktu yang cukup untuk berkumpul dengan keluarga, dan bermain dengan orang tua, untuk orang tua yang sibuk pastikan bahwa pengasuh anak kita mempunyai pendidikan yang baik," jelas Arif.

Yang tak kalah penting dibutuhkan kerjasama yang baik antara guru di sekolah dengan orang tua dirumah dan juga dengan pengasuhnya. Tujuannya agar apa yang sudah diajarkan di sekolah bisa tetap dilanjutkan di rumah, sehingga anak bisa memiliki intelektual, emosional, spiritual, jasmani dan sosial yang bagus.

Semoga bermanfaat, wassalam.

Intisari sumber: suaramerdia.com
baca selengkapnya- Usia Pra-Sekolah, Untuk Belajar Atau Bermain?
Kata Sahabat :